Blog

Apa Pandangan Alkitab Tentang Kematian ?

Jul 3, 2020 11:58:47 AM / by Blasius Abin

By Blasius Abin

RATUSAN RIBU ORANG MATI KARENA PANDEMIC COVID-19:

APA PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEMATIAN?

Ketakutan terbesar orang hidup adalah “kematian”

dan kebohongan terbesar untuk orang hidup adalah ajaran tentang “kematian.”

Jika ketakutan terbesar bertemu dengan kebohongan terbesar itu akan mendorong terciptanya berbagai scientific theories dan theological presuppositions untuk mengungkapkan misteri tentang kematian dan misteri tentang kehidupan sesudah kematian. (silahkan menghubungi penulis untuk semua referensi literatur dari tulisan ini)

Apakah semua teori dan presuposisi tersebut sejalan dengan ajaran Alkitab?

Inspirator dari kebohongan besar itu (setan) pernah berkata “sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4).

evesnake

Titik awal dari kebohongan besar itu dimulai dari pernyataan tersebut.

Tulisan ini bermaksud mengidentifikasi perspektif Alkitab tentang kematian atau orang mati.

Asumsi dasar dari tulisan ini: Alkitab adalah referensi utama dari kebenaran yang diajarkan Allah (Sola Scriptura).

Jika pembaca memiliki dasar keyakinan lain, yang berasal dari literatur yang berbeda (extra-biblical literature) tentang orang mati, tulisan ini dapat dianggap sebagai substansi perbandingan dengan apa yang sudah diyakini.

Pertanyaan paling fundamental tentang kematian adalah “ke mana orang mati setelah dikuburkan?”

Jawaban paling populer dan dipercayai ribuan tahun adalah “saat manusia mati, rohnya akan hidup kembali dan meninggalkan tubuh serta melayang-layang di alam.”

Informasi pertama tentang kematian dicatat dalam kitab Kejadian.

Allah berkata: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi tentang pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16, 17).

Kalimat imperatif dalam bentuk larangan ini ditujukan kepada Adam dan Hawa. Setan sebagai tokoh antagonis mengubah presuposisi Allah tersebut dan membuat argumentasi dengan premis terbalik,

“Tentulah Allah berfirman: ‘semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?…sekali-kali kamu tidak mati’” (Kej. 3:1-5).

Artinya, Allah berkata bahwa dosa (ketidaktaatan) menyebabkan kematian, tetapi setan berkata bahwa dosa tidak menyebabkan kematian.

Terhadap argumetnasi ini, manusia hanya memiliki dua pilihan, mempercayai Allah atau mempercayai setan.

Kebohongan setan telah mengindoktrinasi banyak orang selama ribuan tahun melalui doktrin immortality of the soul (“Kebakaan jiwa”).

Istilah “jiwa” dalam Alkitab muncul 1.600 kali, dan tidak satupun kemunculan tersebut berbicara tentang “jiwa yang baka, jiwa yang kekal, atau jiwa yang tidak mati.”

Dibangun di atas doktrin “kebakaan jiwa,” banyak orang percaya bahwa setelah kematian “jiwa” manusia menuju ke “Sorga” untuk yang hidup kekal atau menuju ke “Neraka” untuk dihukum.

Pertanyaan retorik dari Ayub perlu kita dijawab “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?” (Ayub 14:14).

Nabi Yesaya menjawab pertanyaan tesebut sekaligus membuat afirmasi tentang konsep yang benar tentang kematian, Ia berkata: “orang-orangMu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersoarak-sorak” (Yes. 26:19).

Di sini Yesaya menggambarkan secara spesifik tentang kematian dengan menggunakan istilah “kubur/debu” (Ibr. aphar) sebagai locus di mana orang mati akan pergi pada saat kematian, dan istilah “bangkit” (Ibr. kum) untuk menegaskan orientasi akhir dari kehidupan sesudah kematian (kubur).

Teologi Yesaya ini sudah diantisipasi oleh penulis-penulis periode pre-exilic (sebelum pembuangan Babel). Contoh, raja Salomo berkata, “Debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pengkh. 12:7).

Pada ayat ini “debu” berhubungan dengan “tanah” dan “roh” berkaitan dengan “Allah” sebagai sumber dari mana roh itu berasal.

Definisi teologis dan filosofis tentang “roh” seperti yang dicatat dalam Pengkh 12:7 dan ayat lain, yang berkaitan dengan orang mati, menjadi episentrum perdebatan para ilmuwan Alkitab.

Berbagai argumentasi yang berbasis pada literatur extra-Biblical telah sering dibuat untuk mempertahankan berbagai presuposisi. Secara etimologis “Roh” berasal dari bahasa Ibrani “ruach” (רוּחַ) yaitu berkaitan dengan “napas” atau “bernafas” seperti “meniup.”

Versi Alkitab LXX dan NT Greek (Koine) menterjemahkan istilah tersebut dengan “pneuma” (πνεῦμα). Istilah pneuma adalah akar kata dari nama penyakit “pneumonia” (gangguan pernafasan/ paru-paru), Jadi, istilah pneumatic secara sederhana digambarkan seperti ban yang dipompa dengan “udara” atau “angin.”

Analogi ini membuat kita mengerti definisi yang dibuat oleh Ayub dalam bentuk parallelisme syair, yaitu pernyataan yang pertama mengatakan satu ide dan pernyataan kedua mengulangi ide yang sama tetapi dalam formula yang berbeda.

Ayub berkata: “Selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih ada dalam hidungku” (Ayub 27:3).

Jadi, Ayub menegaskan dalam paralelisme syarinya, bahwa “roh” itu sama dengan “nafas.”

Ketika manusia diciptakan, Allah “menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya” (Kej. 2:7). Ini menegaskan bahwa Allah menaruh “nafasNya” (Roh) kepada manusia supaya membuat dia menjadi makhluk hidup.

Jadi, “Roh” yang diberikan oleh Allah itulah yang membuat “tubuh” (debu tanah) itu menjadi makhluk hidup. Implikasinya jelas, ketika seseorang mati, maka Roh (ruach/pneuma) yang dipinjamkan Allah akan kembali kepada Allah dan tubuh akan kembali menjadi “tanah” atau “debu.”

Musa dalam Kej 2:7 mempertegas konsep ini: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup.”

Pada konteks ini, “debu tanah” atau “tubuh” tidak akan menjadi “makhluk hidup” (jiwa) jika Tuhan tidak “menghembuskan nafas hidup” dalam tubuhnya.

Artinya, “jiwa” atau “makhluk hidup” harus terdiri dari dua unsur utama yaitu “roh”/“nafas” dan “tubuh.”

Eksistensi dari “jiwa” atau “makhluk hidup” itu akan hilang ketika seseorang telah mati, karena dua unsur yang penting untuk membentuk “jiwa” telah terpisah, yaitu “roh” kembali kepada Allah dan “tubuh” kembali menjadi tanah.

Jadi, berdasarkan informasi ini, doktrin “kebakaan jiwa” adalah suatu kebohongan besar bagi manusia.

Tubuh manusia terbentuk dari unsur tanah yaitu karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, kalsium, besi, fosfor, sodium dan unsur-unsur lain yang terkandung dalam tanah.

Adam memiliki unsur ini semua tetapi belum menjadi “makhluk hidup” (jiwa) karena “ruach” atau “pneuma” dari Allah belum diberikan.

Jadi, seperti yang ditegaskan di atas “ruach” atau “pneuma” menentukan satu entitas atau seseroang menjadi “makhluk hidup.”

Ruach

Hal ini ditegaskan oleh rasul Yakobus: “tubuh tanpa roh adalah mati” (Yak. 2:26). Artinya, “debu tanah” ditambah dengan “Roh” menciptakan “jiwa yang hidup.”

Ketika seseorang mati, yang terjadi adalah kebalikannya: “Debu tanah” dikurangi “Roh” menjadi mayat.

Plato, filsuf Yunani kuno, berpendapat bahwa “jiwa manusia” tidak dapat binasa (“kebakaan jiwa”). Pandangan ini sudah dianut oleh orang Mesir, Babel, Persia empat ratus tahun sebelum Plato.

Hal ini dapat dibaca melalui ritual penyembahan kepada orang mati pada negara-negara kafir tersebut atas dasar keyakinan bahwa jiwa itu baka/ kekal. Bila referensi kita adalah Alkitab, maka pandangan tersebut bertentangan dengan Alkitab.

Istilah “roh” dalam Alkitab merujuk pada dua konsep :

  1. Pertama, digunakan untuk menjelaskan seseorang yang hidup.

Konsep ini dicatat dalam Kej. 2:7 dan Yeh. 18:4.

Allah menghembuskan nafas yang membuat manusia menjadi “jiwa yang hidup” atau “orang yang hidup.”

  1. Kedua, istilah tersebut dihubungkan dengan “jiwa,” yang dalam Alkitab bisa berarti “kehidupan.”

Yesus berkata, “barangsiapa menyelamatkan nyawanya (jiwanya), ia akan kehilangan nyawanya (jiwanya)” (Mat. 16:25, 26).

Istilah “nyawa” pada teks ini dalam bahasa Yunani adalah psyche (ψυχή) yang diterjemahkan oleh versi KJV sebagai “life” atau “soul” dan digunakan secara bergantian pada ayat tersebut (baca teks lengkap).

Atas dasar itu, Alkitab tidak pernah mengajarkan “kebakaan jiwa.” Perlu untuk diketahui, setiap orang yang setia kepada Allah akan mendapatkan “kebakaan jiwa” sebagai sebuah pemberian dari Allah ketika seseorang dibangkitkan dari kubur pada waktu Yesus datang kembali (Baca Yoh. 11:25, 26; Wah. 1:18).

Untuk hal ini Paulus berkata, “kita tidak mati semuanya, tetapi kita semua akan diubah dalam sekejap mata…dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati” (1 Kor. 15:51-53).

Daud menggambarkan konsep tersebut dalam cara yang berbeda, “apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga, lenyaplah maksud-maksudnya” (Maz. 146:3,4).

Kematian adalah “berhenti sementara” dari kehidupan atau “tidur” sementara waktu (Yoh. 11:25, 26; Wah. 1:18).

Dalam Perjanjian Baru beberapa kali Yesus menyebut kematian itu adalah “tidur” (baca Mat. 9:24; Mark. 5:39; Luk. 8:52; Yoh. 11:11, 14).

Pada kisah kematian Lazarus, Yesus mengidentifikasi “kematian” dengan “tidur” (ay. 11). Murid-muridNya berkata, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh” (Yoh. 11:12).

Pada ayat 13 Yesus menjelaskan arti frase “telah tertidur” yang disebutkan pada ayat 11, yaitu “maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam biasa“ (bdk. Ay. 14).

Dalam kisah ini, Yesus membuat mujizat dengan memberikan “kehidupan” kepada Lazarus setelah empat hari “meninggal.”

Lazarus, pada kisah ini, tidak menceritakan pengalamannya ketika dia mati setelah empat hari, karena Alkitab menegaskan bahwa ketika mati, “manusia tidak tahu apa-apa” (Pengkh 9:5).

Implikasinya jelas, jika orang mati itu “tidak tahu apa-apa” maka orang mati tidak bisa berkomunikasi dengan orang hidup atau mendoakan orang hidup.

Jika ada pengalaman “orang mati” (keluarga kita sendiri) bertemu dengan orang hidup, Alkitab menegaskan itu adalah penipuan dalam bentuk personifikasi setan menyerupai manusia (di Eden menyerupai “ular”).

Dalam nubuatan kitab Wahyu 13 ini dikenal dengan sebutan “spiritisme” (bdk. Kej. Kej. 3:4, 5; Wah. 16:14).

Yang harus kita percayai adalah seperti Lazarus “tidur” dalam kubur, tetapi kemudian “dibangkitakan” oleh Yesus, demikian juga semua orang percaya yang “tidur” (mati) akan dibangkitakan oleh Si Pemberi kehidupan.

Ini mempertegas keyakinan bahwa kematian bukan perpisahan kekal.

Paulus berkata, “kami tidak mau saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita, seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1 Tes. 4:13).

Kebohongan paling tua yang dipercayai manusia adalah ajaran tentang “Kebakaan jiwa.” Salah satu kisah yang menjadi basis ajaran “kebakaan jiwa” adalah pernyataan Yesus kepada pencuri di atas kayu salib.

Yesus berkata, “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43).

Frase Yunani semeron (“hari ini”) merujuk pada hari Jumat (Luk. 23:54).

Kita dapat menempatkan secara kronologis peristiwa kematian Yesus, yaitu Yesus mati pada hari Jumat, Yesus ada dalam kubur pada hari Sabat (Luk. 23:56b), dan pada hari ketiga, yaitu hari pertama dalam minggu itu (Minggu), Yesus bangkit (Luk. 24:1).

Tidak ada indikasi dalam teks bahwa frase semeron merujuk pada pertemuan antara Yesus dan pencuri di Firdaus pada hari Jumat. Artinya Yesus tidak berada di Firdaus pada hari Jumaat, Sabat, dan Minggu. Argumentasi ini dikuatkan oleh fakta yaitu ketika Yesus bangkit pada hari Minggu, murid-murid mau menjamahnya, tetapi Dia berkata, “Jangan engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa” (Yoh. 20:17).

Hari Jumat sampai hari minggu Yesus belum berada di Firdaus, jadi referensi teori “kebakaan jiwa” pada teks ini bertentangan dengan konteks literal dari kisah tersebut.

Pertanyaannya, jika Yesus belum kembali kepada Bapanya (Firdaus) pada hari Minggu, bagaimana Dia berkata kepada pencuri di salib pada hari Jumat, bahwa pencuri di salib itu akan berada bersama dengan Yesus pada hari itu juga (Luk. 23:43)?

Problem di sini adalah bukan pada perkataan Yesus tetapi pada pemahaman manusia terhadap perkataan Yesus, terutama soal bahasa.

Bahasa Yunani PB tidak memiliki tanda baca. Tanda baca (seperti “koma” atau “titik”) sebenarnya ditambahkan oleh para editor atau translator.

Ketika versi KJV terbit pada tahun 1611 translator mulai menempatkan tanda baca pada terjemahan agar memudahkan orang untuk membaca, seperti tanda “koma” atau “titik.”

Jadi, dalam Luk. 23:42 translator memiliki dua kemungkinan, menempatkan tanda “koma” sebelum frase “hari ini” atau sesudah frase “hari ini.”

Sebagian besar versi bahasa Inggris (seperti KJV, NKJV, NAS) menempatkan tanda “koma” sebelum frase “hari ini” dan LAI (Indoneisa) mengikuti terjemahan tersebut.

Problem penempatan koma tersebut adalah titik awal kekeliruan memahami konsep orang mati.

Jika kita mengafirmasi terjemahan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa orang mati yang setia dapat masuk sorga segera sesudah kematian.

Problemnya adalah kita menganggap Yesus melawan konsepnya sendiri bahwa orang mati kembali menjadi tanah.

Jika tanda koma ditempatkan sesudah frase “hari ini,” maka bacaannya adalah sebagai berikut: “Aku mengatakan kepadamu hari ini, (tanda koma) engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus” (Versi saya disesuaikan dengan NKJV: I said to you today, you will be with me in Paradise”).

Konstruksi ini didukung oleh konteks literal, seperti yang dijelaskan di atas, sehingga perkataan Yesus tidak bersifat kontradiktif dengan ajaranNya tentang orang mati.

Perkataan Yesus kepada pencuri di atas kayu salib sebenarnya mau menegaskan

bahwa

“hari ini” sementara Dia menderita,

“hari ini” sementara murid-muridNya meninggalkan Dia,

“hari ini” sementara engkau menghadapi penderitaan yang sama.

“Hari ini” saya menegaskan bahwa engkau akan besama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Konteks menegaskan bahwa pada hari ketiga Yesus bangkit dari kubur sebagai Pemenang, dan ini adalah asuransi kebangkitan bagi mereka yang mati dalam Tuhan.

Paulus membuat pertanyaan retorik untuk menegaskan jaminan kemenangan melalui Yesus, “hai maut, di mana sengatmu…Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kita kemenangan oleh Yesus, Tuhan kita” (1 Kor. 15:55-57).

Jadi, orang yang kita cintai meninggal karena pandemic covid-19 atau mati karena alasan apapun, bisa menciptakan dukacita yang dalam, tetapi janji kebangkitan orang mati, ketika Yesus datang, meneguhkan harapan kita semua.

God bless.

Blasius Abin

June 26 2020

Blasius Abin

Written by Blasius Abin

Dosen Filsafat Universitas Klabat