Blog

Jika Seseorang Membaca Kitab Suci Agama Lain: Dapatkah Dia Dianggap Sebagai Ilmuwan?

Jul 17, 2020 7:36:54 PM / by Blasius Abin

 

By Blasius Abin

 

Kita menyaksikan melalui sosial media (Youtube) beberapa orang mengaku sebagai ahli atau ilmuwan Alkitab agama lain.

Ada yang mengaku sebagai Kristolog (ahli tentang Kristus), ada yang mengaku sebagai ahli interpretasi atau ahli tafsir Alkitab, dan ada yang mengaku sebagai ahli Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes).

Pengakuan sebagai ilmuwan lintas agama tersebut adalah hak setiap orang, sejauh itu memenuhi kualifikasi dasar untuk menjadi seorang ilmuwan.

Fakta menunjukkan beberapa orang telah menjadi ahli Kitab Suci agama lain tanpa harus menjadi pemeluk agama itu.

Di Amerika, contohnya, ada beberapa orang yang belajar di Seminari untuk mempelajari metode interpetasi Alkitab, dan ada pula yang mengikuti berbagai field research, seperti penggalian arkeologi untuk membuktikan ajaran Alkitab tentang air bah dan umur bumi dapat dipercaya.

Walaupun mereka bukan Kristen, tetapi mereka memiliki kualifikasi akademik untuk dianggap sebagai ilmuwan.

Berbagai artikel akademik yang dipublikasi pada berbagai jurnal bereputasi adalah salah satu pembuktian bahwa mereka layak disebut ilmuwan Alkitab.

Terkait hal tersebut, tulisan ini mengajukan dua pertanyaan:

Pertama, apakah para pengkhotbah yang mengaku sebagai ilmuwan Alkitab memenuhi tuntutan kualifikasi tersebut?

Kedua, apakah pendidikan formal dan publikasi ilmiah menjadi standar seseorang dianggap sebagai ilmuwan Alkitab?

 

Menjawab pertanyaan di atas, tulisan ini dimulai dengan fenomena yang terjadi di Indonesia.

Tulisan ini tidak menelusuri jejak pengkhotbah Kristen yang menjadi ahli Al-Quran tetapi fokus pada pengkhotbah Muslim atau Mualaf yang menyebut diri mereka sebagai ahli Alkitab Kristen pada bidang Kristologi, bidang tafsir/ interpretasi, ahli Injil.

Setelah menelusuri jejak akademik dan profile beberapa pengkhotbah, maka ditemukan bahwa mereka tidak memiliki kualifikasi untuk dianggap sebagai ilmuwan Alkitab.

Jika standar penilaian adalah pendidikan (gelar akademik) atau publikasi ilmiah maka klaim mereka adalah sebuah kebohongan akademik.

Jadi, keluarga dan sahabat saya yang muslim, jangan percaya kepada pengkhotbah yang merasa diri omniscience (tahu segala sesuatu) tentang Alkitab. Mereka bukan ahli Alkitab Kristen tetapi mereka adalah pembaca Alkitab Kristen.

Metode yang mereka gunakan untuk memahami teks Alkitab jauh dari standar eksegesis.

Analoginya seperti ini:

Saya membaca Al-quran berulang-ulang tanpa memahami metode mempelajari dan memahami semantik, struktur, literal teks, bahasa, dan latar belakang sejarah, maka saya memahami Al-Quran secara dangkal.

Seperti inilah gambaran dari pengkhotbah-pengkhotbah yang menyebut diri sebagai ahli Alkitab (Kristen).

Walaupun pengkhotbah membaca Alkitab Kristen berulang-ulang tetapi tidak mempelajari dan mendalami bahasa, teks, konteks, sejarah, implikasi teologi, dan metode intepretasi, maka bacaan mereka hanya sampai pada level informative.

Pemahaman mereka tentang teks dan narasi dalam Alkitab hanya sampai pemahahman literal dan superfisial.

 

Apa kualifikasi yang komprehensif yang membuat sesorang disebut ilmuwan Alkitab?

Menjawab pertanyaan ini, saya lebih suka menggunakan istilah “Pembaca yang benar” dari pada istilah “ilmuwan.”

Alasanya sederhana, istilah “ilmuwan” berkonotasi aktivitas akademik, pendidikan formal, atau dominasi aktivitas kognitif/ akal budi untuk memahami Alkitab (baca William W. Klein, Biblical Interpretation,135).

 

Istilah “Pembaca yang benar” lebih dari sekedar apa yang dilakukan oleh seorang ilmuwan.

Orang Kristen mengerti bahwa Alkitab adalah “Wahyu” Allah kepada manusia tetapi diungkapkan melalui bahasa para penulis (“thought inspiration”).

Atas dasar itu pembaca yang benar adalah pembaca yang memiliki kecerdasan intuisi untuk mendengar, loyal, dan percaya pada Allah yang berfirman melalui teks Alkitab.

 

Jika pembaca tidak berada pada level ini, maka bacaan itu hanya bersifat informative, yaitu mendapat sebanyak mungkin informasi atau data untuk menjustifikasi pandangan subyektif pembaca atau menguatkan spirit kritik yang irrasional terhadap Alkitab (Baca Donald K. McKim, Major Biblical Interpreters, 257-281).

 

Tujuan ideal dari membaca Alkitab adalah bersifat formative (baca 2 Tim. 3:16) yaitu pembaca menempatkan dirinya pada status obyek, yaitu membiarkan kuasa firman itu mentransformasi hidup pembaca dari dalam (Baca Abin, “Formational and Informational Reading”).

 

Formula ini tidak hanya menempatkan Allah sebagai subyek yang bertindak tetapi juga firman Allah menjadi filter bagi pembaca untuk memahami teks Alkitab dengan benar.

Presuposisi ini dibangun di atas argumentasi Paulus, yaitu “hal-hal rohani hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Kor. 2:14).

Artinya, pemahaman yang benar tentang firmanNya adalah produk dari intimitas hubungan seseorang dengan Allah.

Setidaknya pembaca memiliki intensi untuk loyal pada firman yang dibaca. Di sini aspek “akal budi” atau kemampuan rasional tidak diabaikan, tetap digunakan tetapi takhluk di bawah kuasa Allah (Rom. 12:1-3).

 

Jadi para pengkhotbah yang mengaku sebagai ahli Alkitab (Kristen) tapi tidak memiliki kualifikasi akademis dalam metodologi interpretasi Alkitab, sampai kapanpun mereka tidak akan pernah memahami Alkitab dengan benar.

Alasannya sederhana, membaca Alkitab dengan motif kritik sama dengan meneguhkan sikap negasi terhadap kuasa transformasi Allah dalam Alkitab.

 

Jadi, rekomendasi saya adalah marilah kita membaca Kitab Suci masing-masing, karena di sana ada nilai transformatif yang ekslusif untuk hidup para pengikutnya.

Jika terus-menerus membaca Kitab Suci agama lain dengan motif offensive atau kritik, itu akan mempertontonkan kebodohan akademik dan kedangkalan spiritual.

 

Di sini saya memberi dua analogi atau contoh historis mengenai dua pendekatan yang berbeda di atas.

 

002-nebuchadnezzars-dream

 

Pertama, kisah dalam Daniel 2.

Pada suatu ketika raja Nebukadnezar mendapatkan mimpi, tapi dia lupa mimpi dan interpretasinya. Raja memberikan tugas kepada ahli/ ilmuwan literatur di kerajaannya untuk mengungkapkan mimpi dan interpretasi.

Bagi raja Babel mimpi dan interpretasinya adalah penting, karena itu adalah media para dewa/ Allah menyampaikan informasi tentang nasib Babel (Dan. 2:1-12).

Faktanya para ilmuwan Babel tidak dapat mengungkapkan mimpi dan interpretasinya. Ketidakmampuan mereka mengungkapkan kebodohan akademik dan kedangkalan spiritual.

Daniel seorang buangan dari Yehuda adalah orang yang percaya kepada Allah.

Walaupun pemuda Ibrani ini memiliki kecerdasan sepuluh kali lebih cerdas dari ilmuwan Babel (Dan. 1:20), tetapi referensi dan afirmasi terhadap kekuasaan Allah di hadapan raja kafir itu, secara implisit Daniel menegaskan bahwa kecerdasan akademik tidak lengkap tanpa iman, keyakinan, dan loyalitasnya kepada Allah (Dan 2:27,28).

 

Jadi, wahyu Allah kepada Nebukadnezar hanya dapat disingkapkan melalui individu yang percaya dan taat kepadaNya, yaitu Daniel, bukan ilmuwan Babel.

Sikap loyalitas dan kepercayaan Daniel diungkapkan dalam narasi, yaitu mereka “memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu.”

Daniel dijadikan Allah sebagai mediator untuk mengungkapkan rencana Allah kepada Nebukadnezar, karena Daniel memelihara kontinuitas relasi dengan Allah (baca Dan. 6:11).

 

Jadi, arogansi karena superioritas akademik dan mengabaikan kuasa Tuhan, menempatkan seorang berilmu pada level terendah, yaitu kebodohan level binatang (Baca Dan. 4:25, 32).

Jadi, kepercayaan, iman dan loyalitas kepada Allah adalah spesifikasi penting jika seseorang menjadi ilmuwan dari Allah.

Jadi, jangan pernah membaca Alkitab tanpa iman dan tanpa spirit ketaatan.

 

christ-in-the-wilderness-collage

 

Analogi Kedua diambil dari dialog antara Yesus dan Setan di padang gurun dalam Matius 4:1-7.

Dalam kisah ini Yesus berpuasa “empat puluh hari dan empat puluh malam.”

Pada situasi ini, Iblis datang kepada Yesus dengan argumentasi skeptik tentang eksistensi Yesus sebagai Allah, ia berkata, “Jika engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

Serangan verbal Setan menyentuh aspek yang paling fundamental dari kebutuhan manusia, yaitu “roti” untuk menghilangkan rasa lapar.

Respon Yesus mulai dengan pernyataan “ada tertulis” Dia merujuk pada apa yang dibaca oleh Yesus dalam Ul. 8:3 yaitu “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Pada serangan yang kedua, Setan membawa Yesus ke bubungan bait Suci dan berkata: “jatuhkanlah dirimu kebawah.”

Cobaan kedua ini diakhiri dengan pernyataan: “ada tertulis.”

Setan memberikan referensi dari apa yang dia baca dalam Maz. 91:11, 12, yaitu “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau di atas tanganNya…”

 

Pada dialog antara setan dan Yesus, narator secara implisit menggambarkan dua motif pembaca Alkitab yang berbeda: Yesus di satu sisi membaca Alkitab tetapi menghormati Allah.

Pada sisi yang lain Setan membaca Alkitab dengan motif provokatif, yaitu menanamkan sikap skeptis pada manusia tentang Allah dan Yesus sebagai Anak Allah.

Pengkhotbah atau orang Kristen sering terjebak pada spirit seperti ini dalam memahami Alkitab.

 

Dua analogi di atas membantu kita untuk membedakan pembaca yang benar dan pembaca yang bodoh.

Pada contoh di atas, kita menemukan entitas tunggal sebagai inspirator yang memanipulasi kebenaran firman Allah, yaitu Iblis.

Di taman Eden sebelum menggunakan literatur tertulis, Iblis menyerang Allah dengan menggunakan premis terbalik:

Tentulah Allah berfirman semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya” (Kej. 3:1).

 

Sering personifikasi dari cara Iblis ini menjelma melalui oknum yang mengaku diri sebagai ilmuwan Alkitab tetapi menolak kekuasaan Allah.

 

Jadi, tanpa kejujuran, tanpa iman yang taat, dan tanpa motif yang benar dalam memahami Alkitab, maka seseorang dari kepercayaan lain, yang mengaku sebagai ilmuwan Alkitab, mempertontonkan kebodohan akademik dan kedangkalan spiritual.

 

Rekomendasi saya, jika orang-orang tersebut bertekat untuk memahami Alkitab dengan benar, percayalah kepada Yesus sebagai Allah, maka Dia akan memberi kuasaNya untuk membantu pembaca memahami FirmanNya.

 

Alasannya sederhana, isi seluruh Alkitab adalah tentang Yesus sebagai Pencipta alam semesta dan Juruselamat umat manusia.

Yang dibutuhkan Allah dari pembaca Alkitab adalah kejujuran dan kerendahan hati sambil memohon kuasaNya untuk membantu kita memahami firmanNya.

 

God bless.

 

Tags: BelajarAlkitab

Blasius Abin

Written by Blasius Abin

Dosen Filsafat Universitas Klabat