Blog

Pentingnya Kiasan (Allusion) Perjanjian Lama

Jun 5, 2020 11:15:34 PM / by Jon Paulien

 

1.10 Alusi (Allusion)/ Kiasan Perjanjian Lama dan Arti Penting nya

Saya ingin membahas tentang Perjanjian Lama dalam Kitab Wahyu.

 

Kita telah memperhatikan pentingnya Perjanjian Lama dan mungkin ingat saya membacakan sebuah komentar dari William Milligan, salah satu komentator terkemuka dalam Kitab Wahyu sekitar seratus tahun yang lalu, dan ia membuat pernyataan berikut

 

“Kitab Wahyu benar-benar tenggelam dalam ingatan, kejadian, pikiran. dan bahasa masa lalu gereja sedemikian rupa sehingga tidak ada satu kata yang tidak diambil dari Perjanjian Lama, atau satu kalimat lengkap tidak lebih atau kurang dari bahan yang dibawa dari sumber yang sama yaitu dari Pernjanjian Lama ".

 

jadi menurut William Milligan, jika kita belajar Kitab Wahyu tanpa mengetahui Perjanjian Lama, tanpa menyinggung Perjanjian Lama, maka kita tidak akan bisa memahami buku itu. karena hampir setiap kata, frasa, ide dalam Kitab Wahyu memiliki sumbernya di suatu tempat di Perjanjian Lama.

 

tokoh yang lebih kontemporer, Heinrich Croft, seorang komentator Jerman yang menulis komentar yang bagus tentang kitab Wahyu sekitar 20 tahun yang lalu, dia mengatakan “dapat kita katakan secara umum, jika kita belum berhasil menemukan sumber Perjanjian Lama untuk nubuat apokaliptik, maka kita belum menafsirkan Ayat itu.

 

Sangat jelas bahwa jika kita tidak memahami Perjanjian Lama, kita juga tidak akan mengerti Kitab Wahyu.

jadi, sangat penting bagi kita untuk mempelajari proses yang dengannya kita dapat menemukan apa yang dibahas dalam Perjanjian Lama dalam Kitab Wahyu dan memahami pentingnya bagian-bagian itu sebagai bagian dari penelaahan kita terhadap buku itu.

 

seperti yang saya sebutkan sebelumnya mungkin ada 2000 referensi dari satu atau lain jenis Perjanjian Lama. mereka dapat berupa kata, atau frasa, kadang-kadang nama kota atau nama seseorang dan dengan ini berarti Kitab Wahyu mengikat kita dengan Perjanjian Lama dalam banyak hal. Saya menyebutnya kunci dari kata sandi rahasia

 

Sering kita tidak akan mengerti kata tertentu atau bahkan aliran pemikiran Yohanes di kitab Wahyu, sampai kita telah melihat bagaimana ayat itu terkait dengan latar belakang Perjanjian Lama.

 

ada ratusan simbol dalam Kitab Wahyu dan menurut perkiraan saya mungkin 80 hingga 85% dari keseluruhan, kita akan menemukan makna simbol-simbol yang tercantum dalam Perjanjian Lama. tetapi bagaimana Perjanjian Lama digunakan dalam ayat-ayat suci Perjanjian Baru?

 

ada tiga cara utama yang penulis Perjanjian Baru merefleksikan Perjanjian Lama dan membawa materi tersebut ke dalam Perjanjian Baru.

 

Citation

yang pertama adalah metode yang bisa kita sebut sitasi (citation). citation terjadi ketika seseorang mengutip karya sastra sebelumnya, mengutipnya dengan cukup luas dan kemudian memberi tahu dengan tepat di mana sumbernya. Istilah zaman sekarangnya adalah “catatan kaki” (footnotes), kita mengutip sesuatu dan kemudian memberikan referensi catatan kaki,sehingga semua orang tahu dari mana sumbernya.

jadi sitasi (citation) benar-benar cara termudah untuk referensi materi sebelumnya karena pembaca dan penulis sama-sama jelas apa yang dikutip dan dari mana asalnya.

 

 

Quotation

sebaliknya, kutipan (quotation) mirip dengan sitasi (citation) dalam arti ada sejumlah besar materi yang dirujuk. ada cukup kata dalam satu baris sehingga kita tidak banyak pertanyaan lagi dari mana asalnya, meskipun penulis tidak memberikan referensi, kutipannya cukup panjang sehingga kita tahu persis dari mana asalnya.

 

dan mungkin contoh dari hal ini adalah “Mary Had a Little Lamb”. semua orang tahu bahwa ada lagu anak bernama Mary memiliki domba dengan bulu putih seperti salju dan sebagainya, umumnya dipahami dan orang-orang tahu sumber nya, cukup dengan mengutip sebagian dari itu dan orang-orang mengerti bahwa itu adalah kutipan.

 

Allusion

Tapi ada jenis referensi ketiga disebut Alusi ( Allusion) atau Kiasan. judul presentasi ini adalah “kiasan Perjanjian Lama dan arti pentingnya”.

 

Alusi ( Allusion) atau Kiasan menyinggung literatur sebelumnya, tidak mengutip dan juga bukan memberikan referensi, Alusi / Kiasan tidak mengutipnya secara luas sehingga benar-benar pasti dari mana sumbernya.

 

Alusi (Allusion) kiasan jauh lebih misterius. Alusi ( Allusion) atau Kiasan bisa menggunakan hanya sebuah kata, hanya sebuah frase, hanya sebuah ide untuk memasukkan referensi ke dalam pikiran. Alusi ( Allusion) atau Kiasan jauh lebih rumit daripada kutipan karena bisa sangat sulit bagi pembaca untuk mencari tahu ke mana arah penulis, apalagi setelah 1900 tahun berlalu.

 

Sebagian besar audiens Yohanes saat itu, akan segera menangkap Alusi ( Allusion) atau Kiasan untuk Perjanjian Lama. Karena mereka hidup bersama dengan Yohanes, akrab dengan ajarannya, akrab dengan pengetahuannya tentang Perjanjian Lama dan ketika mereka berbagi pengalaman itu bersama-sama, mereka akan siap untuk mengambil petunjuk bagian-bagian Perjanjian Lama sebagai latar belakang Kitab Wahyu.

 

Tetapi setelah 1900 tahun dan dalam masyarakat dimana Perjanjian Lama hampir tidak dikenal, Alusi ( Allusion) atau Kiasan Perjanjian Lama dalam Wahyu dapat dengan mudah dilewatkan, mudah dilupakan, dan akhirnya pesan kitab Wahyu disalah artikan.

 

Satu hal lagi tentang Alusi ( Allusion) atau Kiasan. bahwa Kitab Wahyu itu unik karena tidak pernah mengutip Perjanjian Lama.

 

jika saja kitab Wahyu mengutip perjanjian lama, tentu tugas kita akan jauh lebih mudah. tetapi sebaliknya Kitab Wahyu hanya menyinggung Perjanjian Lama, hanya sedikit petunjuk di sana-sini.

 

ada satu tempat di kitab Wahyu di mana tampaknya ada kutipan, yang terdapat dalam Wahyu 15 yang berbicara tentang nyanyian Musa , bagi Para Sarjana Perjanjian Lama segera tahu bahwa nyanyian Musa adalah referensi ke Keluaran 15 di mana terdapat sebuah lagu yang dinyanyikan orang Israel di tepi laut.

 

Tetapi jika kita lihat pada Wahyu 15 dan membandingkannya dengan Keluaran 15, kita akan menemukan bahwa lagu Musa tidak dikutip dalam Wahyu 15. ketika sekelompok orang dalam Wahyu 15 menyanyikan lagu Musa, mereka tidak bernyanyi Keluaran 15 tetapi sebaliknya mereka menyanyikan sekumpulan ide yang diambil dari sekitar delapan atau sembilan bagian Perjanjian Lama yang berbeda, tidak satupun yang di ambil dari kitab Keluaran.

 

Kitab Wahyu 15 tidak mengutip Perjanjian Lama, tetapi melakukan Alusi ( Allusion) atau Kiasan, tersirat di sana-sini, dan pembaca diharapkan untuk melakukan meneliti latar belakang ayat tersebut dengan serius jika pembaca ingin memahami apa yang terjadi dalam buku ini.

 

Dalam penelitian saya, saya menemukan ada dua cara berbeda yang dibuat oleh penulis Wahyu melakukan Alusi ( Allusion) atau Kiasan ke Perjanjian Lama. yang pertama saya sebut "alusi langsung" (Direct Allusion). Yang kedua adalah "gema" (Echo).

 

Direct Allusion

Kiasan langsung (Direct Allusion) adalah ketika penulis dengar sadar, dan sengaja mengarahkan pembaca ke bagian Perjanjian Lama tertentu. niatnya adalah agar kita akan mengenali hubungannya, menyadari konteks dari referensi Perjanjian Lama ketika mempelajari Wahyu.

 

Echo

cara yang kedua adalah yang dikenal sebagai Gema (Echo).

 

Gema bukanlah niat sadar dari pihak penulis. dalam gema, ia menggunakan bahasa yang mungkin didasarkan pada perjanjian lama. Tetapi dia sendiri mungkin tidak sadar dari mana asalnya bahasa itu.

 

Gema (Echo) adalah sesuatu yang bisa dikatakan di awang awang atau sambil lalu, sesuatu yang baru saja diangkat menjadi bahan pembicaraan oleh masyarakat ketika itu.

 

Kita dapat dengan mudah mengerti Perjanjian Lama jika kita dibesarkan di sebuah sinagoge Yahudi misalnya, jika kita terus-menerus mendengar Perjanjian Lama dikutip, terus-menerus mendengarnya dirujuk, dan orang-orang sekitar kita bercanda menggunakan bahasa Lama Perjanjian dan kita tumbuh dilingkungan yang menggunakan perjanjian lama, sehingga membuat kita sering menggunakan Ekspresi yang diambil dari Perjanjian Lama, sehingga tanpa sadar lagi atau sudah secara otomatis kita menggunakan ungkapan-ungkapan Perjanjian Lama sebagai ekspresi kita.

 

Agar lebih mudah mengerti bagaimana cara kerja Gema (Echoes), kita gunakan sebuah ilustrasi berikut.

 

Apakah Anda tahu apa itu lemon ?, bagi masyarakat kebanyakan adalah nama buah. Tetapi bagi masyarakat di Amerika, mereka segera sadar ketika kita mengucapkan kata "lemon" dan mereka mengerti bahwa itu tentang mobil, mobil jenis apa?

 

Lemon itu adalah merek mobil yang gagal. itu adalah mobil merek baru namun gagal. Lemon adalah mobil yang jelek sekali.

 

sebagian kita kita mungkin tidak mengetahui dari mana istilah itu berasal. ia memiliki sejarah panjang dalam bahasa Inggris, dan salah satu sumber utama kembali ke sebuah buku karya Ralph Nader bertahun-tahun lalu jika kita meletakkan lemon dengan 4 roda di sampul sebuah buku artinya kita berbicara tentang mobil yang jelek.

 

jika anda menulis buku tentang lemon, audiens anda saat ini akan segera mengerti. tetapi katakanlah buku Anda telah dilupakan dan katakanlah bahwa peradaban ini telah dilupakan dan 2000 tahun telah berlalu dan seseorang akhirnya menemukan buku Anda di tumpukan sampah di suatu tempat di Mesir kemudian mereka membaca buku Anda yang membahas tentang lemon, apa yang akan mereka pikir? mereka akan berpikir bahwa Anda berbicara tentang buah jeruk, bukan? mereka kehilangan arti dari istilah lemon merek mobil yang gagal.

 

agar mereka mengetahui apa arti lemon, mereka mungkin harus menggali buku Ralph Nader untuk memahami tulisan anda.

 

Yohanes sering menggemakan (Echo) bahasa Perjanjian Lama. dia mungkin tidak menyadari pada saat-saat seperti itu bahwa dia menggunakan bahasa Perjanjian Lama, dia mungkin tidak mengarahkan pembaca ke ayat tertentu di Perjanjian Lama. tetapi arti dari istilah yang digunakan Yohanes masih ditemukan dalam Perjanjian Lama dan 1900 tahun setelah Yohanes menulis, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, kita perlu menggali arti dari Gema ini jika kita ingin mengerti buku John.

 

Jadi, secara ringkas, ada dua cara yang digunakan Yohanes untuk merujuk pada Perjanjian Lama.

 

yang pertama adalah dengan cara Alusi langsung (Direct Allusion) kiasan atau singgungan langsung di mana Yohanes secara sadar bermaksud mengarahkan pembaca ke suatu bagian Perjanjian Lama yang spesifik.

 

yang kedua adalah Gema atau Echo di mana Yohanes menggemakan bahasa yang dapat dipahami dengan mempelajari Perjanjian Lama, tetapi dia sendiri tidak menunjuk secara spesifik bagian perjanjian lama yang dimaksud.

 

 

Kita mulai dengan kiasan langsung dan kemudian kita akan berbicara sedikit tentang peran Gema (Echoes).

 

Bagaimana kita tahu kapan Yohanes menggunakan Alusi (Allusion) atau Kiasan Perjanjian Lama secara langsung? ketika Yohanes secara sadar bermaksud agar pembaca menunjukkan suatu bagian Perjanjian Lama tertentu?

 

Tentu proses mendeteksi Alusi adalah proses menentukan probabilitas. satu-satunya cara saya bisa benar-benar yakin persis apa latar belakang Perjanjian Lama dalam benak Yohanes, adalah dengan bertanya kepada Yohanes sendiri, masuk ke dalam pikirannya dan mengerti apa yang dia ingin sampaikan.

 

Namun kita tidak memiliki kesempatan itu, kita tidak memiliki akses ke pikiran Yohanes dengan cara langsung. yang dapat kita akses hanyalah tulisan-tulisan yang ditinggalkan Yohanes. jadi apa yang kita lakukan?

 

apakah itu berarti Kitab Wahyu tidak pernah dapat dipahami karena kita tidak mungkin memahami pikiran Yohanes dalam pengertian sepenuhnya?

 

tidak, saya percaya kita dapat menentukan kiasan langsung (Direct Allusion) dari kitab Wahyu dan dalam hampir setiap kasus cukup yakin bahwa kita akurat. apa yang perlu kita lakukan adalah mengumpulkan bukti yang ada dalam ayat-ayat.

 

 

yang akan saya lakukan sekarang adalah dengan ringkas memaparkan metode dan proses dan saya mengundang Anda untuk mempelajari presentasi ini berulang-ulang sampai anda menguasainya. Saya sarankan agar untuk mempraktikkannya, untuk bereksperimen.

 

Pengalaman saya dengan siswa-siswa di Seminari bahwa jika saya memberikan metode ini dan mereka mendengarkannya dan tidak melakukan apa-apa lagi maka itu tidak memiliki efek jangka panjang untuk memahami kitab Wahyu.

 

tetapi jika saya meminta siswa untuk melakukan tugas, jika saya meminta mereka untuk menggali lebih dalam satu bagian dalam Kitab Wahyu, jika saya meminta mereka untuk menentukan mana alusi langsung (Direct Allusion) dan memeriksa bukti-bukti ke depan setelah 20 atau 30 atau 40 jam berlatih, suatu hari mereka akan datang dengan mata yang bersinar dan senyum lebar di wajah mereka dan berkata sekarang saya mengerti saya sudah mendapatkannya, saya sudah mempraktekkannya.

 

dengan sejumlah praktik dalam mendeteksi alusi, kita akan menjadi semakin kompeten dalam hal itu sampai saatnya tiba ketika anda melihat didalam Kitab Wahyu penuh dengan lambaian tangan dari berbagai ayat yang mengatakan “lihat aku lihat aku, aku dari kitab Kejadian (Genesis) aku dari eksodus atau aku dari Daniel ”dan kemudian mereka mulai muncul di mana-mana dan Kitab Wahyu tiba-tiba menjadi buku yang sama sekali baru, yang penuh diisi dengan makna yang tidak pernah anda lihat sebelumnya.

 

jadi bagaimana kita melakukannya? dalam 20 atau 30 jam kedepan kita praktekkan pertama-tama mencari paralel verbal. katakanlah kita sedang melihat Wahyu 6 misalnya. bahwa Wahyu 6 didasarkan, katakanlah Daniel 6.

 

Verbal Paralel

apa yang akan kita lakukan dalam kasus itu adalah meletakkan dua pasal itu secara berdampingan , mungkin difoto copy dulu dengan memperbesar cetakannya sehingga semua kata dan ayat seolah muncul keluar kemudian membandingkannya, dan meletakkan dua pasal itu secara berdampingan dan mulai membacanya dan membandingkannya dan menandai setiap kali kita menemukan kata kunci yang ditemukan di kedua bagian paralel

paralel adalah setiap kali kita menemukan setidaknya dua kata kunci yang sama di antara Wahyu 6 dan Daniel 6 .

 

Izinkan saya memberi sebuah contoh dalam Kejadian 19, ketika Abraham menjadi perantara bagi Sodom. Anda mungkin ingat kisah tentang bagaimana seorang malaikat datang dan makan dengan Abraham dan kemudian dia dan dua temannya pergi dan Abraham berjalan dengan Malaikat utama dan menemukan bahwa para malaikat ini datang untuk menghancurkan Sodom dan Abraham memohon kepada malaikat untuk tidak melakukannya dan mencoba negosiasi tetapi pada akhirnya dia tidak berhasil, Sodom dihancurkan dan ketika Abraham bangun keesokan paginya dia melihat apa yang telah terjadi, dia naik ke bukit dan melihat dan dia melihat asap Sodom naik seperti asap tungku yang bagus.

 

Jika kita beralih ke Wahyu 9 : 2, kita akan menemukan frasa yang tepat "seperti asap dari tungku api yang besar". Itu adalah paralel verbal, ada tiga kata utama (keywords) asap, besar, dan tungku secara paralel antara Kejadian 19:28 dan Wahyu 9: 2. apakah itu berarti bahwa Yohanes menyinggung atau melakukan Alusi (Allude) Kejadian 19 dalam Wahyu 9? belum tentu.

 

Apa yang kita Lakukan disini adalah mengumpulkan bukti, paralel verbal hanyalah salah satu cara dari bukti yang akan dicari seseorang dalam menentukan apakah ada singgungan/kiasan langsung (Direct Allusion) atau tidak.

 

Paralel verbal dapat menjadi bukti yang sangat kuat bahwa semakin banyak kata yang kita dapatkan sama di antara dua bagian, maka semakin besar kemungkinan bahwa satu penulis sebenarnya sedang mengutip bagian yang lain atau setidaknya menyinggung bagian yang lain. bahkan jika paralel verbal kita dapatkan cukup banyak, katakanlah 15 atau 20 kata berturut-turut, maka itu bukan lagi kiasan (Allusion), itu adalah kutipan (Quotation). Dan kutipan menurut definisi adalah di mana kita memiliki kepastian bahwa seorang penulis mengutip bagian dari pasal lain karena bahasanya sangat mirip.

 

 

jadi ketika kita membandingkan ayat-ayat, kita mencari paralel verbal dengan kata yang sama persis digunakan dalam sumber paralel. Bukan kata-kata seperti "dan" dan "dalam" dan "itu", karena ini bukan kata-kata utama (keywords), yang kita cari adalah kata kunci, kata kunci yang sama di antara kedua pasal atau ayat yang sedang kita bandingkan..

 

seperti asap tungku besar, kombinasi kata kata itu sangat sangat jarang ditemukan , sehingga ketika kita menemukannya dalam Wahyu 9 dan juga menemukannya dalam Kejadian 19, menjadikannya spesial.

 

Jadi silahkan coba praktekkan mencatat paralel-paralel verbal seperti itu ketika kita meneliti sebuah ayat.

 

Thematic Parallel

Hal kedua yang kita cari adalah apa yang saya sebut "paralel tematik". (Thematic Paralel),

dalam paralel tematik (Thematic Paralel), kita tidak harus memiliki paralel verbal, kita mungkin akan menemukan kata-kata yang berbeda tetapi akan ada tema umum antara kedua dua bagian pasal atau ayat tsb. kita akan temukan bahwa kedua bagian tsb berurusan dengan subjek yang sama, berurusan dengan ide yang sama.

 

dengan sendirinya pararel tematik tidak terlalu kuat penekanannya, karena biasanya sang penulis memikirkan bagian lain (pasal lain) dalam benaknya, ia akan menggemakan (Echo) bahasanya, atau hanya temanya. tetapi ada kalanya paralel tematis secara otomatis akan melibatkan kiasan langsung (Direct Allusion). bagaimanapun itu adalah bagian dari bukti yang kita kumpulkan.

 

jika dua bagian ayat memiliki tema yang sama dan mereka memiliki bahasa yang sama maka secara umum kemungkinan kedua bagian ini secara paralel jauh lebih besar. Ide yang sama, dan bahasa yang sama, kedua bagian ayat atau pasal itu, saling membantu menafsirkan satu sama lain.

 

Contoh dari Paralel Tematis (Thematic Paralel)

 

dalam Yehezkiel 9 :4 kita menemukan sebuah kisah tentang Yerusalem yang akan dihancurkan dan Yehezkiel mendapat khayal dimana ada 6 orang pria dengan senjata yang dahsyat di tangan mereka dan ada orang ketujuh yang membawa alat tulis inkhorn dan buku catatan untuk membuat catatan, dan orang ini pergi dari satu tempat ke tempat lain dan dia memberi tanda pada dahi orang jika orang itu sedang berduka dan menangis karena kekejian di negeri itu. lalu kemudian orang-orang yang memiliki tanda di dahi dilindungi dari penghakiman enam orang yang memegang senjata di tangan mereka.

 

jadi dalam Yehezkiel 9 temanya adalah tanda yang diletakkan di dahi untuk melindungi manusia dari penghakiman Allah. cukup menarik, karena kebetulan Yehezkiel dan Wahyu kedua pasal dan ayatnya sama (9:4) sehingga mudah untuk diingat

 

dalam Wahyu 9: 4 ada tanda meterai yang diberikan pada dahi orang-orang yang melayani Tuhan dan tanda meterai ini melindungi. meterai itu melindungi dari kalajengking belalang yang merupakan penghakiman Allah dalam sangkakala kelima (5th Trumpet).

 

sekarang kita perhatikan dalam Yehezkiel 9 ada istilah kata yang berbeda untuk “Tanda” dibandingkan dengan kitab Wahyu 9. Wahyu menggunakan istilah "meterai", mereka dimeteraikan di dahi mereka. Yehezkiel tidak menggunakan istilah "meterai", ia menggunakan istilah Tanda, surat yang tertulis di dahi orang-orang ini.

 

jadi disini bukan paralel verbal, karena satu-satunya kata yang sama adalah kata dahi,

jadi jika hanya satu kata bukan paralel verbal. kita perlu setidaknya dua kata yang sama sebelum mentapkannya sebagai paralel verbal yang signifikan.

 

tetapi disini jelas kita dapati memiliki paralel tematik dan yang sangat kuat.

gagasan menandai dahi untuk melindungi orang dari penghakiman Allah adalah paralel yang sangat kuat dan signifikan sehingga sangat mungkin bahwa penulis Wahyu 9 memikirkan Yehezkiel 9 dalam pikirannya.

 

Structural Parallel

Ketiga adalah paralel struktural (Structural Parallel), ada paralel struktural dengan Perjanjian Lama dalam Kitab Wahyu.

 

dalam paralel struktural kita mungkin memiliki serangkaian gagasan yang sama di antara dua bagian pasal Wahyu dan Perjanjian lama. Sebagian besar kitab wahyu memiliki paralel struktural (Structural Paralel).

 

Misalnya, dalam sangkakala kelima, Wahyu 9: 1-11, kita dapati paralel struktural dengan Yoel 2: 1-11. dalam Yoel pasal 2: 1-11 ada sangkakala yang ditiupkan, ada Kegelapan, Belalang, tumbuh-tumbuhan , kuda, kereta, kesedihan dan seorang pemimpin, dan masing-masing diberikan dalam urutan yang hampir sama

 

Lihat dalam Wahyu 9. sekali lagi terompet, Kegelapan, Belalang, tumbuh-tumbuhan, kuda, kereta, kesedihan dan referensi kepada seorang pemimpin.

 

jadi tampaknya cukup jelas bahwa Yoel pasal 2 adalah paralel struktural dengan Wahyu 9: 1-11 nampaknya penulis kitab Wahyu ketika ia menulis Wahyu 9 memikirkan Yoel 2: 1 - 11 dalam pikiran, tampaknya mengikuti bagian itu demi bagian, poin demi poin.

 

contoh berikutnya, ada sejumlah persamaan struktural yang cukup signifikan dalam Kitab Wahyu. misalnya dalam Wahyu 4 & 5 memiliki struktur yang kuat sejajar dengan Yehezkiel 1.

 

Dalam kelas doktoral saya pernah memberi siswa bahasa Grika Yehezkiel 1, terjemahan septuaginta dari bahasa Ibrani asli Yehezkiel 1 dan saya memberi mereka Wahyu 4 juga di bahasa Grika, dan minta mereka untuk menandai semua kata-kata paralel.

 

mereka terkejut heran karena hampir sepertiga dari kata-kata dalam Wahyu 4 diambil dari Yehezkiel 1. Jadi ada hubungan yang kuat antara Wahyu 4 dan Yehezkiel 1. Ini adalah paralel struktural.

 

Contoh-contoh lain dari persamaan struktural adalah

  • Daniel 7 di belakang Wahyu 13 dan Wahyu 17.
  • juga Yehezkiel 26 dan 27 di belakang Wahyu 18.
  • kemudian Yehezkiel 40 sampai 48 di belakang seluruh kisah Yerusalem Baru dalam Wahyu 21 dan 22,

dan ada banyak lebih banyak yang bisa kita sebutkan ketika kita mempelajari ayat demi ayat menelusuri Kitab Wahyu.

 

Tetapi paralel struktural tidak terbatas hanya pada referensi ayat-ayat sebelumnya. paralel struktural juga dapat dirujuk ke ide secara menyeluruh.

 

misalnya, sangkakala Wahyu jelas didasarkan pada tulah kitab Keluaran. tulah-tulah sangkakala dan tulah-tulah dari Keluaran adalah paralel. Dalam kedua kasus itu kita dapati air yang berubah menjadi darah, dalam kedua kasus ada hujan es dan api yang jatuh dari surga, dalam kedua kasus itu ada tulah kegelapan, dalam kedua kasus itu ada adalah tulah di mana orang dan hewan mati dan sebagainya.

 

Kita dapat menarik kesimpulan yang kuat bahwa sangkakala didasarkan pada Keluaran dari Mesir dan bukan hanya pada kitab Keluaran, tetapi Keluaran dari Mesir direferensikan ke seluruh Perjanjian Lama khususnya dalam Mazmur dan seperti yang telah kita perhatikan dalam presentasi sebelumnya. juga melalui para nabi.

 

jadi sangkakala didasarkan sebagai paralel struktural pada tema keluaran (The Exodus) dan khususnya wabah atau tulah-tulah dari Tema Keluaran dalam Perjanjian Lama.

 

jadi ketika kita temui paralel verbal dengan teks Perjanjian Lama mengenai Keluaran, jika paralel dengan sangkakala, kemungkinan kita memiliki singgungan atau kiasan langsung (Direct Allusion) yang cukup kuat.

 

persamaan atau paralel struktural (Structural Paralel) adalah bukti yang sangat kuat adanya kiasan langsung (Direct Allusion) karena melibatkan banyak kiasan verbal dan tematik. semua hal dipertimbangkan, semakin banyak bukti yang dapat kita temukan bahwa Perjanjian Lama tertentu melintas di belakang Kitab Wahyu, semakin besar kemungkinan hal itu ada dalam pikiran penulis ketika ia menulis.

 

persamaan struktural umumnya adalah yang paling pasti karena sifatnya yang majemuk.

 

Jumlah kata yang sama juga sangat penting dan jika kita dapati paralel verbal 6,7, atau 8 kata yang semuanya sama dengan ayat sebelumnya, mungkin kita memiliki kiasan langsung (Direct Allusion) di sana.

 

Satu lagi hal yang perlu diingat adalah jika pilihan kata tertentu, merupakan kumpulan bukti tertentu yang mengarah kembali ke satu ayat di Perjanjian Lama, maka besar kemungkinannya bahwa ayat Perjanjian Lama tersebut itu ada dalam pikiran Yohanes (penulis).

 

Satu masalah yang kita temui dengan tema Keluaran, adalah bahwa karena begitu banyak tema Keluaran (Exodus) ditemukan dalam Perjanjian Lama , kadang-kadang tema keluaran merujuk pada 10 atau 12 ayat-ayat Perjanjian Lama yang berbeda yang semuanya menyebutkan sesuatu tentang Keluaran menggunakan bahasa Keluaran.

 

Dalam situasi seperti itu menjadi lebih sulit untuk menentukan dengan tepat ayat mana di Perjanjian Lama yang ada dalam pikiran Yohanes, bahkan mungkin bisa jadi kita sedang berurusan dengan sebuah gema (Echo) ,

 

Bisa jadi karena Yohanes begitu akrab dengan tema Keluaran karena membacanya berulang-ulang dalam Perjanjian Lama. sehingga dia tidak menunjuk kepada ayat tertentu dalam Perjanjian Lama. (kita akan membahas Echo atau Gema berikutnya)

 

Jadi menurut saya, ketika walaupun hanya memiliki satu ayat latar belakang Perjanjian Lama , juga kita dapati paralel tematik (Thematic Paralel) dan paralel struktural (Structural paralel) yang jelas, maka kemungkinan besar bahwa penulis Wahyu memiliki ayat tertentu dari Perjanjian Lama yang ada dalam pikirannya.

 

Boleh saya simpulkan Kiasan (Allusion) dalam lima kemungkinan

  • kiasan yang pasti (certain allusion)
  • lebih mirip kiasan ( probable allusions)
  • kemungkinan kiasan (possible allusions)
  • tidak pasti kiasan (uncertain allusions)
  • dan bukan atau tanpa kiasan (none allusions)

jadi ketika kita meneliti dua ayat atau pasal, Katakan saja Wahyu 6 dan Daniel 6, dan tidak menemukan sedikit pun bukti, bukan paralel verbal, bukan paralel tematis, bukan paralel struktural. maka kesimpulannya secara jujur adalah ​​tidak ada singgungan/kiasan (none Allusion). Wahyu 6 tidak menyinggung Daniel 6 sejauh yang saya tahu memang demikian.

 

di sisi lain pada Wahyu 4 dan Yehezkiel 1, jika kita bandingkan dua pasal tersebut, kita menemukan banyak paralel verbal, juga banyak paralel tematik bahkan seluruh struktur dalam Kitab Wahyu diambil dari Yehezkiel 1, artinya kita memiliki kiasan minimal kemungkinan kiasan (probable allusion) atau bahkan itu adalah kiasan yang pasti (certain allusion)

 

dalam menafsirkan ayat dari kitab Wahyu, kita perlu sangat berhati-hati, kita perlu kemungkinan kiasan (probable allusion) atau kiasan yang pasti (certain allusion)

 

Ketika kita yakin atau cukup yakin bahwa penulis kitab Wahyu menunjuk pada teks Perjanjian Lama tertentu, penting untuk kembali ke Perjanjian Lama dan dengan hati-hati memeriksa konteks Perjanjian Lama untuk melihat apakah ada paralel dalam konteks antara kedua pasal tersebut. bisa jadi ada sesuatu di latar belakang teks Perjanjian Lama yang ingin diingat oleh penulis Wahyu.

 

di sisi lain jika kita tidak begitu yakin, jika itu hanya singgungan atau kiasan yang mungkin (probable allusion), ada beberapa kata yang umum tetapi tidak bisa meyakinkan diri kita , maka kita bisa menggunakan ayat-ayat itu sebagai bukti pendukung, bukan menggunakannya sebagai bukti utama untuk menafsirkan Kitab Wahyu.

 

sekarang sebelum kita lanjut membahas kiasan langsung (direct Allusion), kita mungkin harus membahas dengan singkat tentang bagaimana caranya kita menemukan ayat untuk kita dibandingkan?

 

umumnya, titik awal yang baik adalah menggunakan margin atau index dari Alkitab, dan margin atau index dalam Perjanjian Baru bahasa Grika sangat baik, tetapi beberapa versi Alkitab seperti versi NASB “The New American Standard Study Edition” memiliki daftar referensi yang sangat baik untuk ayat terkait, tepat di sisi ayat tersebut.

 

Alkitab versi NASB secara khusus memiliki margin/index yang bagus dalam hal itu, ada versi internasional yang baru , yang juga memiliki margin/index referensi, tetapi tidak selengkap yang ada di NASB.

 

Bisa juga menggunakan komentar alkitab pada Kitab Wahyu, bukan untuk meniru interpretasi mereka, karena pada tahap awal belajar, kita jangan sampai tergiring , karena seringkali komentator mengarahkan kita ke Satu Arah, atau juga mungkin bias atau mekanisme pertahanan pribadi kita, membuat kita kurang siap untuk menerima pelajaran.

 

Akan jauh lebih baik hanya dengan mengambil komentar dan memperhatikan teks Perjanjian Lama yang menurut komentator relevan dengan Wahyu.

jangan mengambil interpretasi komentator itu, karena kita sekarang akan menjadi sarjana yang lebih baik daripada penulis komentar alkitab (bible commentary) karena banyak orang yang menulis komentar Alkitab, mereka tidak mencari sendiri Alkitab, ada banyak bukti dimana banyak komentator cukup menyalin dari komentator sebelumnya, dan memilih apa yang menurut mereka masuk akal.

 

apa yang ingin saya sampaikan adalah agar kita menjadi master atau menguasai ayat ayat Alkitab untuk diri sendiri. dan ini akan terjadi dalam hidup kita, ketika kita meluangkan waktu untuk benar-benar meneliti Perjanjian Lama, mengambil ayat-ayat yang disarankan oleh berbagai komentator, memeriksa ayat-ayat itu secara berdampingan, apakah mereka memiliki tematik verbal dan paralel struktural yang akan menunjuk pada kiasan langsung (Direct Allusion ) atau tidak.

 

Teliti dan pelajari untuk diri sendiri dan fokus kepada kiasan langsung (Direct Allusion) ketika kita menemukannya.

 

cara lain untuk menemukan kemungkinan kiasan (probable allusion) dengan menggunakan konkordansi (bible concordance). ambil kata kunci dalam bagian tertentu dan cari semua teks lain dalam Alkitab yang menggunakan kata kunci tersebut dan kita akan menemukan berkali-kali bahwa kita akan menjumpai beberapa paralel verbal, paralel tematik bahkan paralel struktural dengan menggunakan konkordansi alkitab (Bible Concordance).

 

Kita dapat menggunakan program komputer untuk proses ini. Pilih pasangan kata kunci dalam ayat yang diberikan dan cari dengan komputer dan lihat apakah ayat Perjanjian Lama menggunakan kedua istilah tersebut yang terkait satu sama lain. dan di sana kita akan menemukan kemungkinan tinggi adanya kiasan langsung (Direct Allusion).

 

sebelum kita lanjut ke Gema (Echoes), mari kita lihat sekilas beberapa kiasan (Allusion) yang menarik bagi kita yang terdapat dalam Keluaran 20:11 sebagaimana disinggung dalam Wahyu 14:7.

 

Keluaran 20:11, “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, s laut dan segala isinya, dan Ia berhenti t pada hari u ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya

 

Bandingkan dengan Wahyu 14:7, “dan ia berseru dengan suara nyaring: "Takutlah akan Allah t dan muliakanlah u Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan v langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”

 

Kita akan pelajari apakah benar ada sejumlah persamaan verbal antara Wahyu 14: 7 dan Perintah keempat (Hukum keempat).

 

Fakta bahwa Allah menciptakan langit, bumi, dan laut.

dalam kedua ayat itu Tuhanlah yang terlibat dalam Penciptaan,

dalam kedua ayat itu Tuhan menjadikan semua ini, dan kemudian juga seluruh Surga, Bumi dan lautan.

 

jadi di sini kita dapati paralel verbal (verbal paralel) yang kuat, sekitar lima kata utama (key words) yang sama.

 

Kita juga dapati paralel tematik (Thematic Paralel) yang kuat dari Tuhan yang menciptakan

(Keluaran 20:11) “Tuhan Menjadikan …….”

 

versus

 

Tuhan yang dirujuk sebagai pencipta

(Wahyu 14:7) “Sembahlah Dia yang menjadikan…..”

 

Kata Tuhan tidak dirujuk dengan cara yang sama di kedua ayat tersebut, tetapi itu adalah paralel tematik kuat (strong Thematic Paralel) dari Penciptaan dan paralel tematik yang agak lemah (weaker Thematic Paralell) dalam hal hari Sabat.

 

jadi disini kita memiliki beberapa bukti yang sangat menarik yang menunjukkan bahwa penulis kitab Wahyu memiliki hukum keempat dalam pikirannya ketika ia menulis wahyu 14: 7.

 

Namun ada satu masalah. Mazmur 146: 6 sebenarnya sama dengan Keluaran 20:11, dan sebenarnya banyak margin / index yang akan menunjuk keduanya.

 

mungkinkah penulis Wahyu menyinggung (Allude) Mazmur 146 dan bukannya Keluaran 20?

jawaban saya adalah tidak.

 

Karena ada perbedaan besar antara Keluaran 20 dan Mazmur 146 sejauh menyangkut kitab Wahyu.

 

Jika kita melihat konteks Wahyu 14:7 dan dalam pasal 12 sampai 14, kita akan dapati berkali-kali Yohanes berbicara tentang karakteristik (ciri-ciri) umat Allah yang sisa yang memelihara Hukum Allah.

 

Dengan demikian paralel struktural dibalik Wahyu 12 sampai 14, adalah sepuluh Hukum Allah.

 

Ada referensi yang berulang kali menunjuk kepada loh pertama dari kedua loh batu sepuluh Hukum Allah.

 

Kita akan tiba pada pelajaran kitab Wahyu pasal 12 - 14 pada pembahasan berikut , namun disini jelas bahwa terdapat paralel struktur ( strong structural parallel) yang sangat kuat dibalik Wahyu 12 sampai 14, karena terdapat banyak paralel verbal (Verbal Parallel) dan juga paralel tematik yang kuat (strong thematic parallel) yang menunjuk kepada hukum ke-4 di Wahyu 14:7

 

proses ini menepis segala keraguan dan memastikan bahwa hal ini adalah Kiasan Langsung (direct allusion)

 

Jadi caranya adalah, cari kata-kata yang paralel (Verbal Parallel) ,

 

jika kelihatan ada tema yang parallel, maka tanyakan, apakah kitab Wahyu itu menunjuk pada satu titik waktu tertentu? katakan titik tertentu dalam Pasal atau Ayat kitab Perjanjian Lama atau tema tertentu di perjanjian lama?

 

jika semua kepingan bukti-bukti tersebut dapat digabungkan, maka haslinya adalah Kiasan Langsung ( Direct Allusion)

 

Mazmur 146 tidak cocok untuk disebut Kiasan Langsung ( Direct Allusion) , karena lemah dalam hal Paralel Struktur ( Structural Parallel) , karena hanya ada satu referensi dari kitab Wahyu.

 

Jadi andaikan seorang kuno ( yang hidup dijaman Yohanes) yang sering mendengar Perjanjian Lama, ketika orang tersebut mempelajari topik penciptaan dalam konteks 10 hukum dan membaca Wahyu 14:7 maka orang itu akan dengan cepat mengingat Hukum hari Sabat dari kitab Keluaran pasal 20.

 

dengan demikian mencari Kiasan Langsung ( Direct Allusion) akan sangat mempengaruhi interpretasi Wahyu 13 dan 14

 

Anda dapat membaca lebih lanjut dari buku tulisan saya “what the Bible says about the End Time” chapter 11 , disitu saya mengangkat issue tersebut secara lengkap dan mendalam.

 

Video berikut juga dapat menjelaskan lebih dalam tentang Wahyu 14:7 dalam konteks Keluaran 20

https://youtu.be/bRFu7GnmeVQ

 

 

 

 

 

Echoes

Yang terakhir adalah tentang Gema ( Echoes)

Dalam kitab Wahyu, contoh Gema ( Echoes) adalah penggunaan kata kata tumbuh-tumbuhan an dan tanaman ( vegetation ) sebagai simbol mewakili umat Allah.

 

Hal itu tidak hanya terdapat dalam kitab Wahyu, tetapi kita juga dapatkan ada banyak istilah tumbuh-tumbuhan dan tanaman dalam Perjanjian Lama yang merupakan simbol umat Allah.

 

Yohanes menggunakan konsep tumbuhan dan tanaman dari Perjanjian Lama, sebagai simbol umat Tuhan.

 

konsep yang sama terjadi dalam Sangkakala ( Trumpet) yang diambil dari Perjanjian Lama.

ada 134 kata didalam perjanjian lama yang menyatakan tentang Sangkakala.

 

Sangkakala digunakan dalam upacara ibadah, dalam perang, dalam acara penobatan atau pengukuhan raja dan acara2 resmi lainnya, kita akan pelajari lebih lanjut dalam presentasi yang lebih rinci.

 

Presentasi selanjutnya kita akan pelajari kunci yang paling penting dalam melakukan interpretasi atas kitab Wahyu.

 

Jelas dalam mencoba belajar menginterpretasikan kitab Wahyu dengan benar, maka kita perlu latar belakang Perjanjian Lama yang sangat kuat. Tetapi bukan berarti ketika kita sudah menguasai perjanjian lama, otomatis kita mengerti Kitab Wahyu

 

Karena Yohanes sebagai penulis Kristen, ketika dia membaca Perjanjian Lama, dia melihat Kristus sebagai pusat dan isi dari segalanya.

 

Injil mengubah gambaran gambaran perjanjian lama, menjadi teologi kristen. Injil yang diaplikasikan ke Perjanjian Lama akan membuat perbedaan yang sangat besar bagi siapa yang ingin belajar kitab Wahyu atau kitab perjanjian lama secara keseluruhan.

 

Injil dalam kitab Wahyu adalah apa yang akan kita pelajari selanjutnya dalam presentasi 11 & 12 berikut.

 

Tags: Kitab Wahyu, nubuatan, penciptaan, BelajarAlkitab

Jon Paulien

Written by Jon Paulien