Blog

APAKAH ISTILAH IBRANI MOHAMADIM (מַחֲמַדִּ֑ים) DALAM KIDUNG 5:16 SEBAGAI NUBUATAN ALKITAB TENTANG NABI MUHAMMAD?

Jul 24, 2020 9:21:52 PM / by Blasius Abin

 

By Blasius Abin

 

 

Pendahuluan

 

Beberapa ilmuwan atau pengkhotbah Muslim Indonesia membuat klaim bahwa istilah Ibrani mohamadim (מַֽמְתַקִּ֔ים) dalam Kidung 5:16 adalah nubuatan Alkitab tentang nabi Mohammad.

 

Klaim ini diungkapkan melalui sosial media (youtube), dan tidak ada artikel akademik sebagai referensi dari pihak Muslim untuk meneguhkan klaim tersebut di atas.

 

Sekalipun demikian, klaim yang disampaikan melalui sosial-media tersebut harus ditanggapi melalui studi yang mendalam (semantik, sintaks, pragmatis) terhadap teks Alkitab yang menjadi referensi utama dari klaim tersebut.

 

Tujuannya adalah supaya pendengar atau pembaca memiliki rasionalitas yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai acuan untuk membuat justifikasi apakah klaim tersebut dapat diafirmasi secara akademik atau ditolak karena produk dari pemahaman subyektif pengkhotbah yang dangkal terhadap teks.

 

Probabilitas dari motif utama klaim tersebut adalah mengungkapkan superioritas atau hegemoni dari satu agama terhadap kepercayaan lain.

 

Klaim tersebut dibuat sebagai justifikasi terhadap presuposisi dasar dari Muslim bahwa Alkitab Kristen, khususnya Perjanjian Lama, menubuatkan tentang Islam sebagai agama yang benar dan yang diwahyukan oleh Allah, jadi Muhammad adalah nabi yang benar.

 

Tidak ada yang salah dengan justifikasi tersebut, karena setiap agama di Indonesia mengajarkan nilai universal sebagai acuan dasar yang membuat satu agama/ kepercayaan secara teologis dianggap sebagai agama yang benar.

 

Pada poin ini setiap pemeluk agama wajib saling menghormati dan memberikan apresiasi tentang justifikasi tersebut.

 

Alasannya sederhana, sikap saling menghormati adalah nilai dari perbedaan yang diajarkan dalam Lima Sila dari Pancasila.

 

Selain dari pada itu, tulisan ini tidak mengabaikan fakta yang lain, bahwa Al-Quran tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membuat justifikasi terhadap kebenaran teologis yang diajarkan oleh Alkitab.[1]

 

Demikian sebaliknya, Alkitab Kristen, pada beberapa teks tertentu dalam Perjanjian Baru (Kitab Wahyu) membuat prediksi mengenai bangkitanya Arab dan Muslim.[2]

 

Problemnya adalah jika referensi teks Alkitab yang dipelajari sebagai dasar untuk membuat justifikasi terhadap argumentasi atau keyakinan tertentu tetapi tidak didasarkan pada studi teks yang mendalam, maka itu akan menciptakan persepsi teologi yang salah atau kebohongan publik.

 

Jadi, tulisan ini bertujuan mempelajari secara mendalam teks Kidung 5:16. Apakah teks tersebut secara obyektif berisi nubuatan prediktif tentang nabi Mohammad. Apakah kesimpulan dari klaim yang dibuat lahir dari proses interpretasi yang dalam dan benar.[3]

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada tiga aspek yang perlu dipelajari dalam mempelajari Kidung 5:16.

 

Pertama, menyelidiki struktur teks dan aspek semantic dari terminologi yang digunakan dalam teks.

 

Kedua, interpretasi teks berdasarkan konstruksi dan konteks literal dari teks tersebut.

 

Ketiga, sintesis dan kesimpulan.

 

 

 

 

[4]

 

song of solomons

Struktur dan Semantik

 

Kidung 5:16 adalah bagian dari gambaran hubungan yang diungkapkan dalam bentuk puitik, yaitu bagaimana mempelai perempuan memuji mempelai laki-laki (5:9-6:3).

 

Puisi tersebut fokus pada “kelebihan” (5:9) dari mempelai laki-laki (ay. 9-16), terutama dalam hal tampilan fisik atau “perawakan” (5:15).

 

Fokus pujian pada “perawakan” diungkapkan melalui istilah yang digunakan oleh raja Salomo, yaitu mata (ay.10, 12), rambut (ay. 11), pipi (ay. 13), tangan (ay. 14), kaki (ay. 15).

 

Tema dari ayat 16 keluar dari gambaran fisik atau perawakan pada ay. 9-15, yaitu fokus aspek verbal, yaitu “kata-katanya manis semata-mata.”

 

Kelebihan yang komprehensif dan sempurna tentang mempelai laki-laki oleh mempelai perempuan diungkapkan melalui pernyataan “segala sesuatu (Ibr. כֹּל, baca col) padanya menarik.”

 

Jadi, secara implisit, pada ayat 16, raja Salomo menegaskan kepada pembaca bahwa mempelai perempuan melihat “kelebihan” mempelai laki-laki tidak hanya pada faktor fisik, tetapi juga faktor “karakter” atau “moral.”

 

Bagaimana konstruksi teks tersebut, tabel berikut adalah perbandingan terjemahan Kidung 5:16 dalam tiga versi: Ibrani (BHS), Yunani (LXX), dan Inggris (NKJV):

 

BHS

חִכּוֹ֙ מַֽמְתַקִּ֔ים וְכֻלּ֖וֹ מַחֲּמַדִּ֑ים זֶ֤ה דוֹדִי֙ וְזֶ֣ה רֵעִ֔י בְּנ֖וֹת יְרוּשָׁלִָֽם׃

LXX

φάρυγξ αὐτοῦ γλυκασμοὶ καὶ ὅλος ἐπιθυμία οὗτος ἀδελφιδός μου καὶ οὗτος πλησίον μου θυγατέρες Ιερουσαλημ

NKJV

His mouth is most sweet, Yes, he is altogether lovely. This is my beloved, And this is my friend, O daughters of Jerusalem! 

 

 

Istilah Ibraniמַחֲּמַדִּ֑ים (baca: mohamadim) muncul bentuk jamak, berasal dari akar kata מַחְמָד (baca: mohemad). Bentuk jamak dari istilah tersebut muncul hanya dalam Kidung 16:5.

 

Sebaliknya kata dasar מַחְמָד dengan berbagai varian, muncul empat belas kali dalam Perjanjian Lama (Baca: 1 Raja 20:6; 2 Taw. 36:19; Yes. 65:10; Rat. 1:7, 10, 11(2x); 2:4; Yeh. 24: 16, 21, 25; Hos. 9:6, 16; Yoel 4:5).[5]

Istilah ini diterjemahkan dengan cara yang berbeda-beda dalam versi bahasa Inggris, seperti “sweet” (Kid. 5:16, NKJV), “pleasant/desirable” (1 Raja 20:6; NAS/NKJV) atau “precious/valuable” (2 Taw. 36:19, NKJV, NAS).[6]

 

Berbeda dengan terjemahan Inggris, versi Septuaginta (LXX: OT Greek) menterjemahkan istilah tersebut dengan ἐπιθυμία.

 

Secara etimologis ἐπιθυμία diterjemahkan berbagai arti dalam bahasa Inggris, seperti “desire, longing”[7] atau lust, craving, evil desire (sebagai contoh, baca 1Tim. 6:9)[8].

 

Perlu dicatat, bahwa istilah Yunani ἐπιθυμία bukan satu-satunya terjemahan untuk מַחְמָד . Contoh, dalam 2 Taw. 36:19 istilah מַחְמָד diterjemahkan ὡραῖος yang berarti “ripe” dan dalam Yes. 64:10 diterjemahkan sebagai ἔνδοξος yang berarti “more honorable.”[9]

 

Jadi, berdasarkan terjemahan di atas, maka istilah mohamadim memiliki berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris dan versi Septuaginta.

 

Variasi terjemahan tersebut bergantung pada konteks dan genre dari teks.

 

Literal konteks dan genre dari teks dapat memberikan konotasi positif atau negatif dari istilah tersebut.

 

Kitab Kidung Agung adalah salah satu dari Poetic Literature yang ditulis oleh raja Salomo dan genre dari Kidung 5:16 adalah bentuk puisi.

 

Pada bentuk puisi, selalu ada paralelisme arti dari beberapa istilah yang digunakan. Contoh, pada Kidung 5:16 istilah “sweet” (מַֽמְתַקִּ֔ים) paralel dengan “lovely” (מַחֲּמַדִּ֑ים). Perbedaannya adalah “sweet” menerangkan kata benda “his mouth” sedangkan “lovely” menerangkan “beloved” atau “my friend.”

 

Isu sentral dari persamaan ini adalah soal cakupan semantik dari dua istilah tersebut, yaitu istilah sweet menerangkan aspek verbal dari sang kekasih, sedangkan “lovely” cakupannya lebih luas jika dilihat dari konteks literal, yaitu menerangkan segala sesuatu mengenai “boleved” atau “my friend.”

 

Ini mencakup kualitas perawakan “fisik” (mata, rambut, pipi, tangan, kaki) dan kualitas “karakter” (kata-kata, pikiran, dan tindakannya).

 

Berdasarkan tema teologis kitab Kidung Agung, yaitu gambaran hubungan kasih antara Allah dengan manusia, diungkapkan melalui analogi hubungan kasih antara pria dan wanita,[10] maka dapat dikatakan, bahwa istilah מַחֲּמַדִּ֑ים menurut raja Salomo pada konteks Kidung 5:9-16 ini adalah gambaran komprehensif tentang kasih Allah, sebagai pengantin pria, kepada manusia atau umatNya sebagai pengantin perempuan.

 

 

song of solomon

Konteks Literal dan Interpretasi

 

Buku Kidung Agung dalam kanon Perjanjian Lama masuk dalam kategori Ketubim (Writtings) yang kemudian dikenal dengan sebutan Poetic Literature di samping kitab-kitab puisi lainnya dalam Perjanjian Lama.[11]

 

Pada konteks ini maka puisi yang ditulis oleh Salomo dalam Kidung 5:9-16 berisi ungkapan kekaguman seorang wanita kepada seorang pria.[12] Hal ini sering dibuat oleh raja Salomo dalam kitab Kidung Agung atau kitab puisi lainnya dalam Perjanjian Lama.

 

Contoh, raja Salomo membuat puisi untuk menggambarkan bagaimana mempelai laki-laki memuji mempelai perempuan (4:1-16), atau mempelai laki-laki dan mempelai perempuan saling memuji (2:8-17).

 

Pada konteks ini, puisi lagu dalam Kidung 5:9-16 diungkapkan dalam bentuk metaphorical language. Artinya seorang penulis (raja Salomo) mau menjelaskan sesuatu dalam gambaran figuratif (figure of association) tentang satu obyek, fakta, atau tindakan tertentu.

 

Dalam konstruksi Ibrani gambaran figuratif sering menggunakan preposisi Ibrani le (“like” atau “seperti”). Contoh dalam teks diungkapkan secara eksplisit yaitu, “seperti emas” (ay. 11); “seperti merpati” (ay. 12); “seperti bedeng rempah-rempah” (ay. 13).

 

Pada ayat 16 ungkapan metafora atau figuratif muncul secara implisit karena tidak menggunakan preposisi le, tetapi idenya jelas yaitu gambaran kebaikan dan kualitas dari sang kekasih diwakili oleh istilah “manis” (“His mouth is most sweet- מַֽמְתַקִּ֔ים).

 

Perikop Kidung 5:9-16 dimulai dengan pertanyaan retorik, “apakah kelebihan kekasihmu dari pada kekasih yang lain”? Pertanyaan retorik ini diulang dua kali pada ayat yang sama (ay. 9).

 

Dua pertanyaan ini semacam pendahuluan penting dari dialog atau percakapan di antara para wanita tentang pria yang ideal yang dimiliki oleh seorang wanita.

 

Pertanyaan tersebut menjadi acuan dari penjelasan ayat 10-16. Dengan kata lain, ayat 10-16 berisi jawaban dari sang wanita atas pertanyaan yang diberikan pada ayat 9, dengan memberikan gambaran melalui bahasa metafora atau figuratif.

 

Jawaban pertanyaan tersebut di atas adalah sebagai berikut: “kepalanya seperti emas murni” (ay. 11a); “rambutnya hitam seperti gagak” (ay. 11b); “matanya seperti merpati pada batang air” (ay. 12); “pipinya seperti bedeng rempah-rempah” (ay. 13); kakinya seperti tiang maramar putih (ay. 15a); “perawakannya seperti gunung Libanon” (ay. 15b).

 

Pada ayat 16 raja Salomo memberikan kesimpulan dari semua gambaran tersebut, sekaligus memberikan penekanan yang lebih dalam dari jawaban atas pertanyaan bagian pendahuluan (ay. 9), yaitu: “kata-katanya manis (מַֽמְתַקִּ֔ים) semata-mata.” Ini menegaskan kesempurnaan karakterisitk dari sang kekasih yang ideal itu.

 

Gambaran pada frase berikutnya pada ayat 16 yaitu “segala sesuatu padanya menarik(מַֽמְתַקִּ֔ים) adalah kesimpulan yang komprehensif dari semua deskripsi yang dibuat oleh sang mempelai wanita pada ayat 10-15.

 

Versi Inggris NKJV dari pernyataan pertama pada ay. 16 adalah “His mouth is most sweet, Yes, he is altogether lovely.

 

Istilah Ibrani מַחֲּמַדִּ֑ים (mohamadim) yang diterjemahkan sebagai, “menarik” (LAI) atau “desirable” (NAS) atau “sweet” (NKJV) pada ayat ini merupakan kata sifat yang berbentuk jamak (dari akar kata מַחְמָד ). Seperti yang dijelaskan di atas, istilah ini berfungsi untuk menerangkan segala sesuatu mengenai kata benda atau seseorang yaitu tentang “kekasih.”

 

Dari konteks literal, secara spesifik Duane Garrett menegaskan bahwa “mulut yang manis” (mohamadim) merujuk pada “kata-kata” dan “ciuman,” seperti yang dicatat pada Kidung 1:2.[13]

 

Tetapi Graham S. Ogden dan Zogbo melihat lebih dalam dari sekedar kata-kata dan ciuman.

 

Mereka menegaskan bahwa istilah “mulut” atau “kata-kata” pada ayat ini merujuk pada sesuatu yang ada di dalam mulut, yaitu rasa, kecap dan perkataan, yang mewakili karakter atau kualitas internal dari seseorang.[14]

 

Seperti perikop lain dalam kitab Kidung Agung, perikop Kidung 5:9-16 menggambarkan hubungan pria dan wanita dalam bahasa erotic.

 

Secara teologis genre ini bertujuan untuk menggambarkan kedekatan hubungan antara Allah dan manusia,[15] yaitu hubungan yang dibangun di atas kasih dan kesetiaan (bdk. Kel. 19:3-5).

 

Sekalipun teks tersebut menekankan deskripsi kualitas dan estetika dari seorang wanita tentang kualitas moral dan aspek estetika tentang seorang pria, tapi karena pernyataan tersebut adalah gambaran metafora hubungan antara Allah dan manusia, maka secara teologis istilah mohamadim pada pernyataan “he is altogether lovely” menegaskan kualitas moral Allah yang digambarkan sebagai pengantin pria dari pengantin perempuan, yaitu umatNya.

 

Redaksi sederhana dari frase bahasa Inggris “altogether” adalah “all of him” dapat diterjemahkan “he is totally” atau “segala sesuatu mengenai dia.”

 

Terjemahan ini untuk menggambarkan dimensi estetika dan kualitas yang atraktif dari seseorang yang dijelaskan yaitu “lovely.” Konsep ini sudah diungkapkan dalam Kidung 2:3.

 

Jadi, secara sederhana perempuan itu mengatakan bahwa “everything about him fills me with desire.”[16]

 

Jadi, berdasarkan interpretasi tersebut maka istilah mohamadim dalam Kid. 5:16 adalah gambaran tentang kualitas moral dari entitas tertentu (manusia atau Allah) dan bukan tentang nama dari seseorang.

 

Teologi Alkitab menegaskan bahwa gambaran tentang Allah selalu bersifat atraktif, semakin manusia menggambarkan kesempurnaanNya semakin manusia tertarik untuk mendekatinya.

 

Inilah aspek atraktif dari Allah yang diimani oleh manusia.

 

 

 

 

 

 

hebrew pendant gold love golden

Sintesis dan Kesimpulan

 

Kitab Kidung Agung adalah masuk kategori Poetic Literatur dalam Perjanjian Lama.

 

Penggunaan istilah Ibrani “lovely” (מַחֲּמַדִּ֑ים) pada genre tersebut dalam Kidung 5:16 tidak berfungsi untuk membuat nubuatan prediktif tentang seseorang yaitu nabi Mohammad.

 

Istilah tersubut bersifat adjectival artinya istilah yang berfungsi untuk menjelaskan sifat atau karakter dari entitas tertentu (manusia atau Allah).

 

Jadi, berdasarkan analisis semantik, literal konteks, struktur di atas, maka berikut ini adalah dua kesimpulan:

 

Pertama, Istilah Ibrani mohammad sebagai kata sifat dalam Kidung 5:16, yang berarti “lovely” atau “desirable” bisa menjadi arti dari nama Mohamad atau siapa saja yang memiliki sifat yang sama.

 

Tetapi teks ini tidak berbicara tentang nubuatan mengenai seseorang (nabi Muhammad) tetapi fokus gambaran estetika dan kualitas moral seseorang atau siapa saja.

 

Implikasinya jelas, semua orang bisa memiliki kualitas yang sama. Pada teks Kidung 5:16 kualitas dari “pengantin pria” adalah gambaran untuk kualitas moral dari Allah sebagai Pencipta dan Juruselamat dari pengantin wanita, yaitu umat Allah.

 

 

 

Kedua, Kitab Kidung Agung tidak berisi nubuatan predikitf tentang seorang yang bernama Mohamad.

 

Penulis Ulangan 18:18 menubuatkan tentang seorang nabi, “I will rise up for them (Jews) a prophet like you from among their brethren (Jews), and I will put My words in His mouth.”

 

Pernyataan ini berisi nubuatan tentang seorang nabi, nubuatan ini bukan nubuatan tentang nabi Mohamad, tetapi nubuatan mengenai nabi-nabi yang akan datang sebagai mediator antara Allah dan Israel, dan nubuatan tersebut digenapi melalui nabi Yesaya, Yeremiah, Yehezkiel, Danial dan sebagainya pada abad ke-9 sampai abad ke-6 BC.

 

Jika ada orang yang bernama Mohamad, nama itu memiliki konotasi yang postif, termasuk nabi Mohamad. Apa yang melebihi nama adalah karakter mohamadim, yaitu seseorang yang penuh kasih dan penuh pengorbanan. Karakter ini jauh lebih penting dari nama, dan karakter ini adalah karakter Allah yang digambarkan penulis kitab Kidung Agung dalam Kidung 5:16.

 

GOD BLESS

 

 

[1]Jacques Waardenburg, World Religions as Seen in the Light of Islam” dalam Islam: Past Influence and Present Challenge, ed. A. Welch and P. Cachia (Edinburgh University Press, 1979), 248-250; Harold Coward, Pluralisme: Tantangan Bagi Agama-Agama (Indonesia, Yog: Penerbit Kanisius, 1989), 92-93. Bdk. Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali, Translation of the Meanings of the Noble Qur’an (Madinah, KSA: King Fahd Complex Printing, nd).

[2]E. D. Piryns, “The Church and Interreligious Dialogue: Present and Future,” in The Japan Missionary Bulletin 4 (1978), 173; Robley E. Whitson, The Coming Convergence of World Religions (New York, NY: Newman, 1971), 122; Harold Coward, Pluralisme, 46-52. Ranko Stefanovic, Revelation of Jesus Christ: Commentary on the Book of Revelation (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2002), 283-307.

[3] Gerhard Pfandl, ed. Interpreting Scripture: Bible Questions and Answer, vol. 2 (Silver Spring, MD: Biblical Research Institute, 2010), 97-102.

[4]

[5] F. Brown, S. Driver, and C. Briggs, The Brown-Driver-Briggs Hebrew and English Lexicon (Peabody, Mss: Hendrickson Publishers, Inc, 2007), 554-555.

[6] Holladay, Hebrew and Aramaic Lexicon of the OT, 190.

[7] Gingrich, Greek NT Lexicon, 74.

[8] Friberg, Analytical Greek Lexicon, 185; Danker, Greek NT Lexicon, 231

[9]Bible Works 10, Gingrich, Greek NT Lexicon, 221.

[10]Andrews Study Bible (Berrien Spring, MI: Andrews University Press, 1982), 847; F. Delitzsch, Commentary on the Song of Songs and Ecclesiastes (Edinburgh: T & T Clark, 1877); G. Schwab, “Song of Songs” in Tremper Longamn III and Peter Enns, Dictionary of the Old Testament: Wisdom, Poetry & Writings (Downers Grove, Il: IVP Academic, 2008), 740-741.

[11] R. Beckwith, The Old Testament Canon of the New Testament Church and Its Background in Early Judaism (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1985; Andrew E. Hill and John H. Walton, A Survey of the Old Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1991), 20-22; Gerald A. Klingbeil, The Text and the Canon of Scripture in Understanding Scripture: An Adventist Approach, George W. Reid, ed (Silver Spring, MD: Biblical Research Institute, 2005), 91-98.

[12]Grant R. Osborne, The Hermeneutical Spiral (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1991), 183-188; Gerhard Pfandl and Angel M. Rodriguez, Reading Psalms and the Wisdom Literature, in Understanding Scripture: An Adventist Approach, George W. Reid, ed (Silver Spring, MD: Biblical Research Institute, 2005), 168-169.

[13]Duane Garrett. Word Biblical Commentary: Song of Songs/ Lamentations, Vol. 23B (Dallas, TX: Word, 2004), 112. Bdk. Robert Jamieson, A. R. Fausset, A. R. Fausset, David Brown, and David Brown. A Commentary, Critical and Explanatory, on the Old and New Testaments (Oak Harbor, WA: Logos Research Systems, Inc., 1997).

[14]Graham S. Odgen and Lynell Zogbo. A Handbook on the Song of Songs (New York, NY: United Bible Societies, 1998), 167.

[15] Informasi pendahuluan buku Kidung Agung dalam Andrews Study Bible (NKJV).

[16] Graham S. Odgen and Lynell Zogbo. A Handbook on the Song of Songs, 168.

 

 

 

 

 

Tags: Kidung Agung, Mohammadim, Salomo, BlasiusAbin

Blasius Abin

Written by Blasius Abin

Dosen Filsafat Universitas Klabat