google0bd4cb5486ad7f54.html Pikiran Kristus

© 2023 by AHFA. Proudly created with Wix.com

  • Grey Pinterest Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • michael@adventvision.com

Pikiran Kristus

Benar Sampai Terbukti Bersalah

    

Setiap bayi itu cantik, elok dan indah dilihat.  Bukankah itu pendapat setiap orangtua yang bangga melihat mahluk manusia kecil tidur dengan damai?  


Suatu gambaran yang tepat atas kepolosan.  Mungkin hanya inilah satu-satunya momen dalam hidup ketika seorang manusia tidak memiliki cacat dari noda kejahatan.


Tetapi tunggu!   Ada orang yang melihat akan bayi yang sama dan melihat sesuatu yang sangat berbeda. 


Bukannya manis tanpa cela, mereka melihat seorang bayi lahir di alam dengan warisan dosa sehingga bayi itu dianggap hilang dan terkutuk ketika menarik napas pertama, sebuah paket kecil kehidupan yang tercemar dengan dosa Adam dan Hawa, meskipun "asal mula dosa" itu terjadi ribuan tahun yang lalu.


Apa yang Alkitab ajarkan?   Apakah bayi yang baru lahir tidak bersalah atau bersalah?  


Dan apa artinya hal ini bagi orang dewasa, baik orang Kristen atau bukan?  Apakah mereka hidup terus-menerus dalam keadaan dosa, membutuhkan pengampunan dosa secara konstan dari sifat alami yang sudah rusak? 


Mungkinkah kita telah salah mengerti atas pertanyaan mendasar, seperti Apakah dosa itu?  Untuk lebih tepatnya, apakah sifat dosa itu dimana kita dikutuk dan hilang untuk selamanya?

    

Mari kita lihat beberapa ayat alkitab yang mudah dimengerti.  "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa. " (Yakobus 4:17). 


Sekarang pertanyaannya, apakah bayi tahu perbedaan antara benar dan salah?  Dan apakah mungkin bahwa kita juga tidak selalu tahu hal yang benar untuk dilakukan atau dikatakan, dan tanpa disadari kita telah melakukan atau mengatakan hal yang salah? 


Dalam kedua situasi tersebut - baik bayi atau orang dewasa - dosa belum terjadi.  Sebuah kesalahan, ya, tapi tidak ada dosa dan tidak ada rasa bersalah.


Mungkin Yesus dapat membantu kita untuk lebih mengerti. 


Suatu hari ketika berbicara kepada orang Farisi, "Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu" (Yohanes 9:41). 


Yesus mengatakan kepada mereka bahwa dosa tidak dihitung sebagai rasa bersalah ketika tidak ada kesempatan untuk mengetahui apa yang benar.  Orang-orang Farisi sudah pasti dilahirkan dengan sifat lemah yang sama dengan yang kita dilahirkan, tapi ini tidak otomatis membuat mereka berdosa.


Pada kesempatan lain Yesus berkata, "Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun Bapa-Ku." (Yohanes 15:24). 


Hanya ketika terang -Yesus- datang kepada mereka, dan mereka memilih untuk menolak terang itu, ketika itulah mereka dianggap bersalah karena dosa.  Lihat Yohanes 3:19.

    

Jadi, apakah Alkitab mengatakan kepada kita bahwa tuduhan dan rasa bersalah bukan hak warisan kelahiran kita dan bahwa kita tidak secara otomatis hidup dalam keadaan berdosa karena dosa Adam "yang mula mula"? 


Apakah Alkitab mengatakan kepada kita bahwa untuk menjadi berdosa kita harus lebih dahulu mengerti apa yang benar, dan kemudian dengan sengaja memilih untuk menolak kebenaran dan melakukan apa yang dilarang Allah? 


Dengan demikian bayi itu mungkin tidak bersalah, dan tidak perlu segera dibaptis untuk membersihkan rasa bersalah yang dianggap warisan dari Adam dan Hawa.  Dan kita tidak hidup dalam keadaan konstan berdosa hanya karena sifat bawaan kita yang sudah jatuh.


Ini berarti bahwa dosa dan rasa bersalah muncul dan menjadi ada bagi kita hanya ketika kita memiliki "terang."  Hanya ketika kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan, dan kita menolak untuk melakukannya (Yakobus 4:17), kita menjadi orang-orang berdosa, yang membutuhkan pengampunan dan penyucian. 


Dosa bukanlah sebuah kecelakaan karena kita lahir di dunia yang penuh dosa dengan sifat yang sudah jatuh karena dosa Adam. 


Sebaliknya, dosa adalah pilihan yang kita buat ketika kita tahu perbedaan antara benar dan salah, dan kita katakan, "Saya ingin melakukannya dengan cara saya, karena saya tidak suka jalan dan cara Allah."

Pada satu kesempatan Yesus dan murid-murid-Nya menemukan seorang pria yang sudah buta sejak lahir.  Para murid punya pertanyaan untuk Yesus tentang bagaimana kita menjadi orang-orang berdosa.  "Guru, yang melakukan dosa, orang ini, atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?  Yesus menjawab, bukan dia, juga bukan orang tuanya yang berdosa "(Yohanes 9:2, 3). 


Para murid menganggap bahwa kebutaan membuktikan bahwa ia adalah orang berdosa, dan mereka bingung tentang bagaimana dosa yang bisa saja ditularkan kepadanya sejak ia dilahirkan seperti itu. 


Jawaban Yesus menunjukkan bahwa kebutaan, dan dosa sebagai rasa bersalah, bukanlah hal yang sama.     


Ini berarti bahwa kita harus membuat perbedaan antara dampak (hasil) dari dosa dan rasa bersalah akan dosa.

    

Ketika Adam berdosa, seluruh dunia mulai memasuki rangakaian rasa sakit, kerusakan penderitaan, dan kematian yang tidak terputuskan.  Tanaman, hewan, dan manusia semua menderita hasil tragis dari kutuk dosa. 


Kita lahir di dunia yang penuh dosa, dari orang tua yang terkena dampak dosa, dengan kecenderungan alamiah untuk berbuat dosa.  Tetapi tidak ada ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa kita telah hilang, terkutuk, atau bersalah atas salah satu hasil dari dosa Adam. 


Ketika kita sudah mengetahui apa kehendak Allah, lalu kita dengan sengaja memilih untuk menolak, maka kita telah memilih Dosa dan menolak hidup kekal.


Sebuah contoh yang jelas dari prinsip ini ditemukan dalam Perjanjian Lama.  "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya.  (Yehezkiel 18:20). 


Intinya sederhana.  Kita masing-masing bertanggung jawab atas dosa-dosa kita sendiri - pilihan kita yang buruk sendiri.


Jika kehidupan berdosa tidak bisa dihindari - karena kita mewarisi sifat manusia yang lemah dan sudah jatuh, maka dengan demikian saya tidak bertanggung jawab untuk itu, itu adalah kesalahan dan problem pihak lain. 


Namun, jika dosa adalah pilihan saya sendiri, maka saya sendiri yang bertanggung jawab, dan saya harus menghadapinya secara langsung, daripada menyalahkan orang lain.


Dosa dan rasa bersalah bermula hanya dalam pilihan yang lebih tinggi dari pikiran yang bertanggung jawab untuk memilih baik atau jahat.  Seluruh tubuh dan pikiran orang itu menderita dampak dari hukum alam sebagai bagian dari siklus bumi yang berdosa. 


Tetapi Tuhan tidak meminta pertanggung jawaban kita , ketika kita mewarisi peralatan atau tubuh yang rusak.  Dosa adalah perihal, dengan sengaja melanggar hukum Allah (lihat 1 Yohanes 3:4). 


Dosa, pada akarnya yang paling dalam, adalah cinta-diri.  Ketika menempatkan diri di atas dan lebih tinggi dari Allah.

    

Semua aspek metode penebusan Allah bagi orang-orang berdosa ditentukan oleh pengertian kita akan arti dosa dan rasa bersalah kita. 


Jika dosa adalah sifat yang kita warisi dan akan terus sampai Yesus datang, maka:

        1.   Yesus tidak bisa dilahirkan dengan sifat kita,

        2. fokus Injil menjadi pengampunan terus menerus untuk dosa yang konstan, dan

        3. kita tidak akan pernah bebas dari dosa sampai Yesus datang.


Tetapi jika dosa adalah pilihan kita sendiri, maka:

        1.   Yesus bisa mewarisi sifat kita,

        2. Injil adalah pengampunan dan kuasa transformasi, dan

        3. kita dapat menjalani kehidupan taat sesuai yang Yesus telah hidupkan.



Yesus, Kakak Kita atau saudara Sepupu yang Jauh?


 Yesus Kristus adalah obat menghadapi dosa dan contoh untuk menang atas dosa (1 Petrus 2:21, 22).


Namanya terkenal, namun orang memiliki banyak ketidakpastian tentang Dia sebagai seorang manusia. Apakah Dia benar-benar Tuhan? Apakah Dia benar-benar seorang manusia? Apakah Dia bisa berbuat dosa? Apakah Dia benar-benar tergoda? Apakah Ia berjuang dengan masalah dan perasaan seperti orang-orang yang mengganggu kita?

    

Ada beberapa ayat mendasar yang membentuk dasar untuk memahami siapa Yesus. "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6, 7). 


Jadi kita tahu bahwa Yesus adalah benar-benar Allah (Yohanes 8:58) dan kita tahu bahwa Dia benar-benar seorang manusia.  Yohanes menyatakan bahkan lebih jelas lagi.  "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah" (1 Yohanes 4:2).


Mari kita melangkah lebih jauh.  Manusia seperti apa Yesus itu ?  "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka ...  Karena sesungguhnya Dia tidak mengambil pada-Nya sifat malaikat, tetapi Dia mengambil-Nya keturunan Abraham.  Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, "(Ibrani 2:14, 16, 17). 


Perhatikan bagaimana poin ini ditekankan bahwa Yesus sendiri juga mengambil bagian dari daging dan darah yang sama yang kita miliki.


Jika Yesus lahir dari keturunan Abraham, maka kita tinggal bertanya, sifat alamiah apa yang diterima oleh semua keturunan Abraham?  Jelas, mereka semua mewarisi sifat yang tidak sempurna sebagai keturunannya. 


Perhatikan juga bahwa ayat tersebut mengatakan bahwa Yesus dibuat seperti saudara-saudara-Nya (kita) dalam segala hal.  Kita tidak perlu menganggap ayat ini salah, lalu berusaha untuk menulis ulang untuk memenuhi prasangka atau aggapan kita.  Yesus benar-benar mengambil sifat kita.

    

Di bawah hukum keturunan, kita menerima kecenderungan alami dari orang tua kita, sehingga Yesus menerima kecenderungan alami dari ibu-Nya, karena ia adalah seorang ibu yang sepenuhnya manusia. 


Sebagai seorang manusia seperti kita, Yesus mewarisi kelemahan fisik, seperti lapar, haus kelelahan, dan kematian, serta semua kecenderungan yang kita semua harus hadapi setiap hari, menuju sifat-sifat seperti keegoisan, kecemburuan kebanggaan, dan kerakusan. 


Tidak ada satupun ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa rantai keturunan telah putus antara Maria dan Yesus.   Sering kali Dia menyebut diri-Nya "Anak Manusia."


Kita dapat bersukacita bahwa Yesus tidak menghindari keburukan dilahirkan ke dunia yang jatuh, seorang ibu yang telah jatuh, dengan alam yang juga telah jatuh.  Dengan demikian kita memang memiliki Juruselamat yang sangat dekat dengan kita. 


Dia tidak mengkarantina dirinya sendiri dari penyakit akibat kejatuhan dosa, lalu memberi kita petunjuk dengan cara komunikasi jarak jauh.  Dia melangkah langsung ke zona pertempuran sehari-hari dengan kita. 


Dengan lembut dan cinta Dia mengambil tangan kita dan akan membawa kita keluar dari rawa dimana kita sadar akan keadaan diri kita, kalau saja kita mengikuti-Nya (Mazmur 23).  


Puji Tuhan untuk Juruselamat yang seperti itu!.     


Tetapi apakah Yesus dicobai sehebat yang kita alamai untuk kemudian menyerah pada godaan yang menarik?  Apakah Dia harus berjuang seperti kita? 


Mari kita mempertimbangkan apa sebenarnya arti penggodaan. 


Tidak hanya Setan menggoda kita, saat ia mencobai Hawa dan Yesus sendiri, "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya" (Yakobus 1:14). 


Jadi godaan kita tidak hanya berasal dari luar diri kita, melainkan dari dalam kodrat alami kita.  Kita ditarik oleh kecenderungan dan dorongan kelemahan kita sendiri.  Kata "nafsu" kadang-kadang diterjemahkan "keinginan" atau "kerinduan." Bahkan, sebagian besar godaan kita mungkin timbul dari hal-hal ini.

    

Pertanyaannya adalah, Apakah Yesus digoda dalam cara yang sama ini atau tidak? 


Alkitab memberi kita jawaban yang jelas tentang hal ini.  "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15). 


Sebuah cara membaca yang sederhana dan langsung dari ayat ini memberitahu kita bahwa Yesus dicobai seperti kita dicobai.


Karena sebagian besar godaan kita karena dorongan dan letupan dari sifat manusiawi kita yang jatuh, jika Yesus tidak mengambil sifat alami yang telah jatuh ini, maka Ia tidak dapat dicobai seperti kita dicobai. 


Dia tidak bisa tergoda dengan godaan yang saya alami untuk keegoisan, kebanggaan putus asa,, amarah, nafsu, nafsu makan, kecerobohan, pemberontakan, dan sejumlah godaan lain yang timbul dari sifat saya yang tidak sempurna ini. 


Tapi ayat ini memberitahu kita bahwa Dia hidup tanpa dosa meskipun dicobai dalam segala cara yang sama yang telah menggoda kita.  Bukankah ini menjadi sebuah dorongan semangat bagi kita yang harus menghidupkan seluruh hidup kita berjuang melawan sifat alami yang dinyatakan akan menghancurkan kita!


Yesus sendiri berkata, "sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. " (Yohanes 5:30). 


Di taman Getsemani, ketika Dia menghadapi hukuman mengerikan bagi semua dosa kita, Dia berdoa kepada Bapa "tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42). 


Dia mengajak siapa saja yang akan menjadi murid-Nya untuk "menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku" (Lukas 9:23). 


Seperti Yesus, kita harus menyerahkan kecenderungan kita sendiri dan berusaha untuk melakukan kehendak Allah semata.


Mengapa semua ini penting?  "Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai." (Ibrani 2:18). 


"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16). 


Karena Kristus mengambil sifat kita dan dicobai dalam segala hal sama seperti kita, kita dapat memiliki keyakinan penuh bahwa dalam nama-Nya kita dapat mendekati tahta Allah, dan mengetahui bahwa Dia akan memberi kita bantuan yang kita butuhkan.


Tetapi ada satu perbedaan penting antara Kristus dan semua manusia lainnya. 


Tuhan berkata kepada Maria, "Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." (Lukas 1:35). 


Tidak ada manusia lain yang pernah memiliki Roh Kudus sebagai seorang ayahnya.  Ini adalah perbedaan yang paling luar biasa antara Yesus dan manusia lainnya.  Yesus adalah "Allah yang terwujud dalam daging" (1 Timotius 3:16).     


Karena Roh Kudus telah mengendalikan hidup-Nya dari sejak awal benih-Nya, Kristus tidak pernah menyerah kepada godaan untuk melakukan dosa kapanpun juga.  Meskipun sifat-Nya sama dengan sifat kita, namun karakter-Nya adalah murni dan suci sejak lahir. 


Yesus adalah kudus sejak dari pintu masuk pertama ke dalam dunia, dan Dia tetap suci sepanjang sisa hidup-Nya.     


Kabar baiknya adalah bahwa saya bisa memiliki kekuatan pengendali yang sama dari Roh Kudus dan kemenangan yang sama atas dosa ketika saya memilih untuk menyerahkan hidup saya kepada Tuhan. 


Saya bisa memiliki hubungan dan koneksi yang sama kepada Tuhan sama seperti yang Yesus lakukan oleh mengalami proses kelahiran baru. 


"Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia."(2 Petrus 1:3, 4).

    

Kemenangan Yesus itu luar biasa, bukan karena sebagai Tuhan Dia bertindak seperti Allah, tetapi karena sebagai manusia Ia tidak bertindak sama seperti setiap orang lainnya.   Dia menjalani kehidupan yang seharusnya tidak mungkin untuk dihidupi. 


Yesus membuktikan bahwa bersama Tuhan, maka yang tidak mungkin adalah menjadi mungkin.  Karena kemenangan Kristus, maka tersedia jalan bagi Tuhan untuk melakukan hal yang mustahil dalam diri kita.


Dosa: Takdir atau Pilihan?


Bagaimana bisa Tuhan melakukan yang "mustahil" dalam diri kita?  Kita semua berdosa -bukan dengan kelahiran atau oleh warisan atau nasib buruk, tetapi oleh pilihan kita sendiri untuk melakukan hal-hal cara kita bukan cara Tuhan. 


"Karena semua orang telah berbuat dosa, dan jatuh dari kemuliaan Allah," dan "upah dosa adalah maut" (Roma 3:23; 6:23). 


Sebagai akibat atas pilihan kita sendiri, maka sudah selayaknya kita keluarkan selamanya dari kehidupan kekal yang telah direncanakan Allah bagi umat manusia.  Hanya ketika kita menyadari keadaan putus asa kita, bahwa kemudian kita akan menjangkau Tuhan agar mendapat kelepasan dari nasib yang tidak menentu. 


Dalam cinta Nya yang tak terbatas, Allah telah menyediakan jalan keluar dari dilema kita, dan kita perlu untuk menemukan obat-Nya, bukan "obat" ciptaan manusia yang hanya membuat kita merasa baik lalu kemudian melanjutkan perjalanan dan perbuatan yang sama yang menuju kehancuran.


"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat" (Kisah Para Rasul 16:31).


Langkah pertama adalah untuk percaya pada harga yang mahal yang Yesus bayar atas dosa-dosa kita.


"Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:6).


Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?(Roma 2:4)?


Karena kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah pilihan masa lalu kita, ketika kita bertobat, yang berarti menjadi menyesali dan berpaling dari dosa-dosa kita, Allah mengampuni dan melupakan dosa kita. 


"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil untuk mengampuni segala dosa kita, dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yohanes 1:9). 


"Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat pikirannya: dan biarkan dia kembali kepada Tuhan, dan Dia akan mengampuni dosa-dosanya, dan kepada Allah kita, karena Dia akan mengampuni dengan limpahnya " (Yesaya 55:7; lihat juga 2 Tawarikh 7:14; Amsal 28:13, Matius 6:14, 15). 


Kemudian kita tidak lagi orang berdosa yang selalu merasa bersalah.  Ini yang disebut pembenaran, dimana bukan oleh sebab perbuatan baik atau usaha gagah berani kita.  "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus" (Roma 3:24).


"Oleh karena itu kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus" (Roma 5:1). 


Masing-masing kita diberikan ukuran iman (Roma 12:3). Ketika kita menjalankan iman itu, percaya dan percaya pada janji-janji Firman-Nya, kita menerima damai sejahtera dengan Allah (Yohanes 14:27).


Tetapi sama seperti sebagian dari Injil Allah yang telah di selewengkan, aspek keselamatan ini juga telah dipalsukan . 


Sebagian orang Kristen membatasi proses pembenaran hanya sebatas pengampunan saja.  Mereka lupa bahwa pengampunan hanya setengah dari seluruh proses pembenaran.  Cara pandangan seperti itu hanya merupakan solusi parsial untuk masalah kita.


Apa bagian kedua dari proses pembenaran? 


"pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita"(Titus 3:5-7).


Agar dapat dibenarkan, harus meliputi pembersihan regenerasi dan pembaharuan pikiran (Roma 12:2).  Ini adalah inti dari pengalaman - sebuah transformasi yang lengkap. 


Pengalaman Ini merubah nilai-nilai saya dan sikap saya.  Tidak lagi saya egois, sekarang aku lebih mementingkan Kristus dan orang lain.  Sekarang saya memiliki pikiran Kristus (Filipi 2:05 lihat).  Saya hidup "seperti Kristus telah hidupkan" (1 Yohanes 2:6).



Bagaimana Yesus menggambarkan proses keselamatan? 


Lahir baru: "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yohanes 3:3). 


Yesus tidak menggunakan kata pembenaran seperti Paulus, tetapi Ia dengan jelas mengajarkan bahwa kelahiran baru adalah penting untuk keselamatan.  Kelahiran baru tidak mengikuti pembenaran - tetapi justru kelahiran baru adalah pembenaran itu.


"Mengetahui hal ini, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita dihancurkan, bahwa untuk selanjutnya kita tidak lagi melayani dosa.  Karena orang yang sudah mati dibebaskan dari dosa ...  Demikian juga kamu rasakan juga dirimu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita "(Roma 6:6, 7, 11).


"Manusia lama" adalah cara lama kita hidup, di mana keegoisan mengatur kehidupan kita.  Manusia lama harus mati dan digantikan oleh "ciptaan baru" (2 Korintus 5:17). 


Sama seperti manusia lama dan dosa adalah sama, demikian juga manusia baru dan penurutan adalah sama (lihat Yehezkiel 36:26, 27; 1 Yohanes 3:7, Roma 2:13, 6:16).


Penyucian adalah unsur lain dari Injil yang harus dipahami dengan jelas.  Penyucian juga meliputi dua langkah atau bagian. 


Apa arti kata "menguduskan" ?  "Dan Tuhan memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya" (Kejadian 2:3). 


Arti yang paling dasar dari kekudusan adalah "untuk mengatur dan memisahkan untuk penggunaan atau maksud yang kudus." Allah mengatur hari ketujuh terpisah untuk umat manusia untuk digunakan dalam cara yang suci.

    

Bagaimana makna ini berhubungan dengan orang-orang Kristen yang baru?  "Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita" (1 Korintus 6:11). 


Ketika kita disucikan dan dibenarkan, kita juga dipisahkan untuk penggunaan suci.  Allah melihat kita sekarang, tidak dalam pakaian kotor dosa, tetapi berpakaian dengan kebenaran murni Kristus (Zakharia 3:4; Yesaya 61:10).


Apa bagian kedua dari pengudusan? 


"Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18). 


Ketika kita meluangkan waktu bersama dengan Tuhan, kita melihat semakin banyak kemuliaan-Nya, dan kita menjadi lebih dan lebih seperti Dia dalam karakter. 


Penyucian melibatkan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan Yesus melalui belajar Alkitab secara pribadi, doa dan menyerah pada perintah-Nya sehingga kita dapat diubah menjadi serupa dengan-Nya. 


Dia berdoa untuk kita: "Kuduskanlah mereka melalui kebenaran-Mu, Firman-Mu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17).  Dan Roh Kudus adalah Panduan kita "ke dalam seluruh kebenaran" (Yohanes 16:13).


Paulus memberikan wawasan tentang pengalaman ini.  "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku "(Galatia 2:20). 


"Aku mati setiap hari" (1 Korintus 15:31).  "Karena Allah yang mengerjakannya di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (Filipi 2:13). 


Bagian kita adalah untuk menempatkan kehendak kita di sisi Allah.  Kita harus mati setiap hari untuk keinginan dan kecenderungan alami kita.  


Saat demi saat, kita meminta dan bergantung pada kasih karunia-Nya, kuasa-Nya, untuk menolak godaan dan mematuhi perintah-perintah-Nya (Roma 1:5; Ibrani 4:16; Yakobus 4:7, 8).  


Ini adalah pengudusan Alkitab.


Intinya atau hasil akhirnya adalah bahwa Allah menyelamatkan kita melalui pembenaran dikombinasikan dengan pengudusan. 


Hal ini berbahaya untuk mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh pembenaran saja, sementara penyucian hanya buah yang baik dari keselamatan.  Penyucian membuat kita siap untuk tinggal di sorga. 


Mati setiap hari untuk diri diperlukan, kekudusan adalah penting untuk keselamatan.  "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). 


Keselamatan adalah "diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai." (2 Tesalonika 2:13).


     "TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya" (Ulangan 28:9). 


Jika kita tidak hidup suci, kita tidak diselamatkan.  Keduanya baik pembenaran dan pengudusan adalah karunia kemurahan Allah kepada orang berdosa yang hilang dan putus asa.


Oleh karena itu Jadilah Sempurna ...


Dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengatakan kepada kita untuk menjadi sempurna, "sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48). 


Tapi kesempurnaan bisa menjadi kata yang merepotkan.  Apa arti yang sebenarnya?  Apa artinya? 


Sebagian orang menganggap bahwa tentang kesempurnaan , adalah tidak sehat secara rohani untuk menekankan subjek tentang kesempurnaan. 


Mungkin masalahnya adalah bahwa kita bisa memikirkan "kesempurnaan" dalam setidaknya empat cara yang berbeda.


Artinya yang pertama: "Karena Akulah TUHAN, tidak berubah" (Maleakhi 3:6). 


Hanya Tuhan yang tidak pernah membuat kesalahan atau salah pikiran.  Ini adalah kesempurnaan mutlak.  Kesempurnaan mutlak tidak dapat mungkin bagi makhluk yang diciptakan, karena pengetahuan kita selalu terbatas dan berkembang.


Arti yang kedua: "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka ...  Dan Allah melihat segala sesuatu yang Dia telah dibuat, dan, lihatlah, itu sangat baik "(Kejadian 1:27, 31). 


Tuhan menciptakan manusia dalam citra-Nya sendiri sebagai dekat dengan Tuhan yang sedapat mungkin bagi makhluk ciptaannya.  Ini adalah kesempurnaan alami. 


Kodrat manusia itu selaras dengan Tuhan dan ciptaan lainnya.  Pikiran dan tubuhnya bekerja sempurna bersama-sama.  Kecenderungan dan dorongannya berada dalam keseimbangan dan dalam perjanjian lengkap dengan hukum-hukum Allah. 


Pada Kedatangan yang Kedua, sifat umat-Nya yang telah jatuh akan diubah oleh Allah menjadi sifat yang sempurna (1 Korintus 15:51-54). 


Ini berarti tidak ada lagi bisikan berdosa dari dalam diri mereka sendiri.  Karena kita tetap memiliki kecenderungan kita untuk jatuh, maka berarti hal ini tidak bisa diterapkan kepada kita sekarang dan hari ini.


Arti yang ketiga: "Yesus berkata kepadanya, engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:37). 


Pada saat kita berubah, ketika kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Kristus, kita dihitung sempurna di dalam Dia.  Apa yang Tuhan minta dari kita dalam proses konversi adalah untuk memberi-Nya segenap hati kita. 


Dia tidak akan menerima hati yang terbagi, di mana kita mengasihi Allah dan dunia (lihat Lukas 16:13; 1 Yohanes 2:15-17). 


Allah menerima penyerahan karakter kita dan kita dihitung sempurna di dalam Kristus.


Dari titik itu, kita mulai tumbuh dan membuat perubahan seperti yang kita pahami tentang hal-hal baru perihal kehendak Tuhan bagi kita. 


Selama kita tetap menyerah melalui proses pertumbuhan, dan dengan demikian ketaatan kita terus berpacu dengan pemahaman kita, kita terus dihitung sempurna di dalam Kristus.  Dalam istilah praktis, ini adalah bagaimana kita mempertahankan hubungan yang menyelamatkan kita dengan Yesus. 


Dia berjanji untuk membantu kita "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." (2 Korintus 7:1).


Arti yang keempat: "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, " (Efesus 4:13). 


Tuhan ingin kita bertumbuh menjadi dewasa penuh.  Dia ingin membawa kita ke ketinggian yang kita tidak pernah bisa bayangkan.  Kematangan karakter hanyalah pematangan untuk panen dalam kehidupan individu.  Kita telah dewasa dalam Kristus ketika kita tidak lagi memilih untuk berbuat dosa terhadap Allah.


Kedewasaan ini diungkapkan oleh Yohanes.  "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (1 Yohanes 3:9). 


Konsep ini dapat dinyatakan dengan cara yang sederhana.  Kristus masuk - dosa keluar.  Dosa masuk - Kristus keluar. 


Kita tidak bisa memiliki keduanya Kristus dan dosa memerintah di atas takhta kehidupan kita pada waktu yang sama. 


Dalam karakter dewasa kita telah sepenuhnya diubah oleh kasih karunia-Nya memberdayakan, dan karena itu kita tidak membuat pilihan untuk memberontak.  Kita memilih untuk tidak memberontak melawan Allah dalam pikiran, ucapan atau tindakan.

    

Dalam mendefinisikan kesempurnaan, kita telah menemukan bahwa dua makna yang berlaku bagi kita saat ini adalah karakter menyerah yang menuju kepada kematangan karakter. 


Tetapi sebagian orang Kristen tidak percaya bahwa kita bisa hidup tanpa melakukan dosa sebelum Kedatangan Kedua Kristus.  Apakah ini sebuah mimpi yang mustahil?  Mari kita lihat apa yang Tuhan katakan.


     "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."(1 Korintus 10:13). 


Apakah ada jalan keluar untuk beberapa godaan saja, atau untuk setiap dan semua godaan?  Apakah Allah terbatas dalam kemampuan-Nya untuk membantu kita melepaskan diri? 


Ayat ini mengatakan bahwa ada jalan keluar untuk setiap godaan.  Tidak ada satu godaan yang datang kepada kita yang membuat dosa tak terelakkan.  Allah telah berjanji bahwa jika kita akan percaya kepada-Nya, Dia akan menunjukkan kepada kita jalan keluar dari setiap godaan.


     "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya." (1 Petrus 2:21, 22). 


Tuhan berjanji bahwa teladan Kristus yang tidak berdosa dapat diikuti oleh kita.



     "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2 Korintus 10:5). 


Ini adalah salah satu janji yang paling kuat dalam Alkitab.  Jika kita mau menyerahkan pemikiran kita yang salah kepada Kristus dengan segera, maka Dia berjanji untuk menahan pikiran jahat itu sehingga pikiran jahat itu tidak dapat mengendalikan kita. 


Hal ini jelas bahwa jika Kristus mengontrol semua pikiran kita, dosa tidak akan terjadi dalam hidup kita.

     "Berjalan dalam Roh, dan kamu tidak akan memenuhi keinginan daging," "Saya bisa melakukan segala sesuatu melalui Kristus," "Kekuatan saya dibuat sempurna dalam kelemahan" (Galatia 5:16; Filipi 4:13; 2 Korintus 12:9). 


Alkitab penuh dengan janji-janji bahwa kita dapat mengalahkan dosa dan mendapatkan kemenangan terus-menerus dalam pertempuran melawan kodrat kita yang telah jatuh.  (Mazmur 119:1-3 Lihat, 11; 1 Tesalonika 5:23, 24; Titus 2:11-14, 2 Petrus 1:10; 1 Yohanes 3:6; 4:17; 5:3, 4, 18; Yudas 24.)


     Satu kenyataan lain pada akhir zaman yang penting adalah.  "Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!"   "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya "(Wahyu 22:11, 12). 


Umat ​​manusia telah hidup meminjam waktu masa percobaan, yang akan berakhir tepat sebelum Yesus kembali, ketika semua orang telah membuat keputusan akan baik setia total kepada Allah atau tidak.

    

Orang-orang yang hidup saat ini dijelaskan dengan cara ini: "di sini ialah ketekunan orang-orang kudus: di sini adalah mereka yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus." "Dan di dalam mulut mereka tidak ditemukan ucapan yang menipu, karena mereka tanpa kesalahan di hadapan takhta Allah" (Wahyu 14:12, 5). 


Ayat-ayat ini menggambarkan orang benar-benar menjalani hidup tanpa dosa meskipun sifat lemah dan mudah jatuh, sesuatu yang Setan telah bekerja tanpa lelah untuk mencegah untuk hidup tanpa dosa (Wahyu 12:17). 


Jika memang ada penutupan pintu kasihan, maka karakter yang matang penuh harus dimungkinkan, yang berarti hidup tanpa menyerah kepada keinginan berdosa, sepenuhnya patuh kepada perintah Allah.


     "Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa." (Yehezkiel 36:23).


Allah akan membela nama-Nya dengan memberikan umat-Nya kuasa ilahi untuk mematuhi hukum-Nya dengan sempurna.  Ini sangat penting dalam resolusi akhir dari kontroversi besar antara Kristus dan Setan.  Tipu daya musuh akan hancur sekali dan untuk selamanya (Nahum 1:9). 


Hanya melalui umat-Nya saja, Allah akan memberikan bukti terakhir yang dibutuhkan untuk melindungi seluruh alam semesta melawan dosa agar tidak timbul lagi selamanya. 


Haleluya!


Judul Asli : The Mind of Christ

Tulisan : Dustin Butler

Penterjemah : Michael Mangowal

  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Pinterest Icon
  • Grey Instagram Icon
This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now