google0bd4cb5486ad7f54.html 10.1 Memahami Penghakiman Tujuh Sangkakala

© 2023 by AHFA. Proudly created with Wix.com

  • Grey Pinterest Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • michael@adventvision.com

10.1 Memahami Penghakiman Tujuh Sangkakala

Bacaan Tambahan untuk Sesi#10


Awal Mula:


Adegan dalam Wahyu 8: 1-5 ditulis menggunakan bahasa bagian penutupan dari pelayanan harian di Bait Suci.


Ketika korban anak domba sedang dipersembahkan, orang-orang di luar Bait Suci berdoa dalam keheningan, menunggu imam datang kepada mereka.


Setelah selesai, tujuh sangkakala dibunyikan.


Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana adegan ini muncul setelah dan sebagai hasil dari penyaliban Kristus: Sangkakala mulai dibunyikan setelah kematian Yesus.


Bagian Akhir:


Dibunyikannya Sangkakala Ketujuh itu terkait dengan akhir dari misteri Allah (lihat Wahyu 10: 6, 7).


Paulus terus menggambarkan Injil sebagai misteri Allah (lihat, misalnya, Efesus 6:19).


Dalam Wahyu 11:15, Sangkakala Ketujuh dibunyikan dan Allah menetapkan kerajaan-Nya.


Tujuan:


Dibunyikannya sangkakala sebagai hukuman atas "penghuni bumi" merupakan jawaban doa-doa umat Allah (lihat Wahyu 6: 9, 10; 8:13).


Selama meterai yang kelima, kita membaca doa mereka - bersama dengan doa semua orang kudus sepanjang masa - berseru kepada Tuhan untuk campur tangan dan bertindak terhadap kejahatan di dunia ini.


Kita melihat doa ini kembali dalam Wahyu 8: 1-5.


Doa-doa untuk penghakiman atas penduduk dunia adalah batu loncatan untuk dibunyikannya sangkakala. Malaikat itu melemparkan api penghakiman atas bumi dari pedupaan emas.


Dibunyikannya suara sangkakala menunjukkan bahwa Allah telah bertindak dalam sejarah, meskipun umat Tuhan tidak selalu memperhatikan peristiwa itu.


Penghakiman Sangkakala datang atas mereka yang telah menganiaya orang-orang kudus:


Dibunyikannya sangkakala ini, membuat beberapa hal yang menakutkan. Penghakiman Allah telah tiba , memberikan dunia sebuah kesempatan yang terakhir untuk bertobat.


Namun dalam Wahyu 9:20, 21, kita melihat mereka tidak bertobat. Ketika orang-orang telah memilih arah dalam hidup mereka, maka akan sulit untuk berbalik. Hati telah mengeras.


Penggenapan dalam sejarah:


Dibunyikannya Sangkakala adalah tindakan yang berurut-urutan dalam sejarah yang terjadi atas seizin dan sebagai akibat dari campur tangan ilahi. Pernyataannya yang terdapat didalam Wahyu 8:13 dan 9:12 jelas menunjukkan bahwa kejadiannya berturut-turut.


Fakta bahwa peristiwa itu membentang mulai dari layanan harian di Bait Suci (lihat 8: 2-6) yaitu dari waktu dimulainya era Kristen ketika Yesus mati dikayu salib dan diakhiri dengan penutupan pintu kasihan (lihat 11:15) yang berarti bahwa hal itu terbentang melalui sejarah selama 2000 tahun.


Kita kemudian akan mempelajari penggenapan peristiwa-peristiwa itu agar mudah dipahami oleh orang-orang dengan tingkat pemula dalam pemahaman sejarah.



Sangkakala pertama - Wahyu 8: 7


Kejatuhan Yerusalem karena penolakan terhadap Kristus oleh para pemimpin agama dan orang-orang yang mengikuti mereka.


Yesus bernubuat terhadap kota Yerusalem (lihat Matius 23:37, 38; 24: 1, 2).


Dalam Lukas 23: 28-31 Yesus mengacu pada penghakiman atas Yerusalem dalam bahasa yang mirip dengan bahasa sangkakala pertama.


Setelah kejatuhan Yerusalem disusul dengan gagalnya pemberontakan Bar Kochba tahun 135 AD, pengaruh Yahudi di Kekaisaran dan kemampuan untuk menganiaya orang Kristen menjadi sangat terbatas.


Sangkakala Kedua - Wahyu 8: 8


Sangatlah sesuai bahwa hal yang menjadi objek sangkakala kedua adalah Roma. Jadi kedua sangkakala pertama itu adalah Allah menghadapi dua kekuatan, yaitu kekuatan agama dan yang lainnya kekuatan sekuler, yang telah menyalibkan Yesus.


Meskipun terjadi permusuhan sengit diantara kedua kekuatan tersebut; hanya melalui sebuah persatuan sementara antara Roma dan bangsa Yahudi yang kemudian berhasil dalam menyalibkan Yesus.


Jatuhnya Roma diberikan dalam bahasa jatuhnya Babel kuno (lihat Yeremia 51:24, 25).

Roma dan Babel telah menghancurkan Kaabah Yerusalem. Petrus dan Yohanes keduanya menggunakan kata "Babel" untuk merujuk ke Roma (lihat 1 Petrus 5:13; Wahyu pasal 17 dan 18).


Sangkakala Ketiga - Wahyu 8:10, 11


Sangkakala ketiga mengungkapkan hebatnya kemurtadan yang menyimpang dari kebenaran Allah seperti yang diungkapkan dalam kabar baik tentang Yesus.


Mayoritas kelompok Kristen berkompromi dengan paganisme yang mengarah kepada munculnya era Gereja Abad Pertengahan yang sering dikaitkan dengan Abad Kegelapan.


Air menjadi pahit adalah simbol yang digunakan untuk menggambarkan kemurtadan dan doktrin palsu.


Pada zaman Perjanjian Lama umat Allah disebut sebagai pohon yang ditanam di tepi aliran air (lihat Mazmur 1: 3).


Sangkakala Keempat - Wahyu 08:12


Yesus adalah terang dunia. Kegelapan datang akibat hilangnya Yesus dan Injil yang benar.

Kegelapan adalah fitur utama dari sangkakala ini.


Yohanes mengacu pada Yesus dalam Injil-Nya sebagai terang dunia (lihat Yohanes 1: 1- 9).


Sebagai reaksi (sebagian) melawan kekuasaan agama yang menindas, kita menemukan banyak yang merangkul sekularisme yang tunasnya berasal dari Renaissance (Kebangunan) dan Enlightenment (Pencerahan).


Hal ini berkembang menjadi menjadi kekuatan yang kuat dalam Revolusi Perancis dan terus berkembang. Kegelapan semakin dalam dan mencakup semua bangsa saat ini.


Sekularisme, rasionalisme dan humanisme menghasilkan kesia-siaan dan keputusasaan.


Sangkakala Kelima - Wahyu 9: 1-11


Dalam khotbah yang terkenal perihal akhir dunia, Yesus memperingatkan bahwa umat-Nya akan mengalami masa-masa sulit . Yesus memperingatkan bahwa sementara Kristus-Kristus palsu dan nabi-nabi akan semakin banyak, Anda seharusnya tidak disesatkan oleh mereka.


Saat kita mendekati akhir zaman, kita melihat tanda-tanda ini dan nabi palsu - tetapi Injil masih akan diberitakan.


Dalam sangkakala kelima, kuasa kegelapan dilepaskan dan sejak itu semua hal keadaannya menjadi sangat merosot. Sebuah bintang dari langit menerima kunci jurang maut adalah bintang yang sama dengan yang ada di sangkakala ketiga.


Sangkakala yang kelima menunjukkan konsekuensi dari kemerosotan rohani dan kegelapan yang ditampilkan di sangkakala ketiga dan keempat.


Kegagalan mereka yang mengaku pengikut Yesus dalam mewakili dan memberitakan kabar baik tentang Yesus menyebabkan reaksi melawan Allah.


Ketika orang-orang yang berpikiran sekuler mulai mencoba menjalani kehidupan yang jauh dari Allah. Hal ini menyebabkan penderitaan, putus asa, hidup tanpa arti dan kesunyian.


Hal ini juga menyebabkan dilepaskannya roh-roh jahat dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya ketika orang-orang yang mengalami rasa putus asa ini mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan dalam hidup mereka.


Kita adalah makhluk spiritual yang diciptakan menurut gambar Allah dan dijadikan untuk bersekutu dengan Pencipta kita.

Asap dari jurang setan dapat muncul dalam berbagai bentuk untuk menarik perhatian akan sifat spiritual manusia.


Hal ini dapat ditemukan dalam praktek agama yang lebih mengandalkan emosi sementara mengesampingkan akal sehat. Dengan menggunakan semua daya tarik Mistisisme Timur pada saat yang sama mengaku menjunjung tinggi banyak aspek dari KeKristenan.


Sangkakala kelima memperingatkan bahayanya dari setiap bentuk agama atau absennya agama yang berakibat menggelapkan pemahaman kita dari hal kabar baik tentang Yesus.


Karena umat Allah dimeteraikan melalui perlindungan Allah , maka mereka tidak akan terkena dampak kegelapan itu. (lihat 9: 4).


Menggunakan bahasa yang sama seperti sangkakala pertama, umat Allah sekali lagi disebut rumput, tanaman dan pohon.


Sangkakala Keenam - Wahyu 9: 12-21


Sangkakala ini menggambarkan dilepaskannya kekuatan jahat yang sampai sekarang disimpan dalam penundaan. Ini adalah wabah setan. Kita melihat dunia dalam gambaran seolah-olah jika Tuhan tidak lagi menahan dilepasnya kuasa kejahatan.


Sangkakala keenam sejajar dengan wabah yang keenam seiring dengan munculnya Babilon akhir zaman (agama palsu) mengendalikan raja-raja dibumi dan semua kekuatan politik.


Referensinya ditemukan baik di wabah keenam maupun sangkakala keenam, sungai Efrat, aktivitas setan dan bahasa militer tampaknya berhubungan erat. (lihat 9:14; 16:12).


Sangkakala keenam menggambarkan bergabungnya seluruh kekuatan tentara setan pada akhir zaman untuk menghadapi pertempuran Armageddon. Mereka digambarkan sebagai tentara yang berjumlah 200 juta (lihat 9:16).


Kemudian empat malaikat yang menahan angin perselisihan, melepaskannya dan tidak ada lagi pembatasan akan kekuatan jahat. Kejahatan terjadi seakan-akan jika pasukan setan tidak lagi ditahan oleh Allah. Ini adalah bagaimana jadinya dunia ini jika Yesus tidak datang dan mengalahkan kekuatan jahat.


Ketika seluruh penduduk bumi melihat semua ini terjadi, sebagian besar dari mereka tidak lagi berbalik kepada Allah. Sulit bagi mereka untuk berhenti dari jalan yang mereka pilih.


Pintu keselamatan belum ditutup. Ketika bumi meluncur ke tahap akhir dari kehancuran nya sendiri, masih ada kesempatan untuk mendengar suara Yesus dan bertobat .


Yaitu ketika Sangkakala ke enam masih terdengar, panggilan terakhir Allah kepada bumi untuk menerima Yesus diumumkan persis seperti yang Yesus prediksi dalam Matius 24:14 dan seperti yang ditemukan dalam Wahyu 10: 7


Sangkakala keenam mencerminkan peristiwa akhir dari sejarah bumi - panggilan terakhir Allah kepada penduduk bumi.


Ringkasan:


Sangkakala ketiga dan keempat menggambarkan munculnya dua musuh-musuh umat Allah: satu agama dan yang satu lagi sekuler .


Sangkakala kelima dan keenam menggambarkan aktivitas dari kedua kekuatan saat akhir zaman semakin dekat .


Seperti halnya dengan bangsa Yahudi dan Roma yang digabungkan bersama-sama untuk menyalibkan Yesus (digambarkan dalam dua sangkakala yang pertama, maka sekarang kita memiliki dua kekuatan pengganti yang akan menindas umat Allah terutama menjelang akhir: yang satu agama dan yang satu lagi sekuler .


Kita akan melihat pada saat paling akhir , bahwa kekuatan agama akan mengontrol kekuatan politik sekuler.


Belalang yang telah digunakan dalam menghukum bangsa Mesir (lihat Keluaran 10: 1-22) dan Babel (lihat Yeremia 51:14, 27).


Konteks dari keduanya adalah kebebasan beragama bagi umat Allah. Wabah yang menyiksa adalah spiritual bukan fisik, kehidupan telah kehilangan maknanya. Agen penyiksa adalah ekor kalajengking, sebagai simbol nabi palsu (lihat Yesaya 9:15).


Adalah doktrin palsu yang menghapus terang Injil dan membawa penderitaan. Matahari dan langit yang menjadi gelap adalah lambang yang jelas dari upaya Setan untuk mengaburkan Allah didalam pikiran orang-orang. Segalanya menjadi begitu buruk sehingga banyak orang kehilangan kemauan untuk hidup.

Sangkakala ke Tujuh - Wahyu 11:15


Kitab Wahyu adalah semua tentang penyelesaian kabar Injil di bumi.


Kitab akhir zaman ini menyatakan kepada kita akan ada seruan besar yang terakhir dari Injil yang terjadi sebelum sangkakala terakhir dibunyikan.


Yesus berkata ketika hal itu terjadi maka tibalah masa akhir itu.


Ketika sangkakala ketujuh terdengar, hal itu merupakan tanda pintu kasihan ditutup . Ketika pertempuran sudah berakhir: Allah mengambil kembali dunia yang pernah Dia ciptakan dan mengambil alih sebagai kerajaan-Nya untuk selama-lamanya.


Dalam rangkaian urutan ini, dimanakah posisi kita saat ini?


Mungkin kita berada disekitar era sangkakala kelima dan keenam di mana agama dan sekularisme bersaing. Semua gambaran ini menunjuk kepada dunia moderen yang sekular .


Keyakinan seperti humanisme, rasionalisme dan sekularisme menguasai sebagian besar media, menyebabkan banyak generasi sekarang ini tanpa moral, tidak ada Tuhan, tidak ada harapan atau arti.


Isu-isu dibuat bahkan lebih rumit lagi dengan kebingungan yang terjadi di dunia agama. Agama palsu yang menyimpang dari ajaran Alkitab juga dapat menghilangkan cahaya Injil dan menyebabkan keputusasaan sama seperti halnya dengan keadaan tanpa agama.


Kitab Wahyu tampaknya menunjukkan bahwa sebelum akhir zaman, agama palsu akan menang atas sekularisme untuk membawa peristiwa akhir zaman.


Kita berada dalam era yang unik dalam sejarah manusia dimana terdapat begitu banyak orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Seperti Firaun, mereka berkata: "Siapa Allah ini? Aku tidak kenal dia. "


Kita berada dalam masa kebingungan rohani. Kebanyakan orang dalam masyarakat mengaku rohani dan percaya tuhan; namun hanya dengan sebuah konsep yang samar-samar perihal satu Allah yang benar.


Pada saat yang sama, mereka mengikut segala macam pengajaran mistis dan ramalan tentang masa depan.


Yesus memperingatkan hal ini akan terjadi dalam khotbah-Nya tentang akhir dunia: "Akan ada Kristus-Kristus palsu dan nabi-nabi palsu yang akan muncul dan mengadakan tanda-tanda besar dan keajaiban untuk menipu bahkan -jika mungkin - menipu umat pilihan" (Matius 24:24).


Dalam dunia yang membingungkan ini , ujian bagi agama yang benar selalu akan terlihat melalui cahaya Injil. Ada banyak agama tetapi Yesus adalah terang dunia. Tanpa Dia, kita berada dalam kegelapan.


© All rights reserved Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Divisi Pasifik Selatan, diterjemahkan oleh Michael Mangowal.  Tidak untuk diperdagangkan.


Kembali ke Sesi#10 Sangkakala ke 5 & 6 atau Lanjut ke Sesi #11

  • Grey Twitter Icon
  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Pinterest Icon
  • Grey Instagram Icon
This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now