Blog

Exegesis dan Struktur dalam Kitab Wahyu

Jun 7, 2020 10:00:51 PM / by Jon Paulien

 

1.8 Exegesis dan Struktur dalam Kitab Wahyu

Di sebagian besar buku Perjanjian Baru, struktur buku mengalir dari awal hingga akhir. Dimana konteks utama dari setiap bagian adalah materi yang datang sebelum dan sesudahnya.

 

Tetapi dalam Wahyu berbeda.

 

Kompleksitas yang saling terkait dari struktur kitab Wahyu sedemikian rupa sehingga konteks utama pada suatu bagian dapat berbeda sama sekali dengan bagian lain dalam kitab ini,

 

dengan kata lain, arti konteks konteks utama dari setiap ayat dalam kitab Wahyu harus datang dari kitab itu secara keseluruhan.

 

Pelajar kitab wahyu dapat dipandu oleh kata-kata, gagasan, dan struktur yang paralel dengan ayat-ayat dan struktur lain dalam kitab ini.

 

konteks utamanya tidak tepat sama dengan ayat sebelum atau ayat sesudahnya, justru pada bagian lain dari kitab wahyu ini, yang dapat membongkar atau mengungkap apa yang sedang terjadi dalam ayat yang sedang dipelajari.

 

jadi ketika mempelajari kitab Wahyu, kita perlu siap mempelajari struktur struktur yang berbeda dari kitab-kitab yang lain.

 

Saat ini kita akan meneliti fitur-fitur struktural khas kitab Wahyu. ada tiga fitur yang akan kita pelajari dalam presentasi khusus ini.

 

  • Repetitive Structure / Pengulangan
  • Duo Directionality / Dua Arah
  • Chiastic Parallels

 

Kita akan pelajari apa artinya masing-masing dan dan mencoba melihat bahwa melalui penggunaan struktur ini, kita bisa mendapatkan beberapa wawasan khusus ke dalam Kitab Wahyu dan membongkar makna penulis kitab ini ingin lebih dalam.

 

 

Repetitive Structure / Pengulangan

 

mari kita mulai dengan Repetitive Structure / Pengulangan. seperti yang sebutkan dalam presentasi sebelumnya, ada sejumlah struktur berulang dalam Kitab Wahyu.

 

Misalnya, kelompok tujuh.

 

  • Tujuh Gereja
  • Tujuh Meterai
  • Tujuh Sangkakala
  • Tujuh Cawan

 

dan akan sangat membantu ketika kita mengetahui ada pola seperti itu untuk melihat apakah ada paralel atau kontras dalam aliran pasal-pasal ini, atau dalam konten teologis mereka.

 

jika dalam membandingkan dua struktur yang tampak serupa, bila satu struktur terlihat lebih jelas atau lebih mudah dimengerti daripada yang lain, maka kita dapat menggunakan dari yang jelas untuk mempelajari yang tidak jelas, dan hal ini dapat sangat membantu dalam beberapa bagian ayat-ayat yang paling sulit.

 

mari lihat contoh berikut, antara Tujuh Sangkakala dan Tujuh Cawan.

 

Buka Alkitab anda, kita bisa mulai dengan Sangkakala pertama. Wahyu 8:7, dikatakan bahwa Malaikat pertama membunyikan sangkakala nya dan datanglah hujan es dan api bercampur darah dan dilemparkan ke bumi. sepertiga Bumi dibakar, sepertiga pohon dibakar, dan semua rumput hijau dibakar.

 

bandingkan dengan Cawan pertama. Wahyu 16:2 dikatakan "Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.. "

 

Jadi kita melihat bahwa keduanya sejajar atau parallel, sangkakala pertama jatuh di bumi, dan cawan pertama juga jatuh ke Bumi. Keduanya benar-benar paralel, dalam bahasa aslinya menggunakan kata yang sama.

berikutnya , antara Sangkakala kedua vs Cawan kedua

 

Wahyu 8 : 8 , 9 kita akan melihat bahwa Malaikat kedua membunyikan sangkakalanya dan sesuatu seperti gunung besar yang terlempar ke laut. Sepertiga bumi berubah menjadi darah, sepertiga dari makhluk hidup di laut mati, sepertiga dari kapal hancur.

 

bandingkan dengan pasal 16 :3, Malaikat kedua menuangkan isi cawannya ke laut dan laut itu berubah menjadi darah seperti orang mati dan setiap makhluk hidup di laut mati.

 

perhatikan bagaimana sangkakala kedua jatuh di laut? dan cawan kedua di laut, dan dalam kedua kasus air berubah menjadi darah.

 

jika kita melanjutkan perbandingan ini, simbol sangkakala ketiga jatuh di mata air. simbol ke empat jatuh di surga. Kelima menciptakan kegelapan. yang keenam mempengaruhi Sungai Efrat, dan yang ke tujuh adalah penyempurnaan dari segala sesuatu. terlihat jelas antara sangkakala dan cawan, dibuat secara sengaja sejajar dalam hal bahasa dan kontennya.

 

Sekarang hal ini bisa sangat membantu bagi kita dan karena kebanyakan orang yang mempelajari Kitab Wahyu akan merasa bahwa tujuh cawan itu sedikit lebih mudah untuk dipahami dari pada tujuh sangkakala,

 

dan jika itu masalahnya maka informasi yang kita peroleh melalui studi tentang cawan-cawan itu bisa diterapkan juga untuk mempelajari tentang sangkakala.

 

jadi dengan membandingkan bagian-bagian yang jaraknya terpisah hampir tujuh bab, kita dapat memperoleh informasi yang berlaku dalam dua struktur tersebut.

 

Repetitive Stucture /struktur berulang ini merupakan satu petunjuk untuk makna yang lebih dalam yang telah ditempatkan penulis dalam buku Wahyu ini.

 

Duo Directionality / Dua Arah

 

yang berikut yang agak menarik dalam Kitab Wahyu, adalah yang disebut “duo directionality :. ini adalah istilah yang panjang dan unik dan untuk beberapa Ahli Alkitab mereka harus mengembangkan istilah yang unik, yang membedakan antara hasil penelitian mereka.

 

Duo directionality, adalah ayat-ayat yang dipilih khusus dalam Kitab Wahyu yang memandang ke dua arah, yang memandang ke depan dan ke belakang.

 

ini adalah perikop-perikop yang dalam satu hal merangkum apa yang telah terjadi sebelumnya tetapi pada saat yang sama juga menunjukkan apa yang akan datang.

 

Sebagai perbandingan, kebanyakan penulis , ketika sedang menulis sebuah pasal, maka kesimpulan dari pasal tersebut akan ditempatkan pada akhir dari pasal tersebut. kemudian pada bab selanjutnya dia akan memulai dengan kata pengantar bagi pasal tersebut.

 

itulah ciri khas dari kebanyakan buku. tetapi dalam Kitab Wahyu sangat berbeda. dalam Kitab Wahyu pengantar tentang pasal yang berikutnya, sering kali tertanam dalam kesimpulan dari pasal sebelumnya.

 

dan jika kita mengabaikan prinsip itu, kita akan kehilangan petunjuk dari penulis buku wahyu tentang pentingnya apa yang akan dipelajari.

 

sebagai contoh

 

mari kita mulai dengan Wahyu 1: 19, ayat ini adalah bagian akhir dari penglihatan Yohanes di Patmos tentang Yesus Kristus dalam pasal 1. perhatikan apa yang dikatakan di sana,

 

Wahyu 1:19 "Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.

 

inilah ringkasan dari perintah-perintah yang diberikan kepada Yohanes dalam pasal 1. tuliskan apa yang telah kaulihat dan apa yang dilihat Yohanes pada dasarnya terdiri dari dua hal, yaitu apa yang terjadi sekarang dan apa yang akan terjadi kemudian.

 

jadi Kitab Wahyu pada dasarnya terdiri dari dua jenis konten. hal-hal yang sekarang dan hal-hal yang akan terjadi sesudahnya.

 

sekarang bandingkan dengan Wahyu pasal 4 : 1.

"Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini"

 

Nah, dalam bahasa aslinya, kedua bagian ini jelas paralel. Dalam kasus pertama, ia mengatakan menuliskan 2 hal : hal-hal yang ada dan hal-hal yang akan terjadi setelah hal-hal ini.

 

Sekarang dalam pasal 4:1, Yohanes dipanggil ke surga dan dia diundang, sekarang, untuk melihat hal-hal yang akan terjadi setelah hal-hal ini. hal-hal apa sajakah itu? sangat jelas adalah pesan-pesan kepada tujuh gereja dalam pasal 2 dan 3.

 

jadi di sini dengan membandingkan dua ayat yang datang pada semacam adegan antara bagian materi dan Wahyu, kita menemukan bahwa ketujuh gereja memiliki penekanan waktu dari perspektif John. Sekarang ketika datang ke tujuh gereja ini akan menjadi bagian yang sangat penting bagi kita.

 

Mari kita lanjut kecontoh lain dari Duo Directionality, Wahyu 3:21, contoh tentang bagaimana Kitab Wahyu sebagai bahan yang menunjuk ke depan dan ke belakang.

 

Wahyu 3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya

 

jika kita sudah membaca tentang tujuh gereja, kita akan dapati bahwa masing-masing gereja menerima apa yang bisa kita sebut "jalan keluar yang lebih tinggi", sebuah janji bahwa mereka yang menang akan menerima Hadiah tertentu.

 

dan karena ini adalah janji yang ketujuh dari janji-janji sebelumnya bagi para pemenang, maka ayat ini sebenarnya adalah klimaks dan kesimpulan dari pasal tentang para pemenang.

 

sebagai bagian dari Gereja ketujuh, ia datang pada akhir dan klimaks dari tujuh gereja. tetapi hal yang menarik tentang perikop ini, adalah ayat ini tidak hanya menyimpulkan apa yang telah datang sebelumnya, tetapi juga memberikan pengantar kepada pasal berikutnya yang membahas tentang Meterai dan arti dari Meterai itu.

 

pikirkan sejenak ketika kita melihat ayat ini lagi.

 

"kepada orang yang menang aku akan memberikan hak untuk duduk bersamaku di Tahta-ku sama seperti aku menang dan duduk bersama BapaKu di atas takhtanya",

 

pertanyaannya:

 

  • di mana dalam kitab Wahyu ada tentang Tahta Bapa? Itu ada di pasal 4.
  • di mana dalam kitab Wahyu Yesus bergabung dengan Bapa di atas takhtanya? itu ada di pasal 5.
  • di mana penebusan bergabung dengan Yesus di atas takhtanya? ada dalam Bab 7.

jadi kita temukan di sini dalam Wahyu 3:21, inti dari apa yang ada dalam bab 4, 5, dan 7.

 

dan kita mungkin bertanya, di mana kisah tentang umat Allah yang telah menang , di mana bahan yang menulis tetang para pemenang?

  • yaitu pasal 6. Empat Penunggang Kuda dan Tujuh Meterai yang dibuka satu demi satu.

 

Dalam Wahyu 3:21, dalam kesimpulan dari tujuh gereja, kita menemukan substansi dasar dari apa yang selanjutnya terdapat dalam pasal 4 sampai 7.

 

apa yang dapat kita pelajari belajar tentang Meterai? apa inti pesan dari Meterai? yaitu meterai berhubungan dengan umat Allah di bumi ini, dan proses bagaimana umat Allah dapat menang di Bumi ini.

 

jadi dengan memahami prinsip duo directionality, dengan bersedia mencari materi pada bagian sebelumnya yang mungkin berdampak pada apa yang berikut, kita bisa mendapatkan pemahaman yang jelas tentang Meterai dan tentang apa itu. yaitu tentang pengalaman umat Allah di Bumi saat mereka berjuang untuk mengatasi dalam pertempuran melawan kekuatan jahat.

 

mari kita lihat satu lagi contoh dari Duo Directional

 

yang terdapat dalam Wahyu 6:9 dan 10,

ini adalah meterai kelima dan di meterai kelima, kita memiliki sedikit ringkasan dari apa yang terjadi sebelumnya.

 

dalam konteks Empat Penunggang Kuda, ada banyak penganiayaan yang terjadi. Umat ​​Allah telah sangat menderita dan sekarang kita melihat klimaks dari penderitaan itu.

 

Wahyu 6 : 9,10, apa yang dia buka meterai kelima,

 

Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?

 

jadi inilah klimaks dari Empat Penunggang Kuda, kita memiliki pertanyaan ini “berapa lama oh Tuhan, engkau tidak menghakimi dan membalaskan darah kami pada mereka yang hidup di Bumi?”.

 

jawaban untuk pertanyaan ini dapat ditemukan dalam Wahyu 8:13.

 

Wahyu 8 :13 mengatakan "Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: "Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya." ”.

 

jadi disini adalah jawaban dari pertanyaan dalam Wahyu 6:10,

 

berapa lama oh Tuhan engkau menghakimi dan membalas penduduk bumi? rupanya penghuni bumi dalam Kitab Wahyu adalah ungkapan tentang orang fasik, orang-orang yang akan menganiaya dan mengganggu umat Allah. seruan itu keluar dari para Orang Suci yang mati syahid “berapa lama oh Tuhan akan membiarkan penganiayaan ini berlanjut?”

 

jawabannya datang dalam Wahyu 8:13, dalam sangkakala, Allah sedang menghakimi mereka yang telah menganiaya orang-orang kudusnya.

 

kita menemukan konfirmasi lebih lanjut untuk ini dalam Wahyu 8: 3 dan 4 yang berfungsi sebagai semacam pengantar ketujuh sangkakala. Dan dikatakan di sana dalam Wahyu 8: 3 dan 4, Malaikat lain yang memiliki pedupaan emas datang dan berdiri di altar, dia diberi banyak dupa untuk dipersembahkan dengan doa-doa semua Orang Suci, di atas altar emas dihadapan Tahta. asap dupa, bersama dengan doa orang-orang kudus, naik ke hadapan Allah dari tangan Malaikat.

 

kita melihat dalam Wahyu 6:9 dan10, doa-doa para Orang Suci mulai naik. jiwa-jiwa di bawah mezbah berseru kepada Tuhan di surga dan mereka berkata kepadanya "berapa lama, ya Tuhan?"

 

doa-doa itu Bangkit dari Bumi dan datang di hadapan altar Surgawi dalam pasal 8:3. dan apa tanggapannya?

 

Pasal 8:5, dan malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari Altar dan melemparkannya ke bumi, dan datanglah bunyi gemuruh dari Guntur, Gemuruh, kilatan petir, dan gempa bumi. respons Tuhan adalah melemparkan penghukuman ke bumi.

 

sekarang kita melihat dalam paralelnya bagian-bagian ini bahwa prinsip duo directionality sangat membantu kita untuk memahami sangkakala serta meterai. kita menemukan bahwa meterai itu berkaitan dengan pengalaman umat Allah di Bumi ini ketika mereka mengalami kesulitan dan penganiayaan.

 

di sisi lain sangkakala adalah jawaban atas doa-doa orang-orang Kristen yang sama untuk keadilan dalam situasi mereka, dan Allah menanggapi dengan mengirimkan penghukuman kepada mereka yang telah menganiaya mereka, kepada orang-orang jahat.

 

Jatuhnya hukuman ini adalah tujuh sangkakala. dan karenanya sangkakala perlu dipahami sebagai penghakiman Allah yang dicurahkan ke atas orang fasik.

 

jadi kita dapati prinsip Duo Directionality ini sangat membantu jika kita meluangkan waktu untuk mencarinya. ini memungkinkan kita untuk menemukan informasi, yang penulis tempatkan dalam ayat yang membantu kita memahami maksudnya untuk berbagai bagian.

 

 

Chiastic Parallel

 

selanjutnya kita akan pelajari struktur ketiga disebutkan sebelumnya adalah "paralel chiastic".

 

Kitab Wahyu tampaknya disusun dalam chiasm. sekarang kedengarannya seperti kata mewah dan Anda mungkin ingin tahu persis apa artinya. kata "chiasm" diambil dari bahasa Grika "X", yang merupakan "chi" dan itu menggambarkan cara berpikir, dan cara menulis yang cukup khas untuk orang-orang Ibrani tetapi cukup asing bagi kita hari ini.

 

Misalnya, sekarang ini, jika kami membuat garis besar sebuah tulisan, maka kita akan menguraikan A B C. A diikuti oleh B, B diikuti oleh C dan itulah garis besar tulisan kita.

 

tetapi dalam garis besar chiastik caranya sangat berbeda. Yaitu A B A. dengan kata lain alih-alih bergerak maju ke kesimpulan yang bisa sangat berbeda dari titik awal, dalam arti penulis membuat lingkaran penuh dan kembali ke tempat saat memulai.

 

Penulis semacam mengikatnya dan kemudian mengerjakannya kembali dan membawa kembali ke tempat awal mulai.

 

itu adalah jenis logika yang berbeda, itu adalah cara berpikir yang berbeda. alasan dari A ke B ke A. dan X (Chiastic) adalah cara yang baik untuk menggambarkannya karena dia akan berpindah dari titik A ke pusat pekerjaan dan kemudian kembali ke titik awal yang terdapat di bagian akhir.

 

bagaimana hal ini bekerja dalam praktek seperti dalam materi chiasm di awal sejajar dengan materi di akhir. dan kemudian batch kedua material sejajar dengan yang kedua dari akhir. dan paralel ketiga ke yang ketiga dari ujung dan seterusnya sampai anda mencapai pusat, dan pusat menjadi klimaksnya.

 

Dalam logika Grika ABC, klimaksnya datang pada C pada akhirnya. tetapi dalam logika Ibrani ABA, klimaks biasanya datang pada B, tepat di tengah. dan kemudian setelah membuat poin utama, penulis kembali untuk meninjau kembali bagaimana ia sampai di sana dan membantu pembaca untuk mengikat segala sesuatunya kembali dari awal.

 

Di satu sisi itu adalah perangkat yang sangat baik untuk memori, karena memungkinkan seseorang dalam mode tangga untuk mengingat Dua kali Proses dimana hal-hal datang dan kemudian melihat titik pusat sebagai titik tinggi.

 

 

 

null

 

 

bagaimana kita menemukan chiasm dalam kitab Wahyu?

 

Lihat ke Bagan diatas berjudul "struktur chiastic", kita akan melihat bahwa ada seluruh rangkaian ayat di awal dan di akhir kitab Wahyu yang paralel. .

 

Perhatikan di bawah prolog dan epilog,

 

Wahyu pasal 1 :1,

Inilah wahyu Yesus Kristus , yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.

 

Wahyu 22 : 6.

Lalu Ia berkata kepadaku: "Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.

 

kata-kata yang persis sama yang kita temukan dalam 1: 1, kita temukan di akhir buku 22: 6. ini tidak terjadi hanya sekali atau kadang-kadang, hal itu terjadi berulang kali dalam Kitab Wahyu.

 

 

Wahyu 1:3,

Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat

 

Bandingkan ayat itu dengan Wahyu 22: 7, "Sesungguhnya Aku datang segera . Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini! ".

 

dapat diperhatikan paralel antara keduanya? diberkati adalah orang yang memelihara.

 

Kemudian perhatikan ayat 10 dari pasal 22,

dia berkata kepada saya jangan menyegel kata-kata nubuat dari buku ini karena waktunya sudah dekat.

 

perhatikan bagaimana hal itu sejalan dengan pasal 1: 3? waktunya sudah dekat?

 

jadi kita temukan bahwa materi dalam pasal 1 dari Wahyu sejajar dengan materi dalam pasal 22.

 

contoh berikutnya perhatikan materi berulang kali yang ada di Tujuh Gereja memiliki paralelnya dengan yang baru yaitu Yerusalem.

 

Jadi bagian kedua dari Kitab Wahyu, ketujuh gereja itu sejajar dengan yang kedua dari yang terakhir, Yerusalem yang baru.

 

Kemudian Anda melihat bagian ketiga dari awal, yaitu meterai, dalam Wahyu 4, 5 dan 6 sejajar dengan bagian ketiga terakhir dari Wahyu yang ditemukan di Wahyu 19.

 

Professor Kenneth Strand dari Theological Seminary di Andrews University , adalah orang yang pertama kali memperhatikan paralel chiastik dalam Kitab Wahyu ini dan dia juga memperhatikan bahwa materi di bagian pertama Wahyu, bagian dari kiasme adalah semua materi yang berkaitan dengan bagian sejarah sejarah bumi, terkait dengan waktu antara Yohanes sang penulis dan kedatangan Yesus yang kedua.

 

tetapi ketika kita sampai pada bagian kedua dari Wahyu, parallel dari materi A, bagian dari Wahyu semua berurusan dengan waktu akhir dengan akhir peristiwa sejarah Bumi.

 

jadi melihat chiasm di mana bagian pertama berfokus pada sejarah secara keseluruhan, bagian kedua berfokus pada bagian paling akhir, dan di tengah - tengah nya terdapat klimaks dari buku yang ditemukan dalam pertempuran antara naga, sang binatang, dan nabi palsu di satu sisi, melawan umat Allah dan 3 Malaikat di sisi lain.

 

ketika kita sampai pada bagian kitab Wahyu itu, kita akan melihat bagaimana bagian kitab itu mengandung klimaks dan pesan sentral dari Kitab Wahyu.

 

Jadi, Wahyu secara keseluruhan berfungsi sebagai semacam kiasme raksasa, yang ditata dalam 7 bagian utama dengan sebuah epilog. dan prolog. dan kemudian bagian tengah bagian keempat adalah wahyu 12 hingga 14, di mana terdapat pesan Tiga Malaikat dan materi yang menyertainya.

 

jadi kita perlu meluangkan waktu memperhatikan garis besar itu dan saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana chiasm ini membantu dalam menafsirkan Kitab Wahyu.

 

Saya ingin membandingkan meterai-meterai Wahyu, khususnya pasal 4 sampai 6 & 7, dan pasal 19 yang bagan diatas adalah bagian dari padanan paralalel kiastik dari meterai itu.

 

pertama-tama, jika membaca Wahyu 4 & 5 dan membandingkannya dengan Wahyu 19, kita akan melihat bahwa keduanya sangat mirip dengan adegan penyembahan atau ibadah.

 

sebenarnya satu-satunya tempat dalam Wahyu di mana terdapat Penatua, empat makhluk hidup, takhta, dan bernyanyi dan memuji serta menyembah ada di meterai di satu sisi dan bab 19 di sisi lain. Bahannya sangat paralel.

 

Tetapi coba perhatikan sesuatu yang menarik. mengapa Allah dipuji dalam pasal 4 dan 5?

 

jika membaca dengan seksama, kitaakan melihat bahwa dalam pasal 4 Allah dipuji karena menjadi Pencipta, tetapi dalam pasal 5, Ia dipuji karena Yesus di kayu salib.

 

jadi ciptaan dan salib adalah alasan untuk memuji dalam Wahyu 4 & 5.

 

tetapi apa alasan untuk pujian dalam Wahyu 19? jika kitaperhatikan dengan seksama pasal itu, kita akan melihat bahwa alasan untuk memuji adalah penaklukan Babel Zaman Akhir.

 

Apa yang kita dapatkan dari paralel tentang Wahyu 4 & 5?

 

Hal itu memberi tahu kita bahwa Wahyu 4 & 5 bukanlah suatu bagian akhir zaman seperti yang diduga beberapa orang, tetapi itu adalah bagian yang menentukan nada untuk seluruh kitab Wahyu. itu adalah suatu perikop yang dibangun di atas ciptaan dan salib untuk menetapkan landasan bagi Teologi Kristen dari Kitab Wahyu.

 

itu bukan suatu bagian untuk merayakan akhir zaman, penaklukan Babel atau penghakiman akhir zaman Allah, tetapi suatu bagian yang merayakan permulaan era Kristen, kematian Kristus dan konsekuensi yang datang dari kematian itu.

 

Wahyu 19 di sisi lain datang di bagian akhir dan bagian waktu akhir kitab Wahyu, merayakan peristiwa akhir zaman dan penyelesaian kehancuran Babel.

 

Jadi dengan membandingkan meterai dalam Wahyu 19 kita dapat melihat bahwa di satu sisi, meterai adalah bagian dari bagian historis buku ini. mereka adalah bagian dari peristiwa yang terjadi pada awal zaman dan melalui zaman.

 

Sebaliknya, Wahyu 19 adalah perikop akhir zaman yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa terakhir.

 

Contoh lain, mari kita bandingkan Wahyu 6: 2,

 

Wahyu pasal 6 ayat 2 dan dikatakan Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan

 

jadi di sini kita memiliki pengendara kuda putih mengenakan mahkota dan pergi untuk menaklukkan.

 

perhatikan Pasal 19 karena kita memiliki ayat yang paralel.

 

Wahyu 19 :11 dan 12, Lalu aku melihat sorga terbuka sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri

 

Saya yakin paralelnya mudah dimengerti, masing-masing terdapat kuda putih, ada seseorang yang menunggang kuda, dan orang tersebut mengenakan mahkota,

 

dalam Wahyu pasal 6 terdapat satu mahkota, dan dalam pasal 19 ada beberapa mahkota.

 

tetapi apa yang tidak diceritakan oleh terjemahan bahasa Inggris adalah bahwa kata asli untuk mahkota-mahkota itu sama sekali berbeda.

 

Mahkota dalam Wahyu pasal 6 menggunakan bahasa Yunani, "stephanos".

 

"stephanos" bukanlah mahkota raja. Stephanos adalah medali emas Olimpiade, itu adalah hadiah yang diterima seseorang yang beprestasi dalam bidang atletik atau untuk kemenangan dalam pertempuran.

 

di sisi lain, Wahyu pasal 19, mahkota dalam bahasa Yunani adalah "deadema" . itu adalah Mahkota Kerajaan, mahkota raja.

 

penunggang kuda putih dalam Wahyu 6 memiliki mahkota kemenangan, itu adalah mahkota untuk merayakan Penaklukannya, Penaklukan apa? Wahyu Pasal 5, penaklukan di kayu salib.

 

Kristus adalah pemenang karena Salib tetapi dia belum menjadi Raja di seluruh bumi, dia telah mendapatkan hak untuk menjadi raja.

 

Dia dinobatkan di surga, dalam Wahyu 5, sebagai raja Bumi. tetapi Bumi tidak mengakui Dia sebagai raja, nanti ketika tiba pada akhir sejarah Bumi, barulah ia dapat dimahkotai dengan mahkota raja dan memerintah bersama rakyatnya di Bumi seperti yang kita lihat dalam Wahyu 21 dan 22.

 

jadi lihat bagaimana bahannya pada awal chiasm dapat dibandingkan dengan materi di akhir untuk menunjukkan beberapa kesamaan yang menarik dan beberapa perbedaan yang juga menarik.

 

kita menemukan Kristus Sang Pejuang di satu sisi dan Kristus Sang Penakluk, sang Raja, di sisi lain.

 

jika kita menelusuri Wahyu 4 hingga 6 dan terus membandingkannya dengan Wahyu 19, Kita akan melihat lebih banyak lagi dari jenis-jenis paralel ini.

 

tetapi kita akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk itu ketika kita tiba pada Wahyu 6 dan Wahyu 19.

 

untuk saat ini saya hanya ingin menegaskan bahwa dalam Kitab Wahyu ada fitur struktural khusus yang jika diteliti dengan cermat, dapat memberi Anda informasi yang luar biasa tentang isi buku.

 

kita telah pelajari 3 fitur tersebut di sini dalam presentasi ini. Repetitive Structure, Duo Directionality, dan Chiastic Structure dan melihat bagaimana dalam setiap kasus, kita dapat mengumpulkan informasi yang jelas tentang maksud penulis kitab Wahyu, dengan perhatian yang cermat .

 

dalam presentasi berikutnya kita akan melanjutkan melihat ciri-ciri khusus dari struktur Wahyu, tetapi di sana kita akan secara khusus berfokus pada bagaimana Sanctuary / tempat kudus, tempat kudus Perjanjian Lama dan berbagai layanan dan perayaannya, memberikan wawasan khusus tentang cara Kitab Wahyu terstruktur dan mereka membantu kita melihat hal-hal khusus dalam isi buku ini.

 

Tags: Kitab Wahyu, nubuatan, BelajarAlkitab

Jon Paulien

Written by Jon Paulien