kunci rahasia

pelajaran hidup dari nabi yg telah wafat

1.4 Para Nabi telah wafat, namun pelajarannya tetap hidup

Dalam presentasi kedua dan ketiga yang lalu, kita telah pelajari betapa pentingnya untuk memperhatikan faktor tempat, waktu dan keadaan dari sang penulis Alkitab terhadap nubuatan manapun yang akan kita pelajari.

 

Dalam presentasi yang keempat ini kita ajukan pertanyaan yang juga terkait, dan pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat membuat nubuatan Alkitab tersebut relevan untuk hari ini?

 

Bagaimana kita dapat memperoleh informasi yang relevan dari Allah, dari nubuatan Alkitab yang ketika itu ditulis, kepada orang lain di waktu lain, di tempat lain, dengan budaya yang berbeda, gagasan yang berbeda, bahasa yang berbeda?

 

Berikut ini adalah beberapa prinsip dasar tentang bagaimana seseorang mempelajari Alkitab dengan konsep-konsep ini dalam pikiran.

 

Tiga metode mempelajari Alkitab:

  • Penafsiran (Exegesis),
  • Teologi Alkitabiah (Biblical Theology)
  • Teologi Sistematik (Systematic Theology)

 

Penafsiran (Exegesis) adalah kata yang berarti mencoba mencari tahu apa yang penulis tersebut berusaha katakan, apa yang penulis katakan adalah pertanyaan mendasar.

 

Penafsiran (Exegesis) melihat sebuah tulisan dan berusaha menentukan atau mengerti niat sang penulis ketika ayat atau nubuatan tersebut ditulis.

 

Teologi Alkitabiah (Biblical Theology), adalah pendekatan yang menanyakan teologi apa yang dipercayai penulis itu, apa teologi di pikiran Yohanes ketika dia menulis Wahyu yang akan menyebabkan dia menulis ayat ayat atau nubuatan, dalam waktu, tempat, dan keadaan Yohanes saat itu.

 

Misalnya apa yang Yohanes yakini tentang Tuhan. Apa teologi Yohanes tentang akhir dunia, apa yang Yohanes yakini tentang cara untuk menjadi benar dengan Tuhan. misalnya apa pandangan dunia teologis Yohanes yang dapat menyebabkan dia menulis ayat ayat dan nubuatan tersebut.

 

Teologi Sistematik (Systematic Theology), mengajukan pertanyaan yang berbeda dan pertanyaan itu adalah apa yang harus saya percayai? apa kehendak Tuhan bagi saya? apa itu kebenaran?

 

Untuk mengajukan tumpukan pertanyaan, kita akan memperhatikan bahwa masing-masing pertanyaan ini akan mendekati Alkitab dengan cara yang sedikit berbeda.

 

 

Penafsiran ( Exegesis)

pertama-tama penafsiran atau Exegesis, yaitu apa yang penulis coba katakan

 

Ketika kita melakukan metode penafsiran (exegesis) maka ada faktor waktu.

 

Kita akan bertanya pertanyaan abad pertama, apa yang penulis di abad pertama, yaitu apa yang Yohanes coba katakan

 

Kita akan mengajukan pertanyaan Alkitab dengan kata lain bahasa apa yang ia gunakan istilah apa yang dipilih untuk menggunakannya menjadi bahasa Alkitab

 

dengan kata lain untuk menjawab pertanyaan itu, sejauh mungkin, kita akan menggunakan bahasa Yohanes sendiri untuk menjelaskan bukunya

 

Selanjutnya kita akan melihat bahwa penafsiran tidak merubah, ayat yang telah kita terima tidak berubah, dan dengan demikian kita memiliki dasar yang kuat yang tidak berubah, untuk mencoba menentukan apa yang Yohanes katakan

 

Dalam penafsiran (exegesis) orientasinya kepada ayat-ayat. (passage oriented)

 

Orientasinya kepada ayat-ayat, (Passage oriented) dengan kata lain kita akan melihat ayat demi ayat, membandingkan ayat dengan ayat itu adalah apa yang akan kita lakukan dalam seri mempelajari Kitab Wahyu

 

Penafsiran (Exegesis) itu berorientasi pada bagian ayat yang kita sedang coba untuk pahami, baris demi baris, apa yang penulis berusaha sampaikan, membuat itu menjadi komprehensif.

 

Dengan kata lain metode penafsiran (Exegesis) adalah sesuatu yang dapat kita terapkan pada ayat apa pun didalam alkitab, karena penafsiran hanyalah proses untuk mencoba memahami niat dari seorang penulis Alkitab, ketika mereka menulis kitab tersebut.

 

Kita semua memiliki kesulitan berkomunikasi. sama seperti halnya dalam mempersiapkan presentasi ini. Sebagai penulis saya bergumul untuk menyampaikan niat yang saya ingin sampaikan.

 

Komprehensif berarti bahwa apa pun yang ditulis benar-benar tunduk pada penafsiran (exegesis) dan selanjutnya kita akan melihat bahwa semua itu adalah proses yang deskriptif. Dengan kata lain, penafsiran adalah proses bagi kita untuk menggambarkan dengan sebaik mungkin, apa yang penulis ayat tersebut coba katakan kepada pembacanya.

 

itu adalah proses manusiawi, kita melihat niat manusia sebagai manusia, penulis alkitab diilhami , benar penulis alkitab menerima pesan dari Tuhan, Visi dari Tuhan, tetapi mereka juga manusia, mereka juga memiliki teman dan keluarga yang mereka kunjungi di berbagai tempat

 

mereka membaca surat kabar mereka bertemu orang-orang dalam pekerjaan mereka, mereka beli dan mereka menjual barang-barang, mereka makan dan minum, mereka mengunjungi orang-orang, mereka adalah manusia yang menjalani kehidupan nyata di dunia nyata

 

sehingga ketika kita mengajukan pertanyaan eksegetik (penafsiran), kita mengajukan pertanyaan manusiawi, jenis pertanyaan yang menggali tentang apa yang orang atau penulis itu benar-benar ingin katakan

 

ketika Yohanes menulis kepada tujuh gereja, kita akan mencari tahu apa yang dia inginkan dari gereja-gereja itu, apa yang ingin dia sampaikan kepada mereka apa yang Yohanes maksud sebagai tujuan buku Wahyu.

 

Teologi Alkitabiah (Biblical Theology)

berbeda dengan metode exegesis, maka pertanyaan kedua yaitu teologi alkitabiah (Biblical Theology) yaitu kita mengajukan pertanyaan, kita meneliti apa yang penulis tersebut yakini. apa teologi sang penulis.

 

cara yang sedikit berbeda dengan exegesis, namun tetap pertanyaan abad pertama, tetap alkitabiah , tidak berubah, karena memang pemikiran Yohanes tidak berubah, pemikiran yang 2000 tahun lalu.

 

Karena Yohanes sudah meninggal, dia tidak lagi menulis, tidak lagi berpikir, dia tidak lagi berteologi tentang apa yang dia percaya.

 

Jadi di sini kita dapati dalam Biblical Theology, kita memiliki sumber informasi yang solid tentang Allah, kita memiliki buku yang ditulis oleh Yohanes, yaitu sebuah buku yang tidak berubah dan seorang Yohanes yang tidak berubah

 

tetapi ada perbedaan antara Biblical Theology dan Penafsiran (Exegesis)

Alih-alih mempelajari ayat atau subject, maka disini yang kita pelajari adalah ide

 

Kita akan pelajari dan selidiki apa yang Yohanes percaya tentang akhir dunia, dan itu adalah pertanyaan tematik, model miniatur, dan kita juga menjadi lebih selektif

 

Contohnya jika kita bertanya pertanyaan tentang apa pandangan Yohanes mengenai keselamatan? kita mungkin hanya dapati di beberapa bagian dari kitab Wahyu, tidak banyak ayat di kitab Wahyu tentang topik keselamatan, karena tema kita adalah tentang keselamatan, semua yang tidak ada hubungannya dengan keselamatan tidak akan menjadi perhatian kita.

 

jika kita mengajukan pertanyaan, bagaimana pandangan Yeremia tentang kesehatan, kita mungkin akan menemukan sangat sedikit dalam kitab Yeremia yang membahas pertanyaan tematik seperti itu,

 

karena apa yang penulis Yeremia yakini tentang suatu subjek akan sangat selektif dan kita akan memilih bahan atau tulisan ayat Yeremia yang menjawab pertanyaan kita tsb. apakah ini juga melibatkan proses deskriptif, tentu bisa.

 

 

Teologi Sistematik (Systematic Theology)

Teologi Sistematik, semuanya tampak berubah ketika kita menjawab pertanyaan apa yang harus saya yakini, apa kehendak Tuhan bagi saya, kita pindahkan hal-hal dari keadaan abad pertama ke abad ke-20

 

sekarang tiba-tiba kita mengajukan pertanyaan kita, bahasa kita, sehingga kita dapati terminologi bukannya alkitabiah tetapi filosofis

 

apa yang saya maksud dengan filosofis, setiap orang juga memiliki filosofi kehidupan, sebagian orang mengerti, dan sebagian orang tidak, tetapi filsafat hanyalah pandangan tentang dunia , itu adalah apa yang seseorang pikirkan tentang bagaimana hal-hal disimpulkan

 

Dari mana kita berasal, kemana kita pergi , dan mengapa kita ada di sini dan sebagainya

Setiap orang memiliki filosofi hidup tertentu ketika kita mengajukan pertanyaan pertanyaan filosofis kita mengajukan pertanyaan yang membakar hati kita, membuat kita semangat, mungkin pertanyaan-pertanyaan itu bukan pertanyaan yang pernah Yohanes dengar atau pikirkan.

 

Sebagai contoh tentang orang Kristen yang merokok

Apakah Alkitab membahas, Alkitab berbicara tentang pertanyaan itu, tentu saja tidak. Bahkan tidak ada dalam Alkitab pertanyaan tentang tembakau,

 

Bagaimana kita tahu bahwa tembakau itu tidak baik?

 

Tembakau baru ditemukan oleh orang-orang Eropa sekitar abad ke-16, ditemukan di dunia baru yang hanya diketahui oleh budaya yang tinggal di dunia baru, dunia yang tidak ada kontak dengan Dunia Alkitab

 

Jadi kita tahu bahwa Alkitab tidak membahas masalah merokok

jadi kita bertanya apa yang ada di Alkitab apa yang ada dalam sistem kepercayaan dari Yohanes atau sistem kepercayaan Paulus yang akan membantu kita menjawab pertanyaan tentang merokok

 

tetapi dapatkah kita menjawab pertanyaan itu hanya dari Alkitab, tentu tidak.

karena pada akhirnya alasan mengapa banyak orang Kristen menolak merokok bukanlah alasan Alkitabiah terutama tetapi alasan ilmiah.

 

Tentu ada prinsip Alkitabiah dan prinsipnya adalah prinsip bahwa Tuhan ingin kita menjaga tubuh kita, Tuhan ingin kita menjaga tubuh ini Tuhan dengan penuh kasih ingin membuat kita ingin tubuh ini dijaga tetap sehat agar berfungsi siap untuk melayani orang lain melayani Tuhan

 

itu prinsip dasar tetapi mengapa orang Kristen seharusnya tidak merokok, karena ada bukti ilmiah yang dengan jelas menyatakan bahwa tembakau berbahaya bagi manusia sehingga merusak tubuh yang telah diciptakan Tuhan

 

sehingga apabila didasarkan pada ilmiah. bahwa orang-orang Kristen sering membuat keputusan mereka tidak akan merokok karena mereka menyadari bahwa merokok itu merusak

 

Jadi teologi yang sistematis tidak selalu bergantung pada Alkitab untuk mencari jawabannya

 

ketika kita mengajukan pertanyaan apa yang harus saya percayai apa kehendak Allah bagi kita, kita tidak terbatas pada Alkitab seperti halnya dengan penafsiran Alkitab (Exegesis) dan teologi alkitabiah (Biblical Theology) tetapi kita bisa melangkah lebih jauh

 

Bagaimana dengan psikologi, apa dapat kita temukan kehendak Allah dalam psikologi, tentu ya kita bisa

 

mengapa Alkitab mengatakan kita semua diciptakan dalam gambar Allah, karena ketika kita mempelajari pikiran manusia, kita dapat belajar sesuatu tentang Allah yang menciptakan pikiran mereka

 

sosiologi dapat mengajarkan kita bagaimana manusia berhubungan satu sama lain.

 

Sejarah dapat mengajarkan kita keberhasilan dan kegagalan manusia yang telah berusaha melaksanakan kehendak Tuhan atau mungkin tidak mau mencoba melakukan kehendak Tuhan.

 

Sejarah, ilmu psikologi, sosiologi ini semua adalah berbagai cara di mana Tuhan dapat berbicara kepada kita hari ini

 

karunia rohani , Tuhan memberi orang talenta, talenta mengajar, talenta kepemimpinan, karunia Nubuat

 

dalam Teologi Sistematik (Systematic Theology) pertanyaan yang dilontarkan adalah, apakah kebenaran itu kehendak Allah bagi saya dan oleh karena itu tidak terbatas hanya pada Alkitab

 

apa yang akan kita coba lakukan dalam presentasi-presentasi tentang Kitab Wahyu ini sejauh mungkin mengikuti metode penafsiran (Exegesis) yang berusaha memahami apa yang Yohanes coba katakan ketika dia menulis Kitab Wahyu

 

mencoba memahami arti dari kata-kata dan tulisan tulisan itu pada zaman dan lokasi tempat Yohanes hidup , mencoba memahami Allah yang melalui Yesus, bertemu dengan orang-orang di mana mereka berada, itulah kira kira yang akan kita lakukan.

 

kita juga akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang teologi Yohanes pertanyaan tentang apa yang terjadi dalam benak Yohanes ketika dia menerima penglihatan-penglihatan ini saat dia menuliskannya

 

pertanyaan-pertanyaan tentang tema-tema dasar dan gagasan-gagasan yang akan terjadi di kepalanya

 

dan akhirnya kita ingin, jika memungkinkan, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan hari ini, pertanyaan zaman kita hidup. apa yang dikatakan Wahyu kepada kita yang hidup hari ini dari waktu ke waktu.

 

Tujuan utama dari seri pelajaran Kitab Wahyu, adalah untuk membantu kita selangkah demi selangkah berusaha menerapkan dalam kehidupan kita, pelajaran-pelajaran yang diajarkan Wahyu

 

bisa kita lakukan dengan cerdas dan kita bisa melakukannya tanpa membuat beberapa kesalahan aneh yang telah dilakukan oleh orang-orang di masa lalu seperti David Koresh dll.

 

Teologi Sistematika (Systematic Theology) karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan abad ke-20, maka lebih bersifat filosofis daripada alkitabiah

 

satu contoh lagi, seorang mahasiswa pernah datang kepada saya dan ingin untuk melakukan disertasinya dan topik yang ia sarankan adalah pengudusan dalam Kitab Wahyu.

 

Saya katakan kepadanya bahwa kamu tidak dapat mencari topik pengudusan didalam kitab Wahyu , Saya katakan, jika kamu ingin melakukan secara alkitabiah tentang teologi yang kamu inginkan, yaitu untuk mempelajari apa yang Yohanes yakini tentang pengudusan, masalahnya Yohanes tidak pernah menggunakan kata itu sehingga kamu seolah membandingkan apel dan jeruk

 

Jika kamu ingin tahu apa yang Yohanes yakini tentang pertumbuhan karakter tentang Kehidupan Kristen dan perkembangan Kristen, kita tidak akan menemukannya di kata pengudusan, karena Yohanes tidak pernah menggunakan kata tersebut

dan saya menyarankan agar ia melakukan disertasinya tentang perbuatan baik dalam Kitab Wahyu dan berkali-kali dalam Kitab Wahyu kata kerja digunakan Yohanes tertarik pada bagaimana orang berperilaku setelah mereka menjadi Orang Kristen tetapi dia tidak menggunakan kata pengudusan untuk menggambarkannya

 

jadi saya mengundang mahasiswa ini jika dia ingin melakukan disertasinya dalam kitab Wahyu agar dia menggunakan bahasa itu dengan terminologi alkitabiah dari Yohanes, kemudian dia lakukan dan mahasiswa itu berhasil dengan baik.

 

Jadi jika kita mengajukan pertanyaan teologis yang sistematis, kita perlu berhati-hati agar tidak mencampuradukkan bahasa dengan Alkitab

 

jika kita bertanya apa pandangan Alkitab tentang pengudusan, maka kita perlu membiarkan penulis Alkitab untuk menemukan istilah yang mereka gunakan, dan kita tidak boleh menggunakan asumsi kita.

 

Marthin Luther menggunakan kata pengudusan dengan cara yang tidak digunakan oleh Paulus. ketika kita menggunakan definisi Luther untuk mempelajari Paulus kita dapat mengubah Paulus

 

ketika kita menggunakan definisi kontemporer kita untuk belajar wahyu kita dapat memutarbalikkan Wahyu, karena Wahyu tidak ditulis pada abad ke-20. Kitab Wahyu Ditulis pada tahun 95 M dan itu adalah waktu dan tempat dan suasana kehidupan berbeda yang harus kita pelajari jika kita akan memahami dengan benar maksud Yohanes menulis kitab Wahyu

 

Kembali tentang Teologi Sistematik (Systematic Theology) kategori terminologi nya bersifat filosofis karena pertanyaan yang kita ajukan di sini terus berubah

 

Kita sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak diajukan pada berabad-abad lalu, pertanyaan-pertanyaan masa lalu seperti apakah wanita harus diurapi, apakah orang Kristen merokok dan sebagainya kita mengajukan pertanyaan kepada para penulis Alkitab yang tidak pernah mereka bahas atau tidak pernah ditanyakan.

 

Dalam Teologi Sistematik karena pertanyaan-pertanyaan nya terus berubah , maka jawaban harus dikembangkan untuk memenuhi pertanyaan-pertanyaan itu sehingga dalam prosesnya kita dapat mengatakan bahwa keadaan mengubah kasus (circumstances alter cases)

 

ketika keadaan berubah kadang-kadang Allah juga menyesuaikan diri untuk membantu kita untuk memahami dan berfungsi dalam keadaan yang berubah dan itu bukan berarti bahwa Tuhan itu berubah-ubah tetapi Tuhan menemui manusia di mana mereka berada, adalah prinsip yang kita temui berulang kali dalam ayat ayat Alkitab

 

dan itu berarti, ketika keadaan berubah, ketika pertanyaan-pertanyaannya berubah, Tuhan mampu menyesuaikan dirinya untuk berkomunikasi sesuai keadaan-keadaan itu dan memberi manusia cara untuk hidup secara nyata , yang berguna dan sesuai dengan kehendak-Nya

 

ketika kita perhatikan antara Teologi Sistematik dan Teologi Alkitabiah, maka keduanya bersifat tematis dan selektif

 

ketika kita mengajukan pertanyaan, kita sedang menetapkan tema dan kita sedang memilih sumber-sumber pelajaran kita

 

ketika berbicara tentang merokok, kita akan menemukan Prinsip dasar dalam doktrin alkitabiah tentang merawat tubuh kita tetapi kita akan menemukan rincian yang lebih spesifik dalam ilmu pengetahuan (science)

 

ketika kita mengajukan pertanyaan apakah seorang Kristen boleh merokok, kita sedang mengajukan pertanyaan normatif, kita bertanya apa kehendak Tuhan untuk kita, apa benar dan salah dalam hal ini bagi kita

 

dan ketika kita mendapatkan jawabannya jika jawabannya adalah seorang Kristen tidak boleh merokok maka itu menjadi hukum bagi keberadaan kita, itu bukan normatif itu adalah cara hidup yang Allah harapkan untuk kita hidup dengan kata lain kita meminta Tuhan untuk membimbing kita dalam mempelajari keinginannya.

 

dalam Teologi Sistematik (Systematic Theology), yang kita cari adalah untuk mengerti bagaimana Tuhan ingin kita jalani apa yang sebenarnya rencananya untuk hidup kita. sehingga menjadi Ilahi dan menjadi normatif

 

Begitu juga dengan Theologi Alkitabiah (Biblical Theology) bersifat deskriptif dan normatif.

Deskriptif dalam arti bahwa kita mencoba menggambarkan apa yang diyakini oleh Yohanes atau Paulus , tetapi Normatif juga dalam arti bahwa apa yang Yohanes atau Paulus , dapat menjadi aturan untuk hidup kita juga jika keadaanya sama dengan kita.

 

Dengan kata lain di mana ada keadaan yang sama, apa yang benar dalam satu waktu juga benar di waktu lain juga

 

keadaan mengubah kasus (circumstances alter cases) jika zaman kita hidup sejajar dengan waktu di mana nabi yang menulis itu hidup, maka apa yang dikatakan nabi itu normatif bagi kita hari ini seperti dulu kala

 

Hal itu memberikan ilustrasi seandainya nabi mengatakan sesuatu tentang kesehatan, seandainya nabi mengatakan sesuatu dengan gaya hidup tertentu selalu baik, prinsip seperti itu mungkin tidak akan berubah selama tubuh kita tetap sama dan serupa dengan apa yang mereka lakukan dua ribu tahun yang lalu dan seterusnya

 

keadaan mengubah kasus tetapi di mana keadaannya serupa, prinsip-prinsip alkitabiah memiliki kekuatan yang sama seperti saat ini.

 

Teologi Alkitabiah (Biblical Theology) adalah manusiawi dan ilahi juga.

manusiawi dalam arti penulis Alkitab adalah manusia tetapi ilahi dalam pengertian bahwa pesan diterima oleh penulis Alkitab adalah pesan langsung dari Tuhan

 

Dengan demikian kita telah pelajari 3 metode dasar dalam mempelajari Alkitab,

Penafsiran ( Exegesis) , Teologi Alkitabiah (Biblical Theology) dan Sistematik Teologi (Systematic Theology)

 

Tetapi masalah utama yang seringkali terjadi adalah kecenderungan untuk mencampur dan mencocokkan ketiga metode tersebut

 

misalnya ketika gereja kita mengklaim sebagai yang mengikuti Alkitab (Alkitabiah/Biblical) , itu mungkin benar , tetapi jika gereja tersebut mengajarkan bahwa orang tidak boleh merokok apakah itu 100% akurat, tentu hal merokok tidak 100% Alkitabiah, karena kita mengikuti Ilmu Pengetahuan (Science) juga dalam usaha menuruti kehendak Allah.

 

ketika kita mengajukan pertanyaan tentang pengurapan perempuan, bukankah kita juga berdebat dari pengalaman sejarah, sosiologi, psikologi, serta dari bukti ayat Alkitab

sehingga ketika kita mengatakan bahwa gereja kita mengajarkan Teologi Alkitabiah maka kita tidak seratus persen akurat dengan definisi seperti yang disarankan di sini

 

pernyataan tentang kepercayaan Gereja biasanya menggunakan Teologi Sistematik di mana gereja percaya bahwa Tuhan ingin mereka berada di waktu dan tempat ketika pernyataan tersebut dibuat.

 

sering makna penafsiran (exsegetic) dari ayat atau Teologi alkitabiah dari penulis tidak diperhitungkan dalam hal-hal tentang doktrin sebuah gereja.

 

Sehingga ketika kita mempelajari Kitab Wahyu kita perlu sadar bahwa kita sering membuat pertanyaan pertanyaan yang bukan diperuntukan bagi kitab Wahyu untuk menjawabnya.

 

Contohnya, kita bertanya kepada Kitab Wahyu , apa yang akan dilakukan Kadafi di Libya tahun depan, maka jawaban yang pasti adalah Alkitab tidak punya jawaban nya.

 

jika Alkitab tidak menjawab pertanyaan seperti itu, maka upaya kita untuk mendapatkan informasi seperti itu dari Kitab Wahyu akan menyebabkan kita mengubah maksud dari buku itu

 

sehingga dalam seri pelajaran ini, kita akan membuat metode Penafsiran (Exegesis) menjadi dasar utama diskusi , untuk mengerti maksud dari penulis asli buku ini

 

Selanjutnya mari kita bahas beberapa implikasi praktis dari ketiga metode ini terhadap ayat ayat Alkitab.

 

Pertama-tama , bahwa para nabi tidak perlu melakukan penafsiran.

 

Pertanyaannya kalau para nabi seperti Paulus, Yesaya, Mikha dsbnya tidak perlu melakukan penafsiran (Exegesis), lalu mengapa kita harus

 

Jawabannya adalah bahwa itu adalah pertanyaan otoritas, darimana otoritas nya berasal

Jika Polisi menerima otoritas dari Pemerintah, maka otoritas orang kristen berasal dari Tuhan

sehingga siapa pun membawa otoritas Spiritual hanya sebatas ketika mereka berbicara untuk Tuhan

 

sehingga kualitas penafsiran seorang nabi bukanlah dasar dari otoritas para nabi

otoritas para nabi berada pada kenyataan bahwa nabi memiliki hubungan langsung dengan Tuhan, nabi memiliki visi dan mimpi, nabi mendapat pesan dari Tuhan, ketika Nabi memberikan pesan-pesan itu kepada orang-orang, maka pesan itu datang seolah dari Tuhan sendiri

 

sedangkan kita berbeda, kita perlu melakukan penafsiran (Exegesis) dan itu termasuk kita melakukan penafsiran ( exegesis) terhadap kitab wahyu , mengapa ?,

 

karena satu-satunya jendela yang kita (sebagai manusia biasa) miliki tentang Tuhan, adalah untuk benar memahami firman Tuhan, hanya itu satu-satunya jendela yang benar-benar dapat diandalkan yang kita punya.

 

bukan sains, bukan psikologi dan sosiologi, bukan karunia rohani, tetapi pada akhirnya satu-satunya jendela yang benar-benar pasti kita miliki dalam pikiran Tuhan adalah penafsiran yang cermat dari tulisan tulisan inspirasi

 

Paulus tidak perlu melakukan penafsiran Perjanjian Lama, Paulus sering menggunakan Yesaya dan nabi-nabi lain dengan cara yang sangat sederhana menggunakan bahasa mereka untuk ilustrasi.

 

tetapi ini tidak apa-apa selama Paulus berfungsi di bawah inspirasi dari Tuhan dan Tuhan membantu Paulus untuk mengutip kitab perjanjian lama untuk menyampaikan pesan dari Allah pada waktu dan tempat-Nya, dengan otoritas yang datang adalah otoritas Allah

tetapi saya, saya tidak memiliki Otoritas seperti Paulus.

 

Tetapi bagi saya, Otoritas saya hanya sejauh, ketika saya secara akurat dan semaksimal mungkin dapat mencerminkan isi Alkitab dan tentu ini bukan tugas yang mudah

 

Bersama team saya, kami menghabiskan banyak waktu dan usaha, meneliti hal hal yang cukup sulit dan dengan terperinci menelusuri ayat ayat Alkitab, kami menghabiskan banyak waktu membandingkan ayat dengan ayat, berusaha memahami berbagai nabi, mencoba memahami berbagai buku Alkitab dan dari situ kami telah menarik beberapa prinsip dasar.

 

Saya berusaha kuat untuk mendasarkan prinsip-prinsip itu pada ayat-ayat Alkitab, karena saya tidak memiliki otoritas langsung dari Allah, kecuali bahwa saya akan dengan tepat mempelajari ayat-ayat yang Allah telah berikan

 

kesimpulannya, otoritas saya hanya sebatas bahwa saya secara akurat dapat menjelaskan apa yang ada dalam tulisan Alkitab

 

karena masalahnya para nabi tersebut sudah almarhum. maka judul pelajaran sesi ini adalah pelajaran hidup dari nabi yang telah meninggal

 

kita membutuhkan pelajaran hidup tetapi kemana kita pergi untuk menemukan pelajaran itu adalah kepada nabi yang telah meninggal , melalui tulisan2 mereka.

 

Allah memberikan Wahyu dalam konteks yang berbeda, di tempat yang berbeda, dalam keadaan berbeda dari kita, namun kita sangat perlu mendengar sepatah kata (nasihat) dari Tuhan untuk kita hari ini.

Tidak mungkin kita melakukannya , tanpa mencoba mengerti ayat ayat Alkitab

sering ada orang yang datang mengklaim ayat dan artinya, dan ketika kita lihat apa yang disampaikan berbeda dengan yang ayat tersebut maksudkan.

 

Karena sangat mudah bagi orang untuk membaca Alkitab dengan membawa asumsi dan kesimpulan yang ingin mereka temukan di sana, atas keinginan mereka sendiri, bukan keinginan sang penulis.

 

jadi bagaimana kita dapat membaca Alkitab hari ini sedemikian rupa dengan menghormati niat asli dari penulis atau nabinya, dan menemukan pelajaran dari Nabi yang sudah tiada itu, pelajaran hidup untuk hari ini.

 

izinkan saya menyampaikan bahwa ketiga metode dan pendekatan yang saya sarankan di awal Presentasi ini semua adalah sah.

penafsiran (exegesis) , Teologi Alkitabiah, Teologi Sistematik semuanya adalah cara yang sah untuk mempelajari firman Allah.

 

Ketiga metode ini diperlukan jika kita ingin mendapatkan pelajaran hidup untuk hari ini yang memiliki otoritas Allah sebagai dasarnya.

 

Kita perlu melakukan penafsiran (Exegesis), perlu memahami dalam waktu dan tempat Yohanes, apa maksud Yohanes dan apa maksud Allah, mengerti filosofi dasar Yohanes tentang teologi hidupnya

 

Jika kita mau menerapkan sekarang ini, maka kita perlu bertanya pertanyaan-pertanyaan yang relevan untuk hari ini

 

Ketika kita berusaha mengerti ayat ayat Alkitab, mengerti prinsip-prinsip dasar tentang bagaimana Allah menemui dan berurusan dengan orang-orang pada setiap zaman, kita mengajukan pertanyaan yang relevan hari ini, aplikasinya untuk hari ini,

 

Maka Teologi Sistematik adalah metode yang diperlukan, karena keadaan terus berubah dan maksud Allah memberikan pesan tidak terbatas hanya pada maksud penulis, tetapi diungkapkan melalui penulis dan berlaku untuk setiap zaman.

 

Teologi Sistematik membandingkan ayat dengan ayat dan melihat hal-hal yang penulis aslinya tidak pernah sangka akan diungkapkan kemudian, dan terjadi dalam sejarah setelah penulis itu.

 

seperti Matius yang membaca Yesaya, atau Paulus dan Yohanes yang membaca tulisan nabi-nabi Perjanjian Lama, seperti sejarah kemudian dapat mengungkap makna luas dari kitab Wahyu yang hadir dari kehendak Allah tetapi bukan penulis manusia.

 

bukankah itu yang dipikirkan semua orang ketika mereka meneliti Alkitab, mereka mengatakan bahwa Yohanes tidak mengerti akan hal ini, tetapi kita menarik makna yang lebih luas dari ayat tersebut.

 

bagaimana kita tahu bahwa makna yang lebih luas dari ayat itu valid, bagaimana kita tahu bahwa makna tersebut memiliki otoritas dari Allah

 

satu-satunya cara yang bisa kita ketahui adalah jika makna yang diperluas itu adalah perpanjangan alami dari makna polos (orisinil) dari ayat asli nya.

 

Kita hanya dapat mempercayai makna yang diperluas , ketika kita tahu makna aslinya

ketika kita tahu maksud dari ayat tersebut, ketika makna yg diperluas adalah perpanjangan alami dari makna asli ayat tersebut

 

sehingga Teologi Sistematik sangat sangat penting, tetapi hanya aman ketika kita memiliki dan sudah melakukan penafsiran (Exegesis)

 

pada titik ini mungkin saya harus sedikit menyimpang dari topik, karena sebagian dari kita mungkin akan berpikir apakah kita selalu harus melakukan penafsiran? (Exegesis)?

 

jawaban nya adalah tidak, kita tidak selalu harus melakukan penafsiran (Exegesis)

 

Seringkali dalam pengalaman kita, Tuhan hanya akan menyentuh hati kita dengan perasaan apa yang tepat untuk kita, ketika sebagai orang Kristen kita berniat untuk mengajar satu sama lain untuk membantu satu sama lain untuk memahami firman Allah

 

Sebagaimana sekelompok orang yang mempelajari Alkitab mencari pemahaman, maka mereka perlu berada didalam pengertian atau pemahaman yang sama

 

jika masing-masing orang dalam kelompok belajar tersebut membawa ide-ide mereka sendiri, membawa perasaan mereka sendiri , membawa kesan mereka sendiri tentang ayat tersebut dan bersikeras bahwa itu adalah firman Tuhan, maka tidak akan ada persatuan dalam kelompok itu, mereka tidak akan menemukan maksud Tuhan dalam kelompok itu

 

Sebagai individu untuk kehidupan pribadi sendiri Tuhan sering dapat memotong makna penafsiran dari sebuah ayat untuk mengajarkan kita sesuatu.

 

Pengalaman yang saya alami sendiri, berkali-kali di mana saya hanya duduk membaca teks-teks Alkitab dan tiba-tiba sesuatu muncul di kepala saya dan saya tahu itu bukan bagian dari penafsiran (exegesis) tetapi saya hanya merasakan bahwa Tuhan telah mengajari saya sesuatu untuk hari itu

 

mungkin cara memperlakukan istri saya dan memperlakukan anak-anak saya mungkin tidak ada hubungannya dengan makna penafsiran (exegesis).

 

Tetapi jika setelah itu saya pergi menemui orang lain dan mengklaim, lihat apa yang Tuhan tunjukkan padaku dalam ayat hari ini dan kalian semua harus melakukan hal yang sama

itu cerita yang berbeda itu masalah otoritas itu masalah apa yang benar dan salah untuk kelompok tsb.

 

Sehingga dalam kasus itu, otoritas hanya ditemukan di dalam makna asli dari ayat tersebut , ketika kita semua membaca dengan platform yang sama

 

Secara historis ada dua cara yang bagus untuk mencoba membuat ayat Alkitab relevan untuk hari ini dan cara-cara itu dikaitkan dengan 2 kota kuno Antiokhia dan Aleksandria

 

masing-masing kota ini Antiokhia dan Alexandria menjadi terkait dengan metode membaca Alkitab

 

metode Alexandria yang disebut alegori ini kembali ke Plato filsuf Yunani, Philo filsuf Yahudi abad pertama yg hidup di Alexandria, dan Origen seorang filsuf Kristen Abad ketiga-

masing masing mengembangkan dan memperluas gagasan Alegori

 

semuanya dimulai dengan Plato yang tumbuh dan besar di Yunani kuno di mana mereka memiliki kisah para dewa yang mungkin sering kita dengar.

 

para dewa yang seperti manusia tetapi memiliki kekuatan absolut dan pandangan Plato tentang Tuhan, dia berkata tidak, dia berkata Tuhan tidak seperti itu Tuhan jauh lebih besar dari itu

 

Plato jelas memiliki gambaran yang lebih baik tentang Tuhan, tetapi gurunya, yaitu Socrates sampai mati tetap bertahan dengan gambaran itu.

 

Plato apa yang dia lakukan adalah dia alegorisasi sehingga untuk berbicara tentang Tuhan, dia berfantasi pada tulisan kitab-kitab orang-orang Yunani kuno

 

sampai akhirnya Homer mengajarkan tentang Plato, Homer menulis 500 tahun kemudian, yang menjadi kitab panduan orang-orang Yunani kuno, Homer sekarang mengajarkan apa yang Plato ingin ajarkan dan dalam hal ini Homer telah menyelamatkan Plato

 

Hal-hal serupa terjadi selama bertahun-tahun ketika orang-orang berusaha menemukan dalam Alkitab, pesan-pesan yang relevan bagi mereka.

 

Allegory sangat edifying (penuh pesan moral) , umumnya para pengkhotbah sering melakukannya, mereka melihat kebutuhan menyangkut masalah Gereja mereka dan secara tidak sadar memaksakan dengan cara Alegori, pada konteks asli dari ayat Injil yang sebenarnya

 

Dengan kata lain, alegori adalah cara alami untuk menginterpretasikan Alkitab.

 

Contoh tentang Alegori diambil dari cerita orang samaria yang baik.

 

sang Korban dalam cerita ini adalah Adam, Jerusalem mewakili Surga, Yerikho dunia, dan sang pengelana ini adalah Adam yang pergi dari Surga datang ke dunia.

 

Para Perampok adalah Setan dan para malaikatnya, Imam mewakili hukum dan orang Lewi adalah para nabi, orang Samaria mewakili Kristus dan keledai mewakili tubuh kristus yang membawa Adam yang jatuh dan akhirnya mewakili gereja

 

Dan dua koin yang dibayarkan oleh orang Samaria kepada Pemilik penginapan mewakili Bapa di Surga dan Anak yang berjanji akan datang , mewakili Yesus yang akan datang kembali pada kedatangan yang kedua.

 

Cerita ini adalah alegori yang sempurna dengan cerita yang menarik, yang membuat Origen (filsuf Kristen) pada abad permulaan, menarik pelajaran penting

 

Namun pertanyaannya apakah betul cerita tersebut sesuai dengan apa yang Yesus ingin sampaikan?

 

Origen telah membuat Alegori dari cerita orang samaria yang baik (The Good Samaritan)

Origen membawa ide dan konsep dari waktu dan tempat ketika ia hidup, dia menggunakan cerita tersebut untuk maksud yang sangat berbeda dengan apa yang ayat ayat dari cerita tersebut ingin sampaikan.

 

Dan dengan jujur saya katakan, itulah cara yang umumnya dipakai oleh kebanyakan orang dalam membaca dan mengajarkan Alkitab.

 

Sering kita juga , ketika membaca Alkitab, kita membawa ide dan asumsi sesuai kebutuhan kita.

 

Metode Antioch, sebaliknya menggunakan pendekatan Exegesis terhadap ayat alkitab.

Antioch menyatakan bahwa ayat alkitab harus dapat menerangkan sesama ayat alkitab dan arti yang terkandung didalam nya.

 

Latarbelakang asli nya (waktu , tempat dan keadaan) harus dapat dipelajari dengan baik, setelah itu barulah kita dapat menerapkan pada waktu dan tempat kita sekarang ini. itulah methode Antiokhia.

 

Dan Reformasi masa Luther dan Calvin adalah masa Kebangkitan Antiokhia

 

Antiokhia agak hilang pada Abad Pertengahan dan selama Abad Pertengahan Alkitab melayani hanya untuk melayani ide-ide dari lembaga gereja saat itu

Alkitab bukanlah saksi yang independen tentang otoritas Allah tetapi otoritas Allah dijalankan melalui gereja

dan ini yang menuntun orang-orang jauh dari Alkitab dan jauh dari kehendak Allah

 

seperti yang saya katakan banyak pengkhotbah akan menggunakan alegori dalam khotbah-khotbah mereka akan menggunakannya sebagai ilustrasi dan ini tidak selalu berbahaya jika teologi seorang penafsir itu masuk akal.

 

tetapi masalahnya adalah tentang legitimasi pada alegori, bahwa rata-rata orang akan menganggap dan berpikir bahwa mereka sedang mempelajari Alkitab padahal sebenarnya mereka hanya membaca ke dalam Alkitab dengan setting, tempat dan keadaan waktu mereka sendiri

 

jadi saya menyarankan dengan sangat kuat di sini bahwa jika kita ingin memahami kitab Wahyu, kita perlu memahami bagaimana cara kita membaca buku itu

 

apakah kita membacanya secara eksegetis

apakah kita membacanya secara teologis

atau apakah kita membacanya secara alegoris

yang dengan sederhana mencari di dalam kitab Wahyu jawaban-jawaban yang kita buat sendiri untuk menjawab pertanyaan yang kita buat sendiri

 

dalam presentasi 7 sampai 12 kita akan belajar secara rinci apa artinya melakukan penafsiran Kitab Wahyu

 

Kita akan melihat beberapa pedoman dan perlindungan bagi para pendeta dan kaum awam yang mungkin tidak mempunyai alat-alat ilmiah namun rindu mempelajari dan mengajarkan Kitab Wahyu dengan cara yang cermat dan sistematis, maka presentasi berikut (yg ke 5) akan menjadi tur praktis ke kota Antiokhia.

 

.